Monday, June 17Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Ternyata Tsunami Selat Sunda Sudah Diprediksi Enam Tahun Lalu

Ternyata Tsunami Selat Sunda Sudah Diprediksi Enam Tahun Lalu

Pada tahun 2012, ternyata ada studi yang menunjukkan potensi tsunami bila longsor Gunung Anak Krakatau terjadi. Studi ini bertajuk “Tsunami Hazard Related to a Flank Collapse of Anak Krakatau Volcano, Sunda Strait, Indonesia.” Studi ini dilakukan oleh peneliti AS dan Prancis. Penelitian ini menunjukkan bahwa terjadinya longsoran lereng di sebelah barat daya Anak Krakatau akan memicu gelombang ombak dengan tinggi 43 meter. Gelombang itu akan tiba di sekitar Anak Krakatau dalam waktu kurang dari satu menit.

Gelombang ini bisa merambat melintasi Selat Sunda. Gelombang pertama akan mencapai kota-kota di pantai barat Jawa setelah 45 menit, dengan amplitudo maksimum antara 2,9 meter di Carita dan 3,4 meter di Labuhan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Indonesia, telah mengatakan tsunami Selat Sunda Sabtu lalu yang menewaskan sedikitnya 373 orang, disebabkan oleh tanah longsor terkait aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Mereka juga mengatakan tanah longsor kemungkinan terjadi di lereng curam gunung berapi Anak Krakatau, yang kemudian memicu tsunami. Menurut penjelasan Gegar Prasetya, salah satu pendiri Pusat Penelitian Tsunami Indonesia, tsunami Selat Sunda kemungkinan disebabkan oleh runtuhnya porsi tanah (flank collapse) di lereng gunung Anak Krakatau, demikian seperti dikutip dari ABC.net.au, hari Selasa (25/12).

Flank collapse itu mungkin saja disebabkan oleh adanya sebuah letusan Anak Krakatau, yang kemudian memicu longsor porsi tanah bagian atas gunung atau porsi tanah di bawah lautan. Material yang telah jatuh ke laut kemudian mampu menghasilkan gelombang tsunami. “Ini menyebabkan tanah longsor bawah laut dan pada akhirnya menyebabkan tsunami,” kata Dwikorita Karnawati, kepala BMKG seperti dikutip dari The Guardian.

Gambar yang diambil oleh satelit Sentinel-1 Badan Antariksa Eropa (ESA) juga menunjukkan sebagian besar sisi selatan gunung Anak Krakatau telah longsor ke laut, kata para ilmuwan. Kendati pun demikian, hipotesis bahaya flank collapse Anak Krakatau yang mampu menyebabkan tsunami ternyata telah ‘diprediksi’ oleh sebuah buku ilmiah yang sudah dipublikasikan pada tahun 2012 silam –kurang-lebih enam tahun pra-tsunami Selat Sunda.

Buku itu berjudul “Natural Hazards in the Asia–Pacific Region: Recent Advances and Emerging Concepts” yang ditulis oleh JP Terry dan J Goff, dan dipublikasikan oleh The Geological Society of London. Mengutip abstrak bab yang diketahui berjudul “Tsunami hazard related to a flank collapse of Anak Krakatau Volcano, Sunda Strait, Indonesia” yang ditulis oleh T. Giachetti, R. Paris, K. Kelfoun, dan B. Ontowirjo, para peneliti ternyata telah ‘mewanti-wanti’ mengenai bahaya longsoran Anak Krakatau yang berpotensi memicu tsunami.

Berikut petikan abstrak dari bab buku tersebut :

Pemodelan numerik dari destabilisasi parsial yang cukup cepat dari Anak Krakatau (Indonesia) dilakukan untuk menyelidiki tsunami yang dipicu oleh peristiwa ini. Anak Krakatau, yang memang sebagian besar dibangun di dinding timur laut curam dari kaldera letusan 1883 Krakatau, berstatus aktif di sisi barat daya-nya (pasca-1883) yang membuat gunung itu tidak stabil.

Keruntuhan lereng (flank collapse) hipotetis 0,280 km3 yang memang diarahkan ke barat daya akan memicu gelombang awal setinggi 43 m yang akan mencapai pulau Sertung, Panjang dan Rakata dalam waktu kurang dari 1 menit, dengan amplitudo dari 15 hingga mencapai 30 m. Ombak ini juga akan berpotensi berbahaya bagi banyak kapal wisata kecil yang bersirkulasi di, dan sekitar, Kepulauan Krakatau.

Gelombang kemudian akan langsung merambat secara radial dari daerah tumbukan dan melintasi Selat Sunda, dengan kecepatan rata-rata 80-110 km j − 1. Tsunami akan bisa mencapai kota-kota yang terletak di pantai barat Jawa (misalnya: Merak, Anyer dan Carita). 35 hingga 45 menit setelah mulainya keruntuhan, dengan amplitudo maksimum dari 1,5 m (Merak dan Panimbang) hingga 3,4 m (Labuhan).

Karena banyak infrastruktur industri dan juga wisata terletak dekat dengan laut dan pada ketinggian kurang dari 10 m, gelombang ini menghadirkan risiko yang tidak dapat diabaikan. Karena banyak pula refleksi di dalam Kepulauan Krakatau, ombak bahkan juga akan mempengaruhi Bandar Lampung (Sumatra, sekitar 900.000 jiwa) setelah lebih dari 1 jam, dengan amplitudo maksimum adalah 0,3 m.

Gelombang yang bisa dihasilkan akan jauh lebih kecil daripada yang terjadi selama letusan Krakatau 1883 (sekitar 15 m). Deteksi cepat keruntuhan (flank collapse) oleh observatorium gunung berapi, bersama juga dengan sistem peringatan yang efisien di pantai, mungkin akan mencegah peristiwa hipotetis ini menjadi mematikan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho juga mengatakan Indonesia tidak memiliki sistem peringatan dini untuk tanah longsor atau letusan gunung berapi. “Sistem peringatan dini saat ini adalah hanya untuk aktivitas gempa bumi,” tulisnya di Twitter.

“Indonesia harus membangun lagi sistem peringatan dini untuk tsunami yang ditimbulkan oleh tanah longsor bawah laut dan letusan gunung berapi. Tanah longsor dapat memicu tsunami Maumere 1992 dan tsunami Palu 2018.”

Dia juga mengatakan jaringan pelampung (buoy) tsunami Indonesia belum beroperasi sejak tahun 2012. “Vandalisme, anggaran terbatas, dan juga kerusakan teknis berarti tidak ada pelampung tsunami saat ini,” kata Sutopo. “Mereka sangat perlu dibangun kembali untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami Indonesia.”