Wednesday, July 17Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Sutopo Menjadi Salah Satu Perokok Pasif Yang Kena Kanker Paru

Sutopo Menjadi Salah Satu Perokok Pasif Yang Kena Kanker Paru

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yaitu Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia, Minggu siang (07/07/2019). Ia meninggal di Guangzhou karena mengidap kanker paru-paru, meski ia bukan seorang perokok. Sutopo diketahui berangkat ke China untuk menjalani perawatan kanker paru-paru. Yang pada saat itu sudah mencapai stadium 4B dan menyebar ke tulang dan organ tubuh lainnya.

Kepada ABC Indonesia ia pernah mengatakan “kaget” saat pertama kali tahu dirinya mengidap kanker di bulan Januari 2018 lalu, karena ia mengaku tidak merokok. “Setelah saya renungkan, saya merasa bisa menerima kanker ini sebagai bagian perjalanan hidup saya. Saya terima ini dengan ikhlas,” ujarnya.

Semasa hidupnya itu Sutopo mengaku dikelilingi dengan “orang di sekitar yang hampir semuanya merokok”, meski ia tidak menyalahkan mereka. Hanya saja di akun Instagram miliknya, Sutopo pernah mengingatkan betapa bahayanya rokok. ” Perokok pasif saja bisa sampai sakit kanker paru-paru seperti saya. Apalagi para perokok aktif,” tulisnya dengan sebuah video yang diunggahnya.

Desakan untuk kawasan tanpa rokok

Sebuah laporan badan kesehatan PBB, WHO mencatat penyakit terkait produk tembakau menjadi ancaman terbesar bagi kesehatan masyarakat yang pernah dihadapi dunia. Lebih dari 8 juta orang meninggal setiap tahunnya dimana 7 juta diantaranya adalah pengguna langsung produk tembakau, seperti perokok.

Sementara sekitar kurang lebih 1,2 juta orang meninggal setiap tahun di dunia karena mereka adalah perokok pasif berdasarkan laporan bulan Mei 2019 tersebut menyebutkan. “Ada sekitar 4.000 kandungan kimia dalam asap rokok. Yang mana 250 jenis diantaranya diketahui berbahaya dan 50 lainnya menyebabkan kanker,” tulis laporan WHO tersebut.

Menanggapi masalah perokok pasif yang ada di Indonesia Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pun memberi respon. YLKI pun menegaskan bahwa penyediaan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah kebutuhan yang mendesak. Menurut Tulus Abadi yang mana merupakan Ketua Pengurus Harian YLKI banyak pekerja pemerintahan, termasuk pejabat, yang diketahui merokok di tempat kerja yang tertutup.

“Ironisnya banyak kantor pemerintah dan pejabatnya yang tidak memberikan contoh,” ujar Tulus dalam sebuah pernyataan menanggapi meninggalnya Sutopo. Tidak hanya itu, YLKI juga menganggap merokok di dalam rumah sebagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hal itu karena telah dianggap menyebarkan racun mematikan ke seluruh penghuni rumah.