Monday, June 17Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Mau Tahu Asal Usul Warteg Sehingga Melegenda Seperti Sekarang

Mau Tahu Asal Usul Warteg Sehingga Melegenda Seperti Sekarang

Seperti dilansir dari Liputan6.com, Tokoh warteg Asmawi telah menuturkan warteg muncul sekitar 1960-an. Kemunculannya memang seiring dengan pembangunan infrastruktur di Ibu Kota yang begitu pesat setelah 20 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Warung Tegal alias warteg itu di manapun berada seringkali menjadi andalan para warga segala kalangan untuk mengisi perut yang keroncongan. Keberadaannya juga tidak hanya terpusat di kota-kota besar, tetapi juga berdiri di kota-kota kecil di seluruh Nusantara.

Tokoh warteg Asmawi menuturkan warteg muncul sekitar 1960-an. Kemunculannya pun seiring dengan pembangunan infrastruktur di Ibu Kota yang begitu pesat setelah 20 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.  Saat itu, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno berupaya mempercepat pembangunan infrastruktur ibu kota dengan cepat. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan warga Tegal untuk mengadu nasib di Jakarta. Mereka saat itu kebanyakan bekerja sebagai buruh bangunan dan tinggal di lokasi proyek dengan membuat bedeng.

“Di sela pekerjaannya itu, bagi sejumlah istri kuli bangunan mencoba untuk berbisnis kuliner dengan menjual nasi ponggol di lokasi proyek,” ucap Asmawi kepada Liputan6.com di kediamannya di Tegal, Jateng, hari Selasa (20/9/2016). Nasi ponggol merupakan hidangan makanan nasi putih dengan lauk makanan sambal tahu dan tempe yang dibungkus dengan daun pisang. Menu itu merupakan makanan khas Tegal yang sudah turun temurun dan diperkirakan ada sejak setengah abad yang lalu.

Dari segi harga, nasi ponggol cukup murah meriah, lezat dan mengenyangkan. Maka dari itu, nasi ponggol mampu menjadi favorit para pekerja proyek bangunan yang pekerjaannya menguras keringat. “Karena nasi ponggol memang sudah dikenal warga Tegal, maka bisnis kuliner itu pun jalan dan terus berkembang. Dari berjualan di pojok-pojok lokasi proyek, hingga akhirnya memiliki warung sendiri,” kata dia.

Seiring waktu berjalan, warteg dibuka tidak hanya di sekitar lokasi proyek-proyek pembangunan saja. Waktu mulai merambah ke pemukiman-pemukiman. Memasuki awal tahun 1990-an, bangunan warteg yang bangunannya berbentuk bedeng darurat berubah menjadi bangunan semi permanen. Namun, ciri khas dari bangunan warteg yang berukuran 3×3 meter dan bagian depan bercat biru masih terus kerap dipertahankan hingga sekarang.

“Kalau sekarang ini warteg memang sudah sangat berkembang, bahkan sampai beberapa di antaranya sudah menjadi rumah makan. Tapi, ternyata masih ada juga yang bentuknya masih seperti biasa yang sederhana,” kata dia.   Warteg memang menyajikan sejumlah lauk pauk dan sejumlah sayur mayur yang umum dikonsumsi masyarakat Indonesia. “Untuk menunya, biasanya sama saja antara warteg satu dengan warteg lainnya. Intinya itu ada sego bumbon, sambal tempe dan juga tahu, sayur bening, ikan laut serta daging,” kata dia.

Asmawi menyebut pionir juragan dari warteg adalah Mbah Bergas. Ia telah menjadi menjadi ujung tombak dan membawa warga Tegal ke Jakarta untuk mengadu nasib mereka. “Mbah Bergas adalah orang yang pertama kali mengajak warga Desa Sidakaton dan juga Desa Sidapurna merantau ke ibu kota. Saat itu, ia merantau untuk mencari pekerjaan yang layak dan juga menghasilkan rezeki untuk memenuhi kehidupan keluarganya di rumah,” kata dia.

Barulah beberapa tahun kemudian, warga yang merantau di ibu kota yang memang sebagian besar menjadi tukang kayu dan juga tukang batu bekerja di proyek.  “Dalam perantauan itu, ternyata banyak warga yang menjadi pekerja buruh bangunan dan di sanalah kemunculan warteg atau penjual nasi ponggol yang mulai berkembang,” tutur dia.

Sebagai penghormatan kepada sesepuh yang telah turut andil dalam perkembangan warteg di ibu kota, warga pun menamai sebuah tempat pemakaman umum dengan nama Mbah Bergas. Lokasinya diketahui berada di Desa Sidapurna, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Saat ini, kata dia, warteg tidak hanya di kabupaten atau kota di seluruh Indonesia. Keberadaan warteg nyatanya telah merambah ke mancanegara dan bisa meraih sukses.

“Sekarang ini warteg sudah dikenal di seluruh pelosok nusantara. Selain itu juga ada di mancanegara seperti di Arab Saudi. Di sana ternyata ada pengusaha warteg yang bisa meraih sukses,” ujar Asmawi.