Monday, October 14Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Vatikan Pun Menolak Keras Adanya LGBT Dan Sejenisnya

Vatikan Pun Menolak Keras Adanya LGBT Dan Sejenisnya

Jelang puncak peringatan 50 tahun Pride Month atau bulan perayaan kebebasan kaum Lesbian, gay, bisexual, dan transgender (LGBT), otoritas tertinggi Katolik di Vatikan, mengumumkan larangan dan pandangan resmi tentang identitas gender.

Dalam dokumen resmi setebal 31 halaman yang dirilis pekan lalu, Vatikan resmi menolak  #transgender dan menolak gagasan bahwa orang dapat memilih atau mengubah jenis kelamin mereka. Dokumen ini merupakan pedoman pengajaran untuk disebarluaskan ke gereja Katolik sedunia.

Dokumen yang dirilis Senin (10/6/2019) itu, berjudul; Male and Female He Created Them, Pria dan Perempuan Dia Menciptakan Mereka. Pedoman ini telah dikeluarkan oleh Kongregasi untuk Pendidikan Katolik sebagai instruksi pengajaran bagi mereka yang bekerja dengan anak-anak. Dokumen itu juga menegaskan tentang misi penciptaan dan pasangan “sepadan dan saling melengkapi” adalah pria dan wanita.

Dilansir BBC, Senin, Paus Fransiskus berulangkali berargumen tentang posisi bahwa orang tidak dapat memilih jenis kelamin mereka. Dokumen ini pun menegaskan seperti apa posisi #Vatikan terhadap kaum transgender. Pandangan Vatikan ini dikecam oleh kelompok LGBT Catholics, yang mengatakan pandangan ini mendorong kebencian dan kekerasan terhadap komunitas LGBT.

Bagi Vatikan,  pandangan modern bahwa identitas gender adalah pilihan pribadi. Menurut Vatikan, pandangan tersebut didasarkan pada konsep kebebasan yang ambigu, membingungkan. Vatikan menyatakan gender ditentukan oleh Tuhan, bukan individu. Menurut Vatikan, debat tentang identitas gender modern sudah tuntas.

Jika LGBT tetap ada di muka bumi, itu akan “memusnahkan konsep alam”, menyebabkan krisis pendidikan, dan menghancurkan keluarga. Pernyataan itu datang tanpa peringatan dan pada waktu yang tak diduga – Bulan Kebanggaan LGBT- yang juga 50 tahun sejak kerusuhan Stonewall tahun 1969 – salah satu momen paling penting dalam sejarah gay.

Pride Month, diperingati sepanjang Juni, dan puncaknya 28 Juni, adalah bulan ‘perlawanan’ kaum LGBT atas dogma masyarakat dan agama. Pride Month didokumentasikan merujuk kerusuhan yang dipantik kaum LGBT di  Stonewall Inn, sebuah bar kaum gay  di Jalan  Christopher No 43, Greenwich Village, Manhattan, New York City, Amerika, 50 tahun lalu. Sejarah mencatat, inilah kerusuhan kaum gay terbesar di dunia.

Empat bulan kemudian, tepatnya 2  November 1969, aktivis LGBT Craig Rodwell, dan sejumlah pasangan lain seperti Fred Sargeant, Ellen Broidy, dan Linda Rhodes, kembali menggelar long march protes, untuk membuat resolusi  Eastern Regional Conference of Homophile Organizations (ERCHO)  di Philadelphia.

Di Asia Tenggara, khususnya di Brunei, pernyataan dari Vatikan ini, juga sekaligus menguatkan kebijakan Sultan Brunei, yang mengusulkan hukuman Hukuman Rajam LGBT di Brunei Darussalam. Meski kemudian, pernyataan itu jedi kontroversi dan membuatnya mendapat kecaman internasional, dan pencabutan gelar kehormatan akademik dari sebuah universitas di Inggris.

Di Indonesia sendiri, diskursus tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender)  kerap mencuat seiring kontroversi legalisasi LGBT di Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim. Pro-kontra sudah pasti mengiringi isu LGBT. Secara garis besar, kubu yang pro LGBT mendasarkan pendapatnya pada hak asasi manusia; sedangkan kubu yang kontra LGBT mendasarkan pendapatnya pada nilai-nilai normatif, terutama norma agama.

Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj, MA, Ketua Umu PB Nahdlatul Ulama (NU), ormas Islam terbesar di Indonesia, dalam sebuah artikel-nya menegaskan keberadaan kaum homoseks senantiasa dihubungkan dengan contoh historis kisah perilaku umat Luth. Mirip dengan pandangan Gereja Vatikan, Islam menegaskan Tuhan sangat murka terhadap kaum Nabi Luth yang berperilaku homoseksual.

Kemurkaan Tuhan itu diwujudkan dengan menurunkan hujan batu dari langit dan membalikkan bumi. Akhirnya kaum Luth pun hancur lebur, termasuk istrinya, kecuali pengikut yang beriman pada Luth.

Kisah ini dipaparkan dalam al-Quran surah al-’Araf ayat 80-84, al-Syu’ara ayat 160, al-‘Ankabut ayat 29 dan al-Qamar ayat 38. Praktik homoseksual umat Nabi Luth ini, seperti juga dinyatakan oleh Ali al-Shabuni dalam kitabnya Qabas Min Nur al-Quran, dianggap perilaku umat yang paling rusak sepanjang sejarah umat para nabi.