Friday, August 23Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Warga Jawa Barat Harap Waspada Pada Ular Panjang Bernama Sesar Lembang

Warga Jawa Barat Harap Waspada Pada Ular Panjang Bernama Sesar Lembang

“Ular panjang” itu bernama Sesar Lembang. Warga Kampung Muril Rahayu seperti Sumarni tidak pernah menyadari sedang tinggal di dekat “ular panjang” itu sampai pergerakan “ular” tersebut menghancurkan rumah-rumah mereka pada Minggu, 28 Agustus 2011 lalu.

Minggu sore itu, Sumarni sedang salat asar. Saat berdiri di rakaat ketiga, dia merasakan lantai rumah yang ia pijak tiba-tiba bergoyang. Akibatnya, tubuhnya jadi terhuyung-huyung. Sumarni hampir terjatuh karena terhuyung. Beruntung, dengan sigap dia meraih dan bersandar pada lemari yang ada di dekatnya. Berkat lemari itu, Sumarni kuasa menyeimbangkan tubuhnya kembali.

Tanpa lebih dulu menyelesaikan rakaat salatnya, Sumarni segera tancap gas keluar rumah. Dia masih mengenakan mukena saat berlari keluar. “Saya mau ganti baju juga panik. Jadi buru-buru keluar rumah,” kata ibu rumah tangga yang kini berusia 45 tahun itu saat ditemui kumparanSAINS, Rabu (13/2).

Rumah Sumarni rusak akibat gempa tersebut. Dindingnya retak-retak, sebagian atapnya runtuh. Tapi itu tidak seberapa parah dibanding beberapa rumah tetangganya yang sampai rusak berat atau bahkan hancur. Tempat tinggal Sumarni adalah satu dari 384 rumah di sana yang mengalami rusak ringan hingga rusak berat karena lindu tersebut.

Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lindu yang mengguncang Kampung Muril pada Ahad sore itu terjadi pada pukul 16.06 WIB. Kekuatan gempanya 3,3 magnitudo. Pusat gempa berada di kedalaman 15 kilometer. Cukup dangkal sehingga begitu dirasakan warga Muril.

Gempa

Kekuatan gempa kala itu memang tidak besar. Akan tetapi, karena lokasi Kampung Muril berada persis di jalur Sesar Lembang yang menjadi sumber lindu, gempa tersebut mampu membuat ratusan bangunan di sana rusak.

Mudrik Rahmawan Daryono, peneliti geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan gempa yang menggetarkan Kampung Muril Rahayu di Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada medio 2011 merupakan bentuk pelepasan energi Sesar Lembang dan bisa jadi pertanda adanya energi lebih besar yang bakal dilepaskannya.

Sudah lama “ular panjang” itu “tertidur tenang”. Tak ada gempa besar yang dihasilkannya lagi sejak tahun 1400-an lalu. Secara hukum alam, sesar aktif macam Sesar Lembang memiliki periode keberulangan gempa besar. Mudrik menyebutnya sebagai “ulang tahun gempa.”

Dalam penelitian yang telah dilakukannya sejak 2011, Mudrik menemukan bahwa “ulang tahun gempa besar” Sesar Lembang adalah antara 170 sampai 670 tahun sekali. “Range-nya kan panjang sekali. Nah itu kita nggak bisa presisi kapan akan terjadinya (gempa besar lagi),” kata Mudrik saat menemani tim kumparanSAINS ke lokasi sesar tersebut, Selasa (12/2).

Hasil riset Mudrik bersama tiga koleganya itu telah berhasil menembus jurnal internasional Tectonophysics pada 13 Desember 2018. Riset mereka menemukan bahwa potensi gempa besar Sesar Lembang bisa mencapai 6,5 sampai 7,0 magnitudo.

Kekuatan gempa yang sebesar itu bisa muncul bila enam bagian Sesar Lembang bergerak bersamaan. Keenam bagian “ular panjang” yang meliuk-liuk itu adalah Cimeta, Cipogor, Cihideung, Gunung Batu, Cikapundung, dan juga Batu Lonceng.

 Sesar Lembang

Meski Mudrik bisa mengestimasi besar potensi gempa akibat pergerakan “ular panjang” itu, dia sama sekali tak punya ilham untuk memprediksi waktu kejadian gempa tersebut di masa depan. Bukan cuma Mudrik. Kenyataannya, sampai saat ini tidak ada ilmuwan atau teknologi manapun yang bisa memprediksi kapan persisnya suatu gempa akan terjadi. Paling banter yang bisa ditelaah ya itu tadi, “ulang tahun gempa” dari masing-masing sesar aktif penyebab gempa macam Sesar Lembang.