Saturday, September 21Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Mengintip, Menjajal Dan Menghuni Kos Kapsul Di Jakarta

Mengintip, Menjajal Dan Menghuni Kos Kapsul Di Jakarta

Berimpitan di kota besar bukan cerita baru. Lahan yang cukup terbatas membuat harga papan di Jakarta tidak manusiawi. Sebuah solusi ditawarkan, kos kapsul. Konsep tempat singgah yang biasanya diaplikasikan untuk pelancong sementara. Kini sudah diadaptasi untuk jadi bilik istirahat permanen. Namun bagi sebagian para penghuninya, ini adalah gaya hidup yang dipilih. Bukan karena keterpaksaan.

Kos kapsul pun ramai dibahas sejak kos sejenis di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat, disegel lantaran dinilai tak layak huni. Walau begitu, penghuninya punya perspektif berbeda. Mereka justru merasa terbantu dengan kos ala sleep box tersebut. Kos itu disewakan khusus untuk laki-laki. Harga satu kabin kapsul itu kalau tak salah berkisar Rp 50 ribu-60 ribu per hari. Bila mau sewa langsung untuk sebulan, maka dikenakan biaya sekitar Rp 600 ribu.

Seperti kos umumnya—atau juga hostel, kos kapsul yang kusambangi itu punya ruang bersama untuk tempat bersantai para penghuninya. Di ruangan itu ada televisi layar datar (LED) tergantung di dinding. Namun TV itu tampaknya tak terlalu diminati. Para penghuni kos lebih senang bersenda gurau sembari menyesap kopi dan mengisap rokok ketimbang menonton TV.

Di ruangan itu juga memang terdapat lemari kabinet berisi kopi, teh, mi instan dan air mineral. Lengkap dengan kompor dan bak cuci piring. Sementara di sudut lainnya, terdapat empat toilet dan juga tempat mencuci baju. Semua fasilitas itu untuk digunakan bersama. Nuansanya betul-betul seperti hostel untuk backpacker.

Oh, musala juga ada di kos itu. Tak jauh darinya, tersedia pula deretan loker untuk menaruh barang-barang penghuni kosan.

Kamar tempatku bermalam itu berukuran sekitar 4 x 4 meter. Di dalamnya berjajar pula kabin-kabin kapsul bertingkat—atas dan bawah—yang satu sama lain bersekat tripleks tebal. Kamar itu dilengkapi pendingin ruangan alias AC.

Itu kali pertama aku menginap di kabin kapsul. Kebetulan kabin yang di sebelah kabin kawanku sedang kosong ditinggal penghuninya pulang kampung, Sehingga akhirnya aku mendapat izin pemiliknya untuk menempatinya barang semalam. Waktu itu, aku habis lembur menggarap tugas sehingga terlalu lelah serta sangat mengantuk untuk berkendara pulang.

“Berhemat” memang jadi kata kunci di sini. Penghuni lain kos itu yang perantau dari luar pulau, juga cukup getol menabung sebagian gajinya. Ia tak mau repot-repot bayar mahal demi ruang tinggal lebih luas dan nyaman.

Apa pun itu, kos kapsul memang bisa jadi solusi alternatif bagi kaum urban yang hendak berhemat. Malam kian larut dan AC kamar pun terasa semakin dingin. Tubuhku sepertinya sudah mulai beradaptasi dengan hawa kabin di kapsul ini. Di sekotak ruang itu, aku pun memejamkan mata.