Tuesday, June 18Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Mohammed Salah Mampu Kurangi Islamofobia Di Inggris

Mohammed Salah Mampu Kurangi Islamofobia Di Inggris

Tak bisa disangkal, keberadaan Mohamed Salah di Liverpool telah berdampak baik bagi klub bola tersebut. Selama dua musim berturut-turut pesepak bola asal Mesir itu menjadi pencetak gol terbanyak untuk Liverpool. Dua musim berturut-turut pula Mo Salah sukses menjadi top skorer di Liga Premier, kompetisi sepak bola dengan kasta tertinggi di Inggris.

Dua musim berturut-turut Salah juga mampu membawa Liverpool mencapai fase final Liga Champions, ajang kompetisi sepak bola tertinggi di Eropa. Dan terakhir, pada 2 Juni kemarin, pria Muslim kelahiran 15 Juni 1992 itu berhasil menjadikan Liverpool sebagai juara di perhelatan sepak bola tertinggi benua biru dengan menyumbang 1 gol di partai final melawan Tottenham Hotspur.

Tak hanya berdampak baik bagi Liverpool, keberadaan Mo Salah di Liverpool ternyata juga berefek positif bagi kehidupan masyarakat Muslim di Inggris. Menurut hasil sebuah riset terbaru, keberadaan Mo Salah di Liverpool telah menurunkan tingkat islamofobia di wilayah sekitar klub bola tersebut. Islamofobia sendiri adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka buruk dan diskriminasi pada Islam atau Muslim.

Dalam riset ini, para peneliti dari Stanford University dan ETH Zurich mengobservasi kasus-kasus kejahatan rasial yang terjadi antara tahun 2015 hingga 2018 di Merseyside, sebuah county di Inggris yang menjadi markas bagi klub bola Liverpool. Selain itu, para peneliti juga menganalisis cuitan-cuitan bernada anti-Muslim di Twitter yang dilakukan oleh para penggemar Liverpool.

Hasilnya, sebagaimana dipaparkan dalam laporan riset sebelumnya. Disitu ada hubungan antara keberadaan Mo Salah dengan penurunan sentimen buruk terhadap Muslim dan Islam di wilayah sekitar Liverpool.

“Kami menemukan bahwa daerah Merseyside (rumah bagi Liverpool F.C.) mengalami penurunan 18,9% dalam kejahatan rasial” yang ditujukan terhadap orang-orang Muslim, tulis para peneliti dalam laporan riset yang dipublikasikan pada 31 Mei 2019 ini. Angka penurunan tersebut dihitung sejak Salah resmi bergabung dengan Liverpool pada musim panas 2017 lalu.

Di samping itu, riset ini menemukan bahwa jumlah tweet bernada anti-Muslim dari para suporter Liverpool juga menurun dari 7,2 persen menjadi 3,4 persen sejak keberadaan Mo Salah di klub bola berjuluk The Reds tersebut. Hal ini adalah kabar yang menggembirakan mengingat ada banyak orang dari kelompok suporter sepak bola di Inggris yang kerap melakukan kejahatan rasial terhadap Muslim.

Laporan riset ini secara khusus juga menyoroti kejadian menarik pada Februari 2018, sesaat setelah Liverpool memenangkan pertandingan melawan FC Porto. Kala itu, kelompok suporter Liverpool menyanyikan chant khusus untuk Mo Salah yang merupakan seorang Muslim.