Saturday, February 16Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Menerawang Tes Keperawanan Di Berbagai Negara

Menerawang Tes Keperawanan Di Berbagai Negara

Meskipun sering kali dinilai tak ilmiah, nyatanya “Tes Keperawanan” masih diberlakukan di Indonesia. Sebagian masyarakat meyakini bahwa tes seperti ini, penting dilakukan untuk menjamin seorang perempuan dalam kondisi sehat jasmani dan rohaninya. Sama halnya dengan nasib sejumlah perempuan, yang mau tak mau harus menjalani tes keperawanan terlebih dahulu, demi menikah dengan sosok impiannya.

PBB dan WHO mengimbau agar seluruh Negara di dunia menghentikan tes keperawanan pada wanita, karena dianggap tidak ilmiah dan dapat dikategorikan sebagai pelanggaran HAM. Namun, tercatat masih ada 20 Negara yang masih melakukan tes keperawanan, salah satunya adalah Indonesia.

Entah untuk keperluan apa, beberapa lembaga mengharuskan calon pegawai wanita untuk menjalani test tersebut. Sebagian pihak menganggap hal ini terlalu pribadi dan bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Pada 17 Oktober 2018 tiga organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yakni Badan Kesehatan Dunia (WHO), UN Women, dan UN Human Rights Office (OHCHR), meminta agar praktik “tes keperawanan” di seluruh negara di dunia dihapuskan.

Berdasarkan data yang dimiliki WHO, ada 20 negara yang pernah melakukan “tes keperawanan”. Dari 20 negara itu, salah satu negara yang masih melakukannya adalah Indonesia. Menurut catatan Human Rights Watch, hingga 2018 ini perempuan di Indonesia masih terpaksa harus menjalani “tes keperawanan” untuk bisa bergabung menjadi anggota POLRI dan TNI. Bahkan, calon istri anggota TNI juga diharuskan menjalani tes semacam ini.

Lantas bagaimana dengan “tes keperawanan” di negara-negara lain? Berikut catatan praktik “tes keperawanan” di sebagian negara dari 20 negara yang disebut masih dan/atau pernah melakukan “tes keperawanan”.

  1. Afghanistan

Berdasarkan laporan Human Rights Watch (HRW), “tes keperawanan” masih terus terjadi di Afganistan. Perintah untuk melakukan tes ini bisa berasal dari petugas polisi, dan beberapa perempuan dipaksa menjalani beberapa kali pemeriksaan vagina tanpa alasan yang jelas. Pada Juli 2018 The Guardian melaporkan bahwa ada banyak perempuan di Afghanistan yang dimasukkan ke dalam penjara hanya karena mereka dianggap “gagal” dalam “tes keperawanan”.

  1. Mesir

CNN melaporkan, ada seorang jenderal senior Mesir yang tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa pernah dilakukan “tes keperawanan” massal terhadap para perempuan peserta demonstrasi 9 Maret 2013.  Menurut jenderal itu, tes dilakukan agar para perempuan yang ditangkap tidak menuduh pihak militer melakukan pemerkosaan terhadap mereka.

Sementara itu, ada seorang korban mengatakan kepada HRW bahwa ia menjalani “tes keperawanan” yang sangat hina. Ia mengaku diperiksa keperawanannya di hadapan tentara-tentara lain dengan cara sangat merendahkan. Bahkan pemeriksaan keperawanan dilakukan oleh dokter pria, bukan dokter perempuan.

Tiga tahun kemudian, pada Oktober 2016, seorang anggota parlemen Mesir meminta agar ada “tes keperawanan” untuk para perempuan di Negeri Firaun itu sebagai syarat untuk masuk universitas. Hal ini, sebagaimana dilansir CNN, tentu saja memancing penolakan dan protes keras dari masyarakat Mesir.

  1. India

Kelompok etnis Kanjarbhat di India punya tradisi “tes keperawanan”. Ada kebudayaan yang membuat pasangan pengantin baru harus menunjukkan seprai putih dengan noda bercak darah setelah berhubungan seks pertama kalinya setelah menikah. Jika pengantin perempuan tidak berdarah di malam pertamanya, ia akan mendapat kekerasan dan penghinaan dari komunitasnya. Bahkan kadang-kadang sampai langsung dicerai.

  1. Afrika Selatan

Menurut Dr. Nomagugu Ngobese, pendiri Nomkhubulwane Culture and Youth Development Organisation, “tes keperawanan” merupakan bagian tak terpisahkan bagi kebudayaan Zulu di Afrika Selatan. ‘Tes keperawanan’ adalah bagian dari kebudayaan yang suci bagi kami, dan kami tidak malu atas hal itu,” tambah dia.

  1. Turki

Profesor Sahika Yuksel, dokter dan juga aktivis anti “tes keperawanan”, mengatakan bahwa di Turki “tes keperawanan” seakan dijadikan juga sebagai tes bagi kehormatan keluarga. Jika si perempuan tidak berhasil memenuhi harapan tersebut, si perempuan bisa terbunuh atas nama kehormatan keluarganya sendiri.

Selain lima negara di atas, 15 negara lainnya yang menurut WHO pernah dan/atau masih melakukan “tes keperawanan” adalah Indonesia, Brasil, Iran, Irak, dan Yordania. Selain itu, tes semacam ini pernah dan/atau masih ditemukan juga di Jamaika, Libya, Malawi, Maroko, dan Palestina. Lalu pernah dan/atau masih ada juga di Sri Lanka, Swaziland, Inggris, Irlandia Utara, dan Zimbabwe.

Related Post

Sidik Jari, Langkah Baru Google Amankan Login di C... Langkah pengamanan login dengan menggunakan user name dan password nampaknya sudah tidak lagi efektif, selain lebih lama untuk masuk dalam akun, ada...
Debat Pilpres Pakai Bahasa Inggris, Ini Jawaban Jo... Entah karena menyangsikan kemampuan Bahasa Inggris Jokowi dan ingin menjatuhkan kredibilitas dari petahana, muncul usulan dari kubu pendukung Prabow...
Penuaan Dini Menjadi Risiko Terberat Bagi Pecandu ... Penuaan dini menjadi hal yang dihindari oleh wanita menjelang 40 tahun, penyebabnya kini bukan gangguan makanan atau pola hidup yang tidak teratur. In...
Venus dan Mars Dapat Terlihat Jelas Saat Gerhana B... Venus dan Mars merupakan planet terdekat dengan bumi, dimana tidak akan bisa dilihat langsung dengan mata telanjang. Namun dengan adanya fenomena lang...