Wednesday, November 20Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Ternyata Orang Yang Sering Bohong, Punya Hasrat Seksual Tinggi

Ternyata Orang Yang Sering Bohong, Punya Hasrat Seksual Tinggi

Merasa terangsang atau lagi punya hasrat seksual tinggi ada tanda-tandanya, gaes. Salah satu tanda kalau hasrat seksual lagi tinggi adalah, seseorang cenderung lebih sering bohong. Yap, menurut studi dari University of Rochester, Amerika Serikat, seseorang yang lagi punya hasrat seksual tinggi akan lebih sering bohong dan berkata apa aja kepada pasangan, asalkan bisa memenuhi hasratnya.

“Ketika ada kesempatan untuk memenuhi rangsangan itu, seseorang bakal menyesuaikan sikapnya, memperindah kata-katanya, dan kadang berbohong kepada pasangan,” kata peneliti, dilansir New York Post.

Untuk mendapatkan kesimpulan ini, tim riset meneliti perilaku 600 orang saat berinteraksi dengan lawan jenis. Mereka diminta untuk mengisi kuesioner, dan satu grup diberikan gambar-gambar yang mengandung unsur seksual, sementara grup lainnya enggak.

Peneliti menemukan, mereka yang terpapar gambar berunsur seksual cenderung punya opini berbeda, dari yang sebelumnya mereka ungkapkan lewat kuesioner. Para responden juga berbohong di beberapa hal, kayak apakah mereka mau berhubungan sama seseorang yang rajin olah raga atau enggak.

“Berbohong ini dianggap sebagai sikap yang enggak masalah demi memberi kesan ke lawan jenis,” jelas peneliti. Enggak cuma pas lagi punya hasrat seksual tinggi, seseorang juga cenderung berbohong dalam beberapa topik –seperti soal mantan pacar– ketika lagi ngobrol sama orang cantik atau ganteng.

“Orang bakal melakukan apa aja biar bisa nyambung sama orang asing yang mereka nilai menarik. Karena ketika sistem seksual lagi aktif, kamu bakal merasa terpacu untuk memberikan sisi terbaik dari dirimu. Ini berarti, kamu bakal ngomong apa aja asal terlihat lebih baik,” pungkas peneliti.

Bagaimana Cara Mengubah Pasangan?

Jika pertanyaan terpopuler kaum lajang adalah seputar bagaimana cara mendapatkan pasangan, pertanyaan terpopuler kaum berpasangan (baik pacaran atau menikah) adalah seputar bagaimana mengubah sikap buruk pasangan agar jadi hilang dan lebih baik.

Kedua pertanyaan itu sepertinya tidak berhubungan, namun berdasarkan pengalaman saya, jawaban pertanyaan pertama itu akan menentukan seberapa cepat dan seberapa sering kita akan terbentur pertanyaan kedua.

Seseorang yang mencari pasangan dengan cara sembarangan (baca: jadi orang apa adanya sehingga dapat pasangan yang apa adanya juga) tentu akan bertemu jauh lebih banyak kekecewaan dan ketidakbahagiaan di sepanjang hubungan itu.

Seseorang yang menikah ugal-ugalan (baca: tanpa melalui masa pacaran yang cukup panjang) tentu akan dihadapkan dengan lebih banyak kejutan, bentrokan, dan berbagai ketidakcocokan lainnya. Seseorang yang nekat memacari (atau menikahi) orang payah/brengsek dengan harapan bisa memperbaiki dia tentu akan dihajar realita keras bahwa kelakuan pasangan semakin lama justru semakin parah menjadi-jadi.