Friday, October 23Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Pilot Senior Katakan Ini Tentang Kemungkinan Jatuhnya JT 610

Pilot Senior Katakan Ini Tentang Kemungkinan Jatuhnya JT 610

Seorang mantan pilot senior, Stephanus G.S menganalisis dugaan penyebab pesawat Lion Air jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat pada Senin 29 Oktober 2018. Menurutnya, beberapa kecelakaan pesawat yang tragis beberapa tahun terakhir di Indonesia umumnya terjadi di pagi hari. “Kalau kita flashback di GA 210, 6.50, pagi juga,” ujarnya, dikutip dari TribunJabar.id, Rabu (31/10/2018)

“Kasus yang sebelum ini, Air Asia jam 5 pagi take off, jadi ada apa ini?,” sambungnya. Stephanus menuturkan, kecelakaan kerap terjadi sekitar pukul 06.00. “Ini yang menjadi keprihatinan saya, berarti ada missing link di sini,” imbuhnya. Ia menduga, kesadaran dan kewaspadaan para kru mungkin berkurang.

Pasalnya, kru diharuskan bangun sejak pukul 3 pagi. “Kru bangun jam 3 pagi. Jadi, kemungkinan apakah kepedulian pada situasi itu berkurang? Kalau berkurang, mari kita sama-sama perbaiki sistem itu. Minimum tidak akan terjadi kecelakaan di pagi hari” ujar Stephanus. Dirinya lantas menanggapi posisi pesawat Lion Air yang sempat naik turun sebelum jatuh di perairan Karawang.

Baginya, ini adalah satu hal yang tidak masuk akal. Kecepatan Lion Air yang jatuh kala itu membuat dirinya berpikir ada sesuatu yang tidak normal dan harus segera diatasi. “Tetapi pastinya memang ada sesuatu yang tidak masuk akal, yaitu pada kecepatannya 340. Waduh, telinga saja kalau saya dengan speed 400 juga bisa mendengung.

Pastinya ada sesuatu yang tidak normal dan sesegera mungkin harus bisa diatasi,” tegasnya. Stephanus menduga kemungkinan besar ada semacam eror di penerbangan tersebut. “Awareness dari pilot tersebut mungkin jadi,” tandasnya. Sebelumnya, seorang pengamat penerbangan, Dudi Sudibyo menjelaskan dua kemungkinan penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT 610.

Ditemui di kantor Kompas Gramedia Majalah di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pengamat penerbangan, Dudi Sudibyo, memaparkan dua kemungkinan penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. Lokasi diperkirakannya pesawat Lion Air JT-610 jatuh (Basarnas). “Pertama adalah karena sistem yang memang bermasalah, meski belum diketahui masalah sebenarnya apa, dan satu lagi adalah mungkin kesalahan teknis, yang pasti berkaitan dengan mesin,”ujarnya.

Dudi juga menyakini bila dua faktor ini memang menjadi penyebab jatuhnya pesawat. Sebab, sebelumnya pilot sempat ingin melakukan return to base alias kembali ke Soekartno-Hatta. “Sebelum pesawat jatuh, pilot berusaha kasih tahu ke menara bahwa dia ingin RTB (return to base)” terang Dudi. Sayangnya, ketika menara ATC berusaha ingin menanyakan lebih lanjut mengenai alasan ia ingin kembali, pesawat justru sudah terlanjur hilang kontak.

Dudi juga menyayangkan tidak ada orang ataupun saksi mata yang melihat bagaimana sebenarnya posisi pesawat saat terjatuh. Jika mengetahui bagaimana posisinya, maka dapat dianalisis lebih lanjut penyebab pasti jatuhnya pesawat itu. “Sulit sekali untuk mengetahui penyebabnya sekarang ini. Namun, dua hal ini yaitu kesalahan sistem dan juga teknis yang menjadi fokus saya” terangnya.

Dudi pun menambahkan, kebenaran mengenai jatuhnya pesawat ini baru bisa diungkap apabila telah ditemukannya black box atau kotak hitam dari cockpit voice recorders (CVR), yang memang merupakan rekaman data penerbangan Sebagai informasi saja, Black Box memang digunakan untuk merekam seluruh data dalam penerbangan.

Biasanya Black Box pasti akan selalu merekam percakapan antara pilot dan juga Air Traffic Controller (ATC) alias menara pemandu lalu lintas udara. Saking pentingnya barang yang satu  ini, Black Box tidak boleh absen untuk menjadi bagian dari pesawat terbang.