Friday, December 13Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Sepakbola Ternyata Juga Punya Misteri Yang Belum Terpecahkan Sampai Sekarang

Sepakbola Ternyata Juga Punya Misteri Yang Belum Terpecahkan Sampai Sekarang

Sepak bola jadi olahraga paling dimintai di muka bumi. Karena, permainan 11 orang ini sudah jadi magnet pecintanya sejak dahulu. Sejak dulu hingga sekarang, sepak bola memilki segudang cerita dari masa ke masa yang tak habis dijadikan perbincangan. Bahkan, ada sebuah cerita yang masih menjadi tanda tanya atau misteri.

  1. Misteri Hilangnya Trofi Jules Rimet

Trofi Piala Dunia yang digunakan saat ini merupakan buatan dari seniman Italia yang sudah wafat, yakni Silvio Gazzaniga. Trofi ini diketahui digunakan pertama kali pada Piala Dunia 1974 di Jerman Barat. Jerman Barat keluar sebagai pemenang pertama. Trofi ini menggambarkan dua sosok manusia memegang bumi. Trofi tersebut terbuat dari emas 18 karat dan beralaskan malasit.

Sebelum itu, trofi Piala Dunia pertama kali justru diberi nama Victory, yang kemudian diganti nama dengan Jules Rimet. Jules Rimet merupakan Presiden FIFA ketiga yang memang menjadi pencetus digelarnya Piala Dunia. Trofi itu juga menggambarkan Nike, dewi Yunani yang melambangkan kemenangan. Sayangnya, trofi tersebut sekarang ditelan bumi. Tidak ada yang tahu keberadaannya hingga sekarang. Trofi tersebut dicuri seseorang di Brasil.

Brasil menjadi negara yang berhak memegang permanen trofi tersebut sebelum diganti. Pasalnya, Brasil negara pertama yang menjuarai Piala Dunia sebanyak tiga kali. Terakhir saat menjadi juara Piala Dunia 1970. Hingga saat ini, tidak ada yang pernah tahu lagi soal keberadaan trofi tersebut.

  1. Misteri Ronaldo di Piala Dunia 1998

Ronaldo datang ke Piala Dunia 1998 sebagai sosok pemain andalan timnas Brasil di lini depan. Pemain berjuluk The Phenomenon ini datang ke Piala Dunia 1998 dengan bekal 34 gol bersama Inter Milan. Jumlah gol tersebut diraihnya pada musim perdananya bersama klub Italia tersebut. Brasil berhasil dibawanya ke final Piala Dunia 1998 bertemu dengan tuan rumah Prancis. Namun, tidak ada yang menyangka soal kondisi Ronaldo menjelang final.

Namun, beberapa jam jelang laga final, sosok Ronaldo tak terlihat di kubu Brasil. Bahkan namanya sempat tak tercantum dalam daftar pemain yang bakal diturunkan. Beredar kabar Ronaldo sang fenomena dikabarkan kejang-kejang, mulutnya berbusa, dan tak sadarkan diri di kamar hotelnya. Tak ada seorangpun yang mengetahui apa yang menimpa Ronaldo. Roberto Carlos yang saat itu menjadi teman sekamarnya pun tak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Carlos hanya mengatakan selepas makan siang, semua pemain kembali ke kamar. Tiba-tiba seluruh tubuh Ronaldo bergetar.

Edmundo, pemain Brasil lain yang menyaksikan kejadian juga berbagi apa yang dilihatnya. Dia terbaring, bergetar, dan memukuli dirinya sendiri. Mulutnya berbusa. Seluruh tubuhnya terlihat bergetar. Pertolongan pertama kemudian diberikan pemain Brasil lain, Cesar Sampaio. Dia membuka mulut Ronaldo dan mencegah sang bintang menelan lidahnya. Setelah itu, Ronaldo tertidur. Tim dokter Brasil meminta rekan-rekannya tak berbicara apapun saat Ronaldo bangun. Namun, para pemain lain sudah terlanjur terkejut, tegang, dan syok.

