Thursday, September 24Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Mengapa Harus Anti Terhadap Segitiga Yang Dianggap Illuminati

Mengapa Harus Anti Terhadap Segitiga Yang Dianggap Illuminati

Umat Islam diklaim sebagai target, dan strategi Illuminati antara lain meletakkan simbol mirip lambang perkumpulan mereka di masjid dan gedung-gedung lain. Lambang Illuminati yang paling umum biasanya adalah segitiga yang berpuncak pada ilustrasi satu mata. Lambang ini diyakini tidak hanya membentuk interior Masjid Al-Safar, tapi juga pada eksteriornya. Yaitu sekumpulan segitiga yang secara abstrak membentuk pada dinding bangunan.

Mula-mula Segitiga

Sulit memastikan sejak kapan manusia menyarikan segitiga sebagai bentuk geometris dan menggunakannya keperluan praktis. Yang jelas, banyak orang dari pelbagai bangsa dan peradaban terlibat mencari ilmu dan amal segitiga. Peradaban kuno Yunani, Babilonia, India, dan Cina telah menggunakan prinsip segitiga untuk mengukur pergerakan benda-benda langit, mulai dari planet, bintang, bulan, dan hingga matahari.

Dalam artikelnya di Live Science, Robert Coolman mengatakan catatan tertua fungsi sinus diketahui berasal dari India abad ke-5. Itu termuat dalam karya Aryabhata, Aryabhatiya. Selain Aryabhatiya, ada pula buku astronomi, siddhantas, yang membahas gerak-gerik benda langit yang kemudian ditulis ulang Varahamihira.

Sementara itu, pada abad ke-6 SM, Mahabhaskariya yang disusun Bhaskara I menunjukkan cara menghitung nilai sinus dengan rasio fungsi kuadrat. Di Yunani Kuno, yang berkecimpung di bidang itu antara lain Eudoxus, Aristarchus, Hipparchus, Menealos, dan Ptolomeus. Yang disebut terakhir merupakan penganut geosentrisme, bumi pusat alam semesta. Lahir di abad ke-2 SM, Ptolomeus menulis Almagest, buku yang menghimpun bujur dan lintang benda-benda langit, paralaks, jarak dan ukuran relatif Matahari dan Bulan, gerakan bulan dan matahari, hingga gerhana.

Selain mereka, Eukleides menulis buku Elements pada abad ke-3. Elements adalah salah satu karya paling penting dalam perkembangan matematika. Dalam proposisi 20 Buku I Elements, Eukleides menuliskan apa yang sekarang dikenal dengan sebutan prinsip ketidaksamaan segitiga: jumlah panjang sebarang dua sisi segitiga selalu lebih besar dari satu sisi lainnya.

Karena rumusan itu Eukleides dibilang terlalu sibuk mengurusi hal-hal yang sudah jelas-jelas jelas. Alexander Ostermann dan Gerhard Wanner menuliskan dalam Geometry by Its History (2012) bahwa rumusan Eukleides itu dicibir “Digni ipsi, qui cuma Asino feonum essent”. Ungkapan itu kurang lebih berarti, “Bahkan bila seekor keledai ditaruh di satu titik sudut segitiga dan sebongkah jerami diletakkan di satu titik sudut lain, keledai akan berjalan melewati satu sisi yang menghubungkan dia dan sebongkah jerami itu, bukan dua sisi lainnya.”

Melalui sikap kritis, sebagian masyarakat dunia menganggapnya sebagai omong kosong. Tapi, bagi sebagian lainnya, Illuminati bukan hanya sosok yang diyakini, tapi juga diwaspadai. Beberapa pesohor yang pernah memakai simbol mirip Illuminati untuk kepentingan persona maupun bisnis pun kena tuduhan macam-macam.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, Amika melacak problemnya hingga ke pendidikan. Pendidikan di Indonesia selama ini memang belum mampu berbuat banyak. Misalnya seperti membekali orang-orang untuk tahan terhadap analisis serampangan model para pegiat teori konspiratif. Mereka, dalam kata lain, adalah korban. Efek latennya? “Merusak kohesi (ikatan) masyarakat sebagai sebuah bangsa karena kulturnya saling mencurigai, tidak saliing berpikir positif. Sedikit-sedikit Illuminati, sedikit-sedikit PKI, sedikit-sedikit Yahudi.”

Trigonometri Dimuliakan Ilmuwan Islam

Ilmu trigonometri ala India dan Yunani kuno itu kemudian dihimpun dan dikembangkan lebih lanjut di Baghdad, tepatnya di Perpustakaan Besar Baghdad yang didirikan oleh khalifah Islam Abassiyah dan akrab disebut “Rumah Kebijaksanaan”.

Setelah ini, trigonometri terus berkembang. Hingga zaman Copernicus saja, kita bisa tahu bahwa ilmu yang mempelajari segitiga telah mampu membawa manusia memahami gerak matahari dan bumi yang sebenarnya, sesuatu yang menurut sejarawan sains Thomas Kuhn sebagai salah satu paradigm shifts, tergantinya pandangan dunia yang dominan oleh pandangan lain. Begitulah segitiga. Di tangan mereka yang ingin memuliakannya, ia bisa jadi pembuka gerbang pengetahuan.