Friday, July 19Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Ternyata Dia Korban Pertama Penembakan Di Mesjid Selandia Baru

Ternyata Dia Korban Pertama Penembakan Di Mesjid Selandia Baru

Daoud, pengungsi dari Afganistan berusia 71 tahun yang menyambut teroris di pintu masjid New Zealand dengan senyum dan berkata ramah “Welcome brother” (selamat datang saudaraku). Akan tetapi ucapan ramah tersebut dibalas dengan berondongan peluru dari senjata si teroris. Semoga khusnul khatimah dan semoga Allah menempatkan beliau disisi yang paling indah.

Daoud Nabi adalah seorang insinyur. Daoud bersama dengan keluarganya telah membangun kembali kehidupan baru di Selandia Baru. Ia telah mendirikan sebuah masjid dan menjadi presiden asosiasi Afghanistan setempat. Keluarganya juga makmur dan tumbuh, hingga ia memiliki sembilan cucu. Itu yang ia jelaskan kepada NBC News, di salah satu rumah sakit setempat.

Beberapa jam tidak juga mendengar kabar dari ayahnya maka akhirnya pada Sabtu (16/3) dini hari tadi. Ia akhirnya diberitahukan bahwa Daoud termasuk di antara setidaknya 49 orang yang tewas dalam penembakan massal di dua masjid Christchurch. Ayahnya telah meninggal akibat mencoba menghadapi pelaku untuk mencoba menolong para jamaah yang ada di sana.

Omar juga mengatakan, sangat masuk akal jika ayahnya itu mencoba menyelamatkan seseorang yang tengah dalam bahaya. Ia juga menjelaskan bagaimana ayahnya pergi ke bandara untuk menyambut para pengungsi dan membantu mereka untuk memulai kehidupan baru mereka. “Dia membantu semua orang yang menjadi pengungsi. Apakah para pengungsi itu berasal dari Palestina, Irak, Suriah, dia adalah orang pertama yang mengangkat tangannya” kata dia.

Haji Daoud Nabi with his granddaughter.
Haji Daoud Nabi with his granddaughter.

Kepeduliannya terhadap para pengungsi, ada kaitannya juga dengan kejadian masa lalu ketika usia Omar baru enam tahun, Omar dan keluarganya harus berimigrasi dari Afghanistan menuju Selandia Baru. Pada waktu itu adalah sekitar tahun 1980, dimana usai invasi besar Uni Soviet.

Omar merasa sangat kehilangan sosok Daoud, dan ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan ke depannya tanpa sosok ayah. “Aku agak bingung. Dia adalah orang yang memang memiliki banyak pengetahuan, dan aku sudah menjadi muridnya sejak lama,” jelas Omar.

Menurut data pemerintahan Selandia Baru, sejak 2014 hingga Januari 2019, sebanyak 4.333 pengungsi datang ke Selandia Baru. Kebanyakan mereka berasal dari Suriah, Myanmar, dan Afghanistan.