Wednesday, September 30Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Ratu Inggris Ungkapkan Hal Ini Pada Australia

Ratu Inggris Ungkapkan Hal Ini Pada Australia

Ratu Elizabeth II, sedang menunggu lonceng kematiannya. Sebelum wafat, dia mempersilakan Australia jika ingin melepaskan diri dari Kerajaan Inggris dan menjadi Republik. Itu terungkap dalam sebuah buku baru, “Queen of the World” yang ditulis kolumnis Daily Mail Robert Hardman. Dia mengatakan, pandangan Ratu adalah bahwa orang Australia harus melanjutkan, jika mereka ingin menyingkirkan monarki.

Seorang pejabat istana dikutip mengatakan, jika Australia berlama-lama, maka kemungkinan tidak bisa dipertahankan bagi Ratu, dan tidak bisa dipertahankan bagi negara itu sendiri. “Karena jelas, mereka akan melihat jam tangan mereka yang menunggunya meninggal,” tambah pejabat itu. Pada 1999, gerakan republikan berhenti setelah referendum yang gagal, untuk menghapuskan monarki. Demikian dilaporkan The Sydney Morning Herald.

“Di Istana Buckingham, tidak ada perayaan besar,” tulis Hardman tentang referendum. “Beberapa abdi dalem, dikatakan oleh beberapa orang, Duke of Edinburgh, tidak percaya dan kurang senang. Yang tak terhindarkan itu tidak bisa dihindari, hanya ditunda.” Ungkapan ‘deathwatch’ pertama kali digunakan mantan perdana menteri Julia Gillard, dan kemudian diadopsi oleh Malcom Turnbull, yang memimpin kampanye referendum republikan tahun 1999 yang gagal.

Pada saat referendum, 54,87 persen orang Australia memilih menentang menjadi republik sementara 47,13 persen dari Aussies mengatakan ya. Northern Territory memimpin dengan 48,8 persen orang mengatakan “ya” kepada sebuah republik, sementara Tasmania memiliki jumlah suara “ya” paling sedikit dengan 40,4 persen.

Penelitian menunjukkan, dukungan Australia untuk sebuah republik telah menyusut selama bertahun-tahun karena naiknya bangsawan muda, Pangeran William dan Pangeran Harry. Tetapi dengan tur Duke dan Duchess of Sussex di Australia, isu Ratu membawa topik panas kontroversial, kembali menjadi sorotan.

Sementara jumlah republiken turun, survei ReseachNow mengungkapkan, 67 persen warga Australia mendukung menjadi republik, news.com.au melaporkan. Terlebih lagi, 67 persen dari mereka yang disurvei mengatakan, pernikahan yang baru-baru ini dilakukan oleh Pangeran Harry dan Meghan Markle, tidak ada bedanya dengan pandangan republikan mereka.

Meskipun perdana menteri sebelumnya sangat menganjurkan, agar Australia menjadi republik, Perdana Menteri Scott Morrison tidak mendukung perubahan. Pemimpin Oposisi Bill Shorten, di sisi lain, telah berjanji mengadakan plebisit dalam masa depan jika ia mengambil alih kekuasaan pada pemilihan berikutnya. Jika jawabannya “ya”, langkah selanjutnya adalah mengadakan voting lanjutan untuk menentukan republik Australia seperti apa.