Wednesday, June 3Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Terungkap Sudah Identitas Para Bos Besar Gojek Dari Bocoran Dokumen

Terungkap Sudah Identitas Para Bos Besar Gojek Dari Bocoran Dokumen

Sejak pertama kali didirikan pada 2010, perusahaan teknologi ride sharing Gojek telah berkembang menjadi salah satu startup unicorn (valuasi di atas 1 miliar dollar AS) di Indonesia. Setelah melalui sejumlah sesi pendanaan yang mampu meraup dana triliunan rupiah, melibatkan berbagai investor terkenal seperti Google, Tencent, JD, hingga Astra dan juga GDP Venture, namun belum banyak yang mengetahui struktur internal dari Go-Jek.

Belakangan ini telah beredar bocoran informasi dari firma konsultasi investasi Momentum Works mengenai hal itu. Dokumen tersebut diketahui berasal dari berkas-berkas yang telah diserahkan Go-Jek dalam proses sesi pendanaan terkini.  Informasi dari Momentum Works telah membeberkan sebagian komposisi dewan direksi dan juga dewan komisaris Go-Jek, berikut adalah beberapa pemegang sahamnya.

Susunan dewan direksi

Menurut keterangan dari Momentum Works yang dihimpun oleh KompasTekno dari Deal Street Asia, hari Selasa (27/11/2018), CEO sekaligus pendiri Go-Jek yaitu Nadiem Makarim duduk di kursi dewan direksi bersama dengan enam orang lain yang sebagian besar merupakan koleganya. Nadiem disebutkan juga memiliki 58.416 lembar saham atau sekitar 4,81 persen dari total saham Go-Jek. Ia merupakan individu pemegang saham terbesar di perusahaan.

Selain Nadiem, anggota dewan direksi lain termasuk Chief Information Officer Go-Jek, Kevin Aluwi yang juga memegang 205 lembar saham. Ada pula Kevin yang pernah bekerja dengan Nadiem di e-commerce Zalora pada tahu 2012. Lalu ada dewan direksi yang juga diisi oleh Presiden Direktur Go-Jek, Andre Soelistyo. Andre diketahui bergabung dengan Go-Jek pada 2016 dari firma investasi Northstar Group yang telah berinvestasi di Go-Jek pada tahun 2015 dan pernah juga bekerja di startup fintechKartuku. Go-Jek telah mengakuisisi Kartuku pada tahun 2017.

Kemudian, ada pula Chief Commercial Officer, Antoine de Carbonnel yang juga memegang 1.923 lembar saham. Seperti halnya Andre, Carbonnel juga bergabung pada tahun 2016 dan juga pernah menjadi presiden direktur di Kartuku. Tiga anggota dewan direksi yang lainnya adalah Hans Patuwo yang juga merupakan principal firma konsultasi McKinsey tempat Nadiem sempat bekerja selama tiga tahun disana, serta Monica Lynn Mulyanto dan juga Thomas Kristian Husted. Ketiganya ternyata tidak memiliki saham di Go-Jek.

Susunan dewan komisaris

Selain di dewan direksi yang ada, menurut informasi dari Momentum Works pula, Nadiem ternyata juga menduduki kursi dewan komisaris sebagai ketua. Ada sekitar sembilan anggota di dewan komisaris yang bertindak sebagai perwakilan dari para investor besar. Anggota dewan komisaris Go-Jek mencakup Presiden Direktur Astra International, Prijono Sugiarto; Direktur Toba Bara, Pandu Patria Sjahrir; CEO Blibli.com, dan COO GDP Venture, Kusumo Martono.

Kemudian ada pula Managing Director and Head of Southeast Asia Warburg Pincus, Jeffrey Perlman; George Raymond Zage III dari Farallon Capital Asia, Principal Capital Group, Hotak Chow; Zhahui Li dari Tencent Investment; dan juga Direktur Temasek, Pradyumna Agrawal. Sesuai dengan adanya ketentuan perseroan terbatas di Indonesia itu, Go-Jek juga memiliki struktur organisasi yang terdiri dari pemegang saham, dewan komisaris, dan juga dewan direksi.

Dewan direksi Go-Jek selama ini bertanggung jawab atas manajemen dan juga operasional perusahaan. Sementara itu, dewan komisaris melakukan berbagai pengawasan terhadap pengurusan perusahaan oleh para dewan direksi. Tanggung jawab lain dari dewan komisaris termasuk meninjau rencana kerja dewan direksi, dan menyusun laporan tahunan untuk rapat pemegang saham. Ada pula kewenangan untuk menentukan remunerasi dan juga memberhentikan para anggota dewan direksi.

KompasTekno telah meminta tanggapan dari Go-Jek mengenai informasi dari Momentum Works di atas, namun sampai saat ini belum berhasil memperoleh keterangan. Soal pendanaan yang didapat Go-Jek, dalam sesi pendanaan terkini yang diinisiasi pada Oktober 2018, Go-Jek disinyalir bakal mendapat kucuran dana segar antara 1,5 miliar hingga 2 miliar dollar AS. Sesi pendanaan itu membuat valuasi Go-Jek diprediksi bakal ikut terdongkrak menjadi sekitar 10 mililar dollar AS, atau lebih dari Rp 145 triliun.