Thursday, July 18Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Tradisi Di Jepang Ini Memperbolehkan Membuang Orang Tua Renta

Tradisi Di Jepang Ini Memperbolehkan Membuang Orang Tua Renta

Pada zaman Jepang kuno, ketika musim paceklik tiba, peristiwa gagal panen mendera dan penduduk kekurangan bahan makanan, lahirlah sebuah tradisi bernama Ubasute. Secara harafiah, Ubasute dalam bahasa Jepang diartikan sebagai pembuangan.

Saking bencinya, ia membuat peraturan untuk membuang orang tua yang telah berusia lebih dari 70 tahun ke pengasingan. Orang-orang yang tidak mau mengikuti peraturan raja akan dihukum berat. Untuk itu, semua orang mau tidak mau mengikuti peraturan raja meskipun mereka tak ingin.

Namun, salah satu menteri raja sangat mencintai ibunya. Sehingga saat sang ibu genap berusia 70 tahun, ia menggali ruang rahasia di rumahnya dan kemudian menyembunyikan sang ibu. Hingga suatu hari, penguasa kerajaan tetangga mengirimkan teka-teki berupa dua ekor kuda identik pada raja.

Raja diberikan kesempatan satu kali menebak untuk mencari tahu, yang mana induk kuda, dan yang mana anaknya. Apabila raja gagal menjawab, maka kerajaannya akan diserang. Raja yang merasa daerah kekuasaannya terancam meminta nasihat dari pendeta dan para menteri.

Mendengar permintaan raja, kemudian salah seorang menteri memohon izin untuk mencari tahu arti teka-teki tersebut pada seseorang yang ia kenal. Ia kemudian mencari tahu jawabannya dari sang ibu.

Ibu tua yang renta itu kemudian menjawab bahwa induk kuda pastilah kuda yang akan mundur dan membiarkan kuda lainnya makan duluan apabila ia diberi makan. Jawaban ibu ternyata memberikan kelegaan. Raja mampu menjawab dengan benar.

Raja yang terkesan meminta menterinya bercerita dari mana ia mendapat jawaban teka-teki sulit ini. Menteri raja tersebut mengakui perbuatannya yang mengingkari peraturan raja dan menyembunyikan ibunya.

Mendengar hal itu, raja tak marah, ia malah mencabut peraturannya, dan mulai menghormati setiap orang tua dengan taat serta cara yang tepat. Mitos lainnya bercerita tentang musim kemarau atau kelaparan yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Bisa akibat letusan gunung berapi seperti yang terjadi pada Gunung Asama di tahun 1783 yang memicu kelaparan besar, hingga Tenmei atau datangnya serbuan serangga pemakan tanaman yang membuat rakyat gagal panen.

Karena kondisi ini, mau tidak mau, penduduk Jepang melakukan Ubasute untuk mengurangi biaya dan ‘mulut’ yang perlu diberi makan ketika persediaan bahan makanan sangat terbatas. Biasanya dilakukan oleh anak laki-laki dengan cara menggendong ibu mereka di atas punggung.

Para pria ini kemudian akan membawa orang tua mereka ke gunung atau hutan lebat dan meninggalkannya sendirian, baik dengan sedikit bekal makanan atau tidak. Sang ibu kemudian akan menemui ajal karena kelaparan, dehidrasi, hipotermia, serangan binatang buas atau kombinasi hal tersebut.

Tak sepenuhnya orang tua yang ditinggalkan mengalami kepikunan, terkadang ada saja yang masih memiliki kemampuan mengingat yang baik dan mungkin masih bisa turun gunung untuk kembali ke rumah. Tapi memilih untuk tidak melakukannya sebagai bentuk pengorbanan bagi anak dan keluarganya.

Mitos atau Fakta?

Tak cukupnya bukti sejarah terkait praktik Ubasute membuat tradisi ini lebih diyakini sebagai cerita rakyat atau dongeng belaka. Walau begitu, nyatanya tradisi Ubasute yang diceritakan dalam budaya Jepang malah menjadi ilham atau ‘inspirasi’ bagi kasus Ubasute sejenis yang dilakukan di dunia nyata.

Tradisi Ubasute bahkan pernah menjadi ide sebuah film berjudul ‘The Ballad of Narayama’ yang rilis pada tahun 1983. Film tersebut menceritakan kisah seorang ibu yang tinggal bersama anaknya di sebuah desa dekat pegunungan.

Pada abad 19, kala desa tersebut mengalami masa sulit, semua orang yang berusia 70 tahun diharuskan mengasingkan diri ke puncak gunung untuk menghabiskan akhir hidup. Mau tidak mau, suka tidak suka, sanggup tidak sanggup.

Dilansir South China Morning Post, pada tahun 2018 lalu, seorang wanita ditangkap polisi karena membuang ayahnya yang telah renta dan menderita Alzheimer di stasiun layanan jalan tol. Ritsuko Tanaka (46) dari Otsu, Prefektur Shiga mengakui perbuatannya karena mengaku tidak mampu mengurus sang ayah.

Sedangkan pada tahun 2015, seorang pria bernama Katsuo Kurokawa (63) membawa kakaknya, Sachiko, yang cacat ke lereng gunung di Prefektur Chiba setelah gempa bumi menghancurkan rumahnya pada Maret 2011. Sachiko kemudian diperkirakan tewas di Sungai Obitsu tak lama setelah ditinggal sang adik.

Kasus-kasus ini kemudian menimbulkan pro dan kontra di antara masyarakat. Beberapa menolak mengerti alasan para pelaku dan menganggap mereka sebagai manusia yang tidak tahu diri atau tidak tahu berterima kasih.

Karena tidak mau berusaha melakukan yang terbaik ataupun berkorban demi orang tua atau saudaranya, seperti orang tua yang telah melakukan apapun untuknya ketika mereka masih kecil. Namun, ada pula pihak-pihak yang berpendapat bahwa alasan mereka tidak bisa serta-merta disalahkan.

Ketimbang melakukan pembunuhan untuk mengakhiri nyawa ibu, ayah, atau sanak saudaranya karena keterbatasan kemampuan ekonomi dan ketidakmampuan mengurus, meninggalkan mereka bisa jadi jalan terbaik yang bisa ditempuh. Dan wajar saja, hingga saat ini, praktik Ubasute modern ini masih menjadi hal yang kontroversial.

Ubasute sendiri bukanlah satu-satunya. Pada masa Romawi kuno dikenal sebuah upacara pembunuhan yang melemparkan pria berusia lebih dari 60 tahun ke Sungai Tiber. Di India, ada praktik euthanasia (suntik mati) secara sukarela yang dilakukan secara ilegal, tetapi telah menjadi rahasia umum yang dikenal sebagai Thalaikoothal.

Thalaikoothal dilakukan oleh anggota keluarga yang lebih muda untuk membunuh anggota keluarga yang telah lanjut usia sebagai wujud belas kasihan. Untuk meringankan penderitaan orang tua yang sakit atau cacat akibat menderita terlalu lama. Sedangkan masyarakat Eskimo dan Inuit punya kebiasaan untuk berjalan jauh di tengah hamparan es untuk meninggalkan anggota keluarga yang telah renta.