Akhirnya setelah didesak oleh Leonardo, tim dokter memberitahu Ronaldo apa yang menimpanya dan sang bintang harus menjalani tes. Ronaldo boleh bertanding jika lolos tes tersebut. Saat tim Brasil berangkat ke stadion, Ronaldo dilarikan ke sebuah klinik di Paris. Sekitar 40 menit jelang laga dimulai, Ronaldo muncul dan meminta pelatih Mario Zagallo untuk memainkannya.

Ronaldo pun bermain. Namun gagal membawa Brasil menjadi juara. Prancis mengalahkan Brasil 3-0. Sampai saat ini tidak ada yang tahu penyebab Ronaldo kejang-kejang, begitupun sang pemain.

  1. Misteri Timnas Indonesia di Piala Dunia 1938

Indonesia menjadi negara pertama Asia yang mengikuti Piala Dunia, tepatnya pada tahun 1938. Hal itu sudah diakui FIFA sebagai induk sepak bola dunia. Namun, ketika itu, nama Indonesia masih Hindia Belanda. Maklum, Indonesia masih dalam jajahan Belanda. Tim Hindia Belanda ikut Piala Dunia 1938 di Prancis di bawah naungan federasi sepak bola Hindia Belanda, Nederlandcshe Indische Voetbal Unie (NIVU). Tim Hindia Belanda berangkat ke Prancis menggunakan kapal laut “Baluran”.

Dengan memakan waktu perjalanan selama satu bulan, tim Hindia Belanda sampai di Genoa, Italia. Selanjutnya melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api ke Belanda dan Prancis, demikian laporan surat kabar mingguan yang terbit di Batavia (Jakarta), Java Bode. Para pemain dihuni suku Jawa, Maluku, Tionghoa, Indo-Belanda, serta pelatihnya yang asal Belanda, Johannes Christoffel van Mastenbroek. Kaptennya merupakan seorang dokter pribumi bernama Achmad Nawir.

Laporan koran Perancis L’Equipe, edisi 6 Juni 1938, menyebutkan para pemain tim Hindia Belanda seperti kurcaci saat menghadapi Hungaria pada 5 Juni 1938. Sayang, Hindia Belanda harus gugur usai dicukur Hungaria 6-0 (4-0). Maklum, saat itu Piala Dunia masih menggunakan sistem gugur. Menurut laporan FIFA, laga tim Hindia Belanda kontra Hungaria digelar 5 Juni 1938, pukul 5 sore waktu setempat, di Stadion Velodorme, Kota Reims, Prancis. Sekarang stadion tersebut sudah berubah nama menjadi Stadion Auguste Delaune.

Pertandingan ini dipimpin wasit asal Perancis, Roger Conrie, serta dua orang hakim garis Carl Weingartner (Jerman), dan Charles Adolphe Delasalle (Perancis). Disaksikan sekitar 9 ribu orang penonton. Tim Hungaria menggunakan kostum serba putih, sementara Hindia Belanda menggunakan kaos oranye, celana pendek putih, dan kaus kaki biru muda.

Setelah itu, Hindia Belanda menggelar pertandingan uji coba melawan Belanda di Amsterdam, 26 Juni 1938. Hindia Belanda kalah 2-9. Selanjutnya, Hindia Belanda pulang ke Indonesia menggunakan kapal laut “Baluran” pada tanggal 1 Juli 1938. Tiga pekan kemudian berlabuh di Pelabuhan Tanjuk Priok. Setelah itu, tidak ada yang tahu bagaimana kabar skuat Hindia Belanda.

Tercatat hanya kiper, Mo Heng Tan, yang sempat lulus seleksi untuk memperkuat Timnas Indonesia dalam laga persahabatan melawan klub dari Singapura pada 1951. Lalu kisah tragis menimpa Frans Alfred Meeng. Ia tenggelam bersama kapal Jepang Junyo Maru yang ditenggelamkan oleh kapal selam Inggris pada 18 September 1944, menurut laporan Java Post. Sisanya tidak ada yang tahu bagaimana kelanjutan hidupnya.