Sunday, September 27Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Para Konglomerat Dalam Kubu Jokowi Dan Prabowo

Para Konglomerat Dalam Kubu Jokowi Dan Prabowo

Dukungan konglomerat dalam gerak pemenangan antara kedua kubu merupakan mesin penting, selain juga bagian dari strategi politik. Keberadaan mereka menjadi semacam katalisator, yang mengantar arah kampanye masing-masing kubu, “Akan dikonsep seperti apa, akan dibawa ke mana branding calon yang diusung?” Betapapun kampanye membutuhkan duit yang super mahal, dan para konglomerat merupakan sumber air yang so dekat.

Merujuk dari data dari Catatan Orang Terkaya Se-Indonesia versi Globe Asia, seperti dikutip dari idntimes.com (16/10/2018), pada kontestasi pilpres kali ini, agaknya terjadi ketimpangan posisi dibandingkan pilpres tahun lalu di mana kubu Prabowo-Hatta seakan dijargonkan sebagai lumbung konglomerat, tetapi kini harus berbalik keadaan.

Seperti dikutip dari laman tirto.id (16/10/2108), setidaknya nama konglomerat di urutan atas, rupanya lebih banyak yang mendukung Jokowi. Harry Tanoe Soedibjo yang pada 2014 mendukung Prabowo, kini meloncat ke kubu Jokowi, Harry menjadi konglomerat terkaya di urutan 19, merupakan yang paling kaya dibandingkan konglomerat lain yang ikut dalam keramaian pilpres kali ini. Sedangkan di kubu Prabowo, Hashim Djojohadikusumo merupakan yang “terbaik” urutannya, berada di deretan 48.

Paling tidak skor-nya, kasarannya, adalah 5 : 3, posisi ini tentu cukup timpang. Namun apakah keberadaan konglomerat berbanding lurus dengan keberhasilan mereka dalam meraih kemenangan di pilpres nanti? Tentu saja keberadaan mereka bukanlah sebuah jaminan kemenangan, karena penentu nasib sudah pasti adalah kepercayaan dan simpati rakyat, suara rakyat.

Apakah dengan budget yang tersedia mereka mampu memanfaatkannya dengan baik, menggerakkan kampanye sesuai target, dan meracik strategi politik dengan lebih efisien? Tapi tunggu dulu, tentu saja keputusan untuk mengeluarkan duit demi tercapainya tujuan politik juga ada hitung-hitungannya sendiri dan itu rahasia perusahaan masing-masing. Nah masalahnya, mereka-mereka ini berani kasih berapa, royal tidak, ada deal to deal-nya nggak? Atau justru malah pelit dan ngirit.

Sebagai gambaran mari kita ulas sedikit bagaimana reputasi mereka.

1). Harry Tanoe Sudibjo

-Pendiri Partai Perindo

-Bos Media MNC Corporation, Global Mediacom, MNSC Media

-Media mencatat kekayaannya mencapai 1,75 miliar dollar AS

2.) Surya Paloh

-Pendiri Partai Nasdem

-Pemilik Harian Media Indonesia, Lampung Post, dan MetroTV

-Kekayaannya sekitar 575 juta dollar AS

3). Hashim Djojohadikusumo

-Merupakan Adik Prabowo Subianto, dan wakil ketua Dewan Pembina Partai Gerindra

-Investor dan Bos berpengaruh di Arsari Group yang bergerak di bidang pertambangan, perkebunan, dan logistik

-Kekayaannya mencapai USD 915 juta

4). Jusuf Kalla

-Wakil Presiden RI, dua periode (SBY dan Jokowi)

-Pemilik Perusahaan Kalla Group yang bergerak di banyak sektor

-Kekayaannya mencapai USD 900 juta

5). Oesman Sapto Odang

-Ketua Umum Partai Hanura

-Bos OSO Group yang bergerak di pertambangan, properti, perkebunan, dan banyak hal

-Pemilik lahan sawit seluas 27.725 hektar yang dikelola secara terpadu dengan pengelolaan ikan dan udang

-Kekayaannya menurut Globe Asia mencapai USD 400 juta

6). Sandiaga Uno

-Bos besar PT Recapital Advisors, Adaro, PT Saratoga Investama Sedaya

-Direktur pemegang saham perusahaan luar negeri seperti Goldwater Company Limited, Attica Finance Ltd, Velodrome Worldwide, dan Sun Global Energy Inc

-Kekayaannya ditaksir mencapai USD 500 juta

7). Erick Tohir

-Pengusaha sukses, pemilik media Mahaka Group, klub sepak bola Inter Milan (Serie A- Italy) klub DC United (Amerika Serikat), Komisaris Persib Bandung, dan usaha-usaha lain

– Media Globe mencatat harta Erick adalah 1,4 miliar dollar AS

8). Tommy Soeharto

-Hutoma Mandala Putra menjadi Bos di Perusahaan Humpuss yang bergerak di bidang investasi, pengapalan, dan properti

-Ketua umum partai Berkarya

-Kekayaannya mencapai USD 670 juta