Tuesday, June 18Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Saat Ada Pria Di Depok Yang Mengaku Sebagai Imam Mahdi

Saat Ada Pria Di Depok Yang Mengaku Sebagai Imam Mahdi

Warga Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Depok, digegerkan dengan adanya undangan halalbihalal Idul Fitri 1440 H bersama seorang pria di Depok yang mengaku sebagai Imam Mahdi bernama Winardi.

Acara itu dibuka untuk umum oleh sebuah padepokan bernama Trisula Weda. Padepokan ini didirikan Winardi untuk menyebarkan ajarannya sejak 2013 lalu. Winardi merupakan warga pendatang di Sawangan yang berasal dari Pacitan, Jawa Timur.

Saat mendatangi alamat yang tertera di undangan halalbihalal yang diduga disebarkan oleh Winardi. Di lokasi yang beralamatkan di Jalan H Sulaiman RT 2 RW 5, Sawangan itu, terdapat sebuah rumah dengan bangunan berbentuk kotak, bercat hitam, dengan hiasan berwarna emas menyerupai kabah. Lokasi tersebut diduga menjadi tempat beribadah kelompok ini.

Pada hari Kamis (30/5), berkesempatan berbincang dengan salah satu anggota padepokan, Siswo. Dari penuturannya, kelompok tersebut saat ini sudah memiliki 80 anggota aktif yang tersebar di beberapa kota di Pulau Jawa. Tentu, Depok, Jawa Barat, menjadi pusat kelompok ini.

“Kalau kumpul semua sekitar 80 orang. Enggak (hanya di Depok), ada di Yogya, Kebumen, Klaten, dan Blora, satu lagi di Madiun,” kata Siswo. “Trisula Weda itu suatu perkumpulan kita yang secara kedepannya itu berbenah diri. Berbenah diri. Kalau bahasa Al-Quran itu muhasabah, mawas diri,” ungkapnya.

Mawas diri yang dimaksud Siswo, adalah upaya berbenah diri menjadi lebih baik. Apabila sudah menjadi lebih baik, ajaran ini dipercaya dapat membawa kebaikan bagi lingkungan sekitarnya. Siswo menyebut ajarannya sama saja dengan Islam. Ia pun tetap menjalankan rukun iman dan Islam. Namun, di padepokannya ini, tak hanya diisi oleh orang beragama Islam saja, agama lain pun dipersilakan bergabung. Namun sayang, Siswo tak menjelaskan mengenai ajaran dari kelompok ini.

“Trisula Weda itu merangkul semua ajaran, di Trisula Weda ada merangkul semua, Hindu, Kristen, orang dari Bali juga ada juga, terus Pasundan, Sunda Wiwitan, Jawa Kejawen, komplit. Itu enggak ada istilahnya beda,” imbuhnya.

Kelompok ini percaya, apa yang diajarkan oleh Winardi –yang mereka anggap sebagai Imam Mahdi– adalah benar. Winardi sendiri memiliki banyak sebutan, mulai dari Satria Piningit Hamong Tuwuh, Ratu Adil, Sang Pembaharu, Sang Juru Selamat, Avatar XII, Khalqi, Budak Angon, dan lainnya.

Selain itu, Siswo –yang sempat empat tahun menuntut ilmu di pesantren– percaya bahwa Imam Mahdi benar akan muncul di Indonesia. Ia pun percaya bahwa Imam Mahdi, akan muncul di tahun ini, 2019. Hal itu berdasarkan beberapa perhitungan rumit dari sejumlah kepercayaan.

“Iya soalnya dari hitungan yang ada dari hitungan Jowo Suroboyo, dari hitungan Kejawen, dari Pasundan, dari Islam sendiri, adanya di tahun ini. Adanya di tahun ini dengan posisi bergejolaknya alam, enggak karuan, manusia bingung enggak ada pegangan,” ucapnya.

Sosok Imam Mahdi itu pun dilihat Siswo dan anggota lainnya ada pada diri Winardi. Hal itu didasari dari tindakan, ilmu pengetahuan, hingga perilaku yang mereka anggap identik dengan ciri-ciri Imam Mahdi.

“Sebenarnya enggak ada yang membedakan, yang akan turun nanti itu Mahdi, Imam Mahdi. Sosoknya itu secara keilmuan itu sosoknya, akhlaknya, cara solatnya, ibadah sunahnya semuanya itu beliau sendiri. Itu enggak jauh beda,” ucapnya.

‘Mukjizat’ Winardi

Tentu, sebagai Imam Mahdi, Winardi dianggap memiliki mukjizat. Siswo menuturkan salah satu mukjizat pria yang sehari-hari bekerja sebagai satpam di Pancoran itu. Menurutnya, sempat ada salah satu anggota padepokan yang memiliki anak dengan penyakit mata. Dengan kemampuannya, Winardi akhirnya berhasil menyembuhkan penyakit itu.

“Mungkin satu aja ya dari saudara kita pernah sakit mata, tapi dia harus sekolah diharapkan orang tuanya itu enggak pakai kacamata lah, nah itu minta tolong ke beliau, “anak saya supaya jangan punya ciri pake kacamata lah”,” kata Siswo.

“Karena dari saudara kita itu serius meminta, dikabulkan. Sembuh. Kacamatanya dibalikin. Itu dibilang ya bukan mujizat ya, itu sekedar karena beliau bisa dan ada yang membisakan. Beliau manusia biasa, kalau kena pisau ya berdarah, digigit semut ya sakit, di situ rasul juga kan manusia biasa,” sambungnya. Masalah ini akhirnya ditangani oleh MUI bersama aparat setempat.