Thursday, July 18Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Sedih! Supermarket Giant Tutup, Begini Nasib Karyawan yang Di-PHK

PT Hero Supermarket Tbk akan menutup enam gerai ritel anak usahanya yaitu supermarket Giant, yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Dampak dari penutupan tersebut, ratusan karyawan pun terancam Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Salah seorang karyawan Giant Ekspres di kawasan Mampang Prapatan bernama Adi membenarkan bahwa tanggal 28 Juli 2019 adalah hari terakhir ia bersama rekan lainnya bekerja di sana. Sementara jumlah karyawan Giant Ekspres di Mampang diperkirakan saat ini kurang lebih 50 orang.

“Ya ditutup dan di-PHK. Dan katanya dikasih pesangon,” ungkapnya, di Jakarta, Senin (24/6/2019).

Pada awalnya, Adi mengaku begitu terkejut saat adanya surat pemberitahuan dari manajemen kepada karyawan tertanggal 18 Juni 2019 yang isinya menyatakan akan menutup gerai Giant Ekspres di Mampang  dan dilakukannya PHK. Apalagi penutupan gerai ini dianggap terkesan mendadak.

Supermarket Giant. (Foto: Dok Net)

“Dikasih tahu ke karyawan 18 Juni, kaget gitu. Pas baca surat wah ada (penutupan) Mampang Prapatan. Terkesan mendadak,” tutur pria yang baru bekerja selama tiga tahun ini di Giant Ekspres Mampang tersebut.

Meski begitu, menurutnya, belum ada perjanjian pemberian pesangon antara pegawai yang terkena PHK dengan manajemen Giant. Ia meyakini kesepakatan itu akan dilakukan pasca penutupan gerai secara resmi pada 28 Juli 2019.

Adi pun mengaku belum berencana mencari mata pencaharian baru. Ia saat ini fokus bekerja hingga gerai Giant Ekspres Mampang resmi berhenti beroperasi.

Kalah Bersaing

Sementara itu, langkah Supermarket Giant ditutup dinilai menjadi langkah perusahaan untuk tetap bertahan di tengah persaingan bisnis ritel yang kiat ketat. Penutupan itu juga dianggap sebagai hal biasa di bisnis ini.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Tutum Rahanta, menjelaskan, bahwa saat ini bisnis ritel sudah berkembang pesat dengan persaingan yang semakin ketat. Terlebih dengan munculnya beragam platform jual beli online yang menawarkan produk-produk seperti yang dijual di toko ritel luring (offline).

“Bisnis ritel ini sekarang berubah, sehingga siapa yang terkena dampak? Saya kira Giant yang saat ini terkena dampak. Dampak dari apa? Ya atas persaingan itu sendiri,” terangnya, di Jakarta, baru-baru ini.

“Karena produk yang dijual itu sama dengan ritel lain, baik yang di-offline maupun di-online. Sehingga dia melakukan amputasi dengan menutup toko mereka,” sambungnya.

Masih dari penuturan Tutum, Giant juga pasti telah memiliki pertimbangan yang matang sebelum memutuskan untuk menutup sejumlah took gerainya.

Yang menjadi pertimbangan pada umumnya, karena toko tersebut tidak mampu berkontribusi terhadap pendapatan perusahaan, bahkan hanya menjadi beban bagi keuangan perusahaan.

“Pasti ada faktor-faktor yang diperhitungkan sehingga berani melakukan langkah itu. Karena image-nya kan sanga jelek (dengan menutup toko). Tetapi outlet tersebut sudah tidak bisa dipertahankan lagi, akan menggerogoti perusahaan secara keseluruhan,” ungkapnya.

“Tidak hanya Giant, perusahaan mana pun pasti begitu. Jadi dilakukan lah penutupan, apalagi outlet-outlet tersebut sudah tidak bisa memberikan kontribusi atau ke depan tidak menjanjikan lagi,” katanya lagi.

Namun, lanjut Tutum, ritel hingga sekarang masih menjadi bisnis yang menjanjikan. Dia berharap apa yang dialami Giant tidak terjadi pada perusahaan lain yang sejenis.

“Ini karena Giant perusahaan publik, makanya mereka menginformasikan kepada media bahwa dia akan tutup dan di toko-toko mereka diadakan diskon dengan penutupan tersebut,” tandas dia.

Kinerja Perusahaan yang Memburuk

Sebelumnya, PT Hero Supermarket Tbk melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK karyawan sebanyak 532 orang sepanjang tahun 2018. Alasannya, perseroan menutup 26 gerai jaringan ritel Giant Supermarket.

Sementara itu, Corporate Affairs GM PT Hero Supermarket Tbk, Tony Mampuk, mengatakan terus memburuknya kinerja perusahaan sejak kuartal III 2018 membuat perusahaannya terpaksa me-PHK karyawannya.

“Sampai dengan kuartal III tahun 2018, PT Hero Supermarket mengalami penurunan total penjualan sebanyak satu persen atau senilai Rp 9,849 triliun di mana perolehan tahun 2017 adalah Rp9,961 miliar,” paparnya.

Ia melanjutkan, 26 gerai ritel yang ditutup di sepanjang 2018 di seluruh Indonesia, yaitu ritel Supermarket Giant ditutup.

“26 toko telah ditutup dan dari 532 karyawan yang terdampak dari kebijakan efisiensi tersebut, 92 persen karyawan telah menerima dan menyepakati untuk mengakhiri hubungan kerja (PHK), serta telah mendapatkan hak sesuai dengan Undang-Undang Kementerian Tenaga Kerja RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,” tutupnya.