Thursday, April 18Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Siapakah Tuna Netra Pertama yang Mampu Menaklukan Gunung Everest?

Siapakah Tuna Netra Pertama yang Mampu Menaklukan Gunung Everest?

Disamping gegap gempita Asian Games 2018, kita harus tahu pula bahwa di tahun ini setelah gelaran pesta olahraga terbesar di asia ini akan ada pula Asian Para Games 2018 yang juga akan dihelat d jakarta dari tanggal 6-13 oktober 2018. Disana kita akan melihat para atlet difabel yang mampu berprestasi layaknya manusia normal. Hal itu tentunya menginspirasi kita sebagai manusia normal untuk dapat berprestasi dalam hidup ini entah bagaimanapun caranya asalkan dalam hal yang positif.

Membicarakan  tentang orang difabel, ada baiknya kita mengetahui bahwa pada tahun 2001 lalu ada seorang penyandang disabilitas lebih tepatnya tuna netra yang berarti engalami kebutaan mampu melakukan pendakian sampai ke salah satu puncak gunung tertinggi dunia yaitu gunung Everest. Namanya adalah Erik Weihenmayer dan ia menjadi tuna netra pertama yang mampu mendaki sampai ke puncak gunung everest tepatnya pada 25 mei 2001.

Disabilitas rupanya bukanlah halangan untuk erik yang sejak kecil memang sangat hobi traveling. Erik mengalami kebutaan saat berusia 13 tahun. Tidak hanya dalam mendaki gunung, namun prestasi erik yang lain adalah bergulat, bersepeda, ski, kayak, paralayang dan masih sangat banyak lagi olahraga yang senang dan mampu ia geluti. Namun yang tadi disebutkan adalah olahraga favorit yang sering ia lakukan.

Saat masih muda erik fokus pada satu olahraga yaitu gulat dan meraih banyak prestasi pada cabang olahraga ini. Salah satunya ia mewakili negaranya di kejuaraan Gulat US National Freestyle. Setelah lilis kuliah pada tahun 1993, erik menjadi guru dan mulai tertarik pada panjat tebing dan trekking. Dan puncaknya adalah yang tadi kita bahas, ia menjadi tuna netra pertama yang mampu menaklukan gunung everest pada saat berusia 33 tahun dimana ia menjadi salah satu dari 100 orang yang berhasil menyelesaikan pendakian tujuh puncak tertinggi di dunia.

Melihat hal inspiratif semacam ini tentunya kita yang dilahirkan dengan normal ke dunia dan terus diberikan kesehatan juga fisik yang normal sampai sekarang ini tentunya akan malu pada pria kelahiran 23 september 1968 itu yang meskipun penyandang disabilitas namun erik weihenmayer mampu berprestasi layaknya manusia normal.