Wednesday, June 3Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Rumah Nenek Di Simalungun Ini Ditembok Demi Asrama Polisi

Rumah Nenek Di Simalungun Ini Ditembok Demi Asrama Polisi

Wakapolres Simalungun, Kompol Zulkarnain Pane memastikan tembok yang sudah dibangun tidak dapat dibongkar lagi. Padahal, tembok tersebut menutup akses jalan dua rumah di belakang Asrama Polisi Polres Simalungun. “Oh tidak bisa lagi. disuruh Kapolres ditembok semua. Sudah dikasih solusi 2017 untuk pindah. Dikasih uang untuk pindah,” katanya, Kamis (29/11/2018).

Kompol Zulkarnain memastikan dua rumah tersebut bukan aset Polres Simalungun. Ia mengatakan rumah tersebut melanggar daerah aliran sungai (DAS). Karena alasan DAS, Kata Kompol Zulkarnain sudah meminta kepada pemilik rumah untuk pindah atau mengosongkan rumah. “Kan itu tanah DAS. itu kan dibelakang sungai. Sudah dikasih alternatif sama Kapolres sejak tahun 2017,”katanya.

Kata Kompol Zulkarnain sejak adanya dua rumah dibelakang itu yang ditempati oleh janda tua, perempuan paruh baya, dan perempuan berusia 13 tahun sering terjadi kehilangan sepeda motor. Ia menyarankan untuk mewawancarai anggota kepolisian di Asrama Polisi tentang keberadaan dua rumah itu. “Peraturan dari kapolri harus ditutup. gak bisa keluar. Ini kan untuk pengamanan. Sudah situ, sepeda motor hilang. tanya saja sama orang asrama, rusuh itu,”katanya.

Saat disinggung apakah ada memediasi tetangga untuk membuka akses agar ada jalan, Kompol Zulkarnain mengungkapkan ada perjanjian mereka yang tidak tertepati. “Kan gini ada perjanjian mereka untuk membuka jalan, tetapi tidak mau ibu itu. Lalu, ditembok lah yang disamping,”katanya. Diketahui, dua unit rumah yang berada di belakang Asrama Polisi (Aspol) Polres Simalungun terkepung tembok setinggi dua meter. Dua rumah itu dikelilingi tembok Aspol dan Tembok milik seorang warga. Sementara di sebelah rumah tersebut terdapat sungai.

Dua rumah tersebut ditempati oleh seorang Nenek Hilderia Samosir (73), putrinya Sondang Julu Hutagalung (45), dan cucunya Elsa Purba (13). Dua rumah itu sudah terkepung sejak tiga hari yang lalu, kamis (29/11/2018). Rumah tersebut berada di Jalan Pabrik, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur, Kota Siantar.

Hilderia yang ditemui tribun-medan.com dan Tribun Medan langsung menyambut. Dari balik tembok, Hilderia memberikan satu buah tangga untuk dapat masuk ke lokasi rumahnya. Dengan tangga itu, Tribun Medan melewati dan melangkah tembok setinggi dua meter. “Rumah kami mulai ditembok empat hari yang lalu. Kemarin saya sudah bertemu dengan Pak Kapolres Simalungun (AKBP Marudut Liberty Panjaitan) minta tolong supaya tembok di Aspol di buka. Tapi, pak Kapolres tak mau,” kata istri dari Almarhum Mayor Panusunan Hutagalung.

Hilderia mengungkapkan bahwa Kapolres Simalungun AKBP Marudut Liberty Panjaitan memberikan surat untuk pindah dari rumah tersebut. Padahal, diketahui rumah itu resmi dibelinya pada 1988 dan tinggal di sini sejak tahun 2002.

Camat Tak Berani Bertindak

Dua unit rumah yang terletak di belakang Asrama Polisi Polres Simalungun atau di Jalan Pabrik Kertas Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur terisolasi oleh tembok beton dengan tinggi dua meter. Dua unit rumah ini ditempati oleh seorang Nenek Hilderia Samosir (73), putrinya Sondang Julu Hutagalung (45), dan cucunya Elsa Purba (13).

Dua rumah itu sudah terkepung sejak tiga hari yang lalu, kamis (29/11/2018). Rumah tersebut berada di Jalan Pabrik, Kelurahan Siopat Suhu, Kota Siantar. Camat Siantar Timur Robert Sitanggang saat dimintai tanggapannya tidak memberikan solusi terkait tidak adanya akses jalan dua rumah ini. Katanya, Robert sedang meminta bukti berupa sertifikat tanah dari Hilderia Samosir.

“Kita lihat dulu alas bukti pemilikan tanah. Kita mau lihat apakah itu aset tanah Polres atau milik pribadi,” katanya, Kamis (29/11/2018). Saat disinggung itu merupakan milik pribadi Hilderia, Robert juga beralasan melihat apakah di surat tanah itu ada akses jalan atau tidak. “Kan kalau di pertanahan bisa dilihat petanya. Ada tidak jalan di situ,” katanya.

Robert juga tak ingin menanggapi tentang memediasi agar penembokan yang dilakukan Polres Simalungun. Katanya, itu sudah wilayah Polres Simalungun. “Itu kan wewenang Polres Simalungun. Kalau dengan tetangga sebelah kita sudah lakukan mediasi. Belum ada solusi,”katanya. Hilderia yang ditemui Tribun Medan langsung menyambut. Dari balik tembok, Hilderia memberikan satu buah tangga untuk dapat masuk ke lokasi rumahnya. Dengan tangga itu, tamu melewati dan melangkah tembok setinggi dua meter.

“Rumah kami mulai ditembok empat hari yang lalu. Kemarin saya sudah bertemu dengan Pak Kapolres Simalungun (AKBP Marudut Liberty Panjaitan) minta tolong supaya tembok di Aspol di buka. Tapi, pak Kapolres tak mau,”kata istri dari Almarhum Mayor Panusunan Hutagalung. Hilderia mengungkapkan bahwa Kapolres Simalungun AKBP Marudut Liberty Panjaitan memberikan surat untuk pindah dari rumah tersebut. Padahal, diketahui rumah itu resmi dibelinya pada 1988 dan tinggal di sini sejak tahun 2002.

Istri dari Almarhum Mayor Panusunan Hutagalung mengungkapkan sudah disuruh Kapolres Simalungun AKBP Marudut Liberty Panjaitan untuk mengosongkan rumah. “Ini kan memang rumah saya dan ada sertifikatnya. Kalau memang saya tak ada akses, saya sudah tawari dengan tetangga yang sebelumnya punya dia untuk membeli, mereka juga tidak mau,”katanya. Akibat akses yang tertutup, cucunya Elsa Purba selalu menaiki tangga melewati tembok untuk pergi dan pulang ke sekolah. Padahal bisanya, Elsa Purba melewati akses Aspol.