Wednesday, October 23Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Potret Mengharukan Nenek Dan Cucunya Di Makassar Saat Diterjang Banjir

Potret Mengharukan Nenek Dan Cucunya Di Makassar Saat Diterjang Banjir

Banjir yang menerjang Makassar dan sekitarnya membawa kisah viral upaya bertahan hidup dari seorang nenek bernama Nurjanna Djalil. Potret Nurjanna Djalil yang bertahan dalam terjangan banjir sambil terus menggendong cucunya menjadi viral di sosial media. Foto nenek Nurjanna Djalil saat bertahan di terjangan banjir sambil menggendong cucunya awalnya diambil oleh sang anak.

Hal ini seperti dikutip GridHot.ID dari unggahan akun Twitter SupirPete2 yang mengunggah sebuah postingan pada 23 Januari 2019. Dalam unggahan tersebut terdapat 2 screenshot akun Instagram anandadina yang mengunggah potret nenek Nurjanna yang diambil pada tanggal 22 Januari 2019. Akun Instagram anandadina berkisah bahwa wanita dalam potret tersebut adalah ibunya yang sengaja ia foto untuk memudahkan minta pertolongan.

Pemilik akun Instagram anandadina sendiri berada tak jauh dari sang ibu. Namun ia tak dapat membantu ibu dan keponakannya yang terjebak banjir tersebut, lantaran tak bisa berenang. Sehari setelah foto itu diunggah, kabar mengejutkan datang dari Nenek Nurjanna Djalil. Dikutip dari Tribun Timur, Ia menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Syekh Yusuf, Kabupaten Gowa, Rabu (23/1/2019) sore.

Nenek Nurjanna meninggal dunia sehari setelah berupaya menyelamatkan cucunya ketika banjir menerjang Gowa, Selasa (22/1/2019). Nurfardiansyah, menantu Nurjanna Djalil bercerita, sang nenek yang merupakan mertuanya terus perpegangan di pohon saat banjir menerjang tempat tinggalnya.

Ketinggian air pada saat banjir bandang terjadi itu, kata Nurfardiansyah, sudah bisa mencapai leher. Namun saat itu, ia masih terus memegang cucunya. Kemudian Nurjanna Djalil pun memutuskan meninggalkan rumah lantaran air terus naik dan memasuki tempat tinggalnya. Ketinggian air di rumahnya yang beralamat di Kompleks BTN Zigma Royal Part, Kelurahan Pangkabinanga, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, akhirnya sudah mencapai atap, pada hari Selasa (22/1/2019) kemarin.

“Mertua saya terus berjalan. Air rupanya terus meninggi. Melalui hubungan telepon, saya minta dia untuk mencari pegangan ke pohon,” kisah Nurfardiansyah kepada Tribun Timur, hari Rabu (23/1/2019) malam. Nurfardiansyah pun melanjutkan, mertuanya rupanya tidak mampu menahan derasnya aliran air limpasan Sungai Jeneberang tersebut.

Sang nenek bahkan juga sempat terseret arus air bersama cucu, sebelum akhirnya ditolong oleh warga sekitar yang segera meraihnya. “Untung ada warga yang bisa menolong lalu dikasih pelampung,” tambah Nurfardiansyah. “Mertua saya pun kembali berpegangan di ranting sambil menggendong cucu. Tiga jam dia berpegangan sambil menunggu pertolongan,” lanjutnya.

“Foto yang telah beredar ke media sosial itu atas permintaan saya kepada warga,” tambahnya. “Lalu saya kirimkan foto itu ke Basarnas untuk kemudian meminta pertolongan perahu karet,” lanjut Nurfardiansyah. Setelah terendam banjir bandang karena meluapnya Sungai Jeneberang di Kelurahan Pangkabinanga, selama tiga jam, Nurjanna Djalil pun lalu mendapat perawatan.

Almarhumah sebenarnya sempat dirawat di klinik untuk mendapat pertolongan pertama dan dilihat kondisinya. Nurjanna Djalil dirawat selama tiga jam sebelum kemudian dipulangkan ke rumah orang tua Nurfardiansyah, Selasa (22/1/2019) kemarin. “Sempat dipulangkan ke rumah, karena baik-baik perasaannya kemarin. Tapi tadi setelah Ashar tidak enak perasaannya,” terang Nurfardiansyah.

Karena kondisi fisiknya kurang bagus, Nurfardiansyah membawa ibu mertuanya tersebut berobat ke Rumah Sakit Syekh Yusuf, Sungguminasa, Gowa, Rabu (23/1/2019) sore. Setelah hampir sejam dirawat, akhirnya sang nenek menghembuskan napas terakhir.