Thursday, May 23Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Mari Rasakan Sensasi Zaman Batu Kampung Tradisional Di Flores

Mari Rasakan Sensasi Zaman Batu Kampung Tradisional Di Flores

Pernahkah kamu mencoba membayangkan tinggal di zaman batu seperti dalam sejarah? Atau ingin merasakan sensasi untuk tinggal di zaman batu? Jika kamu bermimpi untuk sekali saja merasakan hal tersebut, sepertinya kamu harus mengunjungi Flores. Ya, rasanya tak lengkap jika kamu pergi ke Flores, tanpa mengunjungi kampung tradisional bernama Bena. Di sana, kamu pasti akan merasakan sensasi hidup di zaman batu, dilengkapi pula dengan keramahan penduduknya.

Berlokasi sekitar 18 km dari kota Bajawa, di Pulau Flores, kampung Bena ini masih menyisakan jejak-jejak budaya megalitikum. Kampung Bena memiliki panjang 375 meter dan lebar 80 meter, dengan bentuk menyerupai perahu.  Masyarakat Bena percaya, jika perahu dianggap sebagai wahana yang membawa arwah ke tempat peristirahatan terakhir. Tak hanya itu saja, makna lainnya ialah menggambarkan sifat kerja keras dan gotong royong.

Rumah-rumah di Kampung Bena ini juga dihiasi dengan tanduk kerbau serta taring babi hutan yang menandakan status sosial pemiliknya.  Kehidupan di kampung Bena ini pun tak banyak berubah sejak 1.200 tahun yang lalu. Ada sembilan suku yang diketahui menghuni 45 unit rumah, yaitu suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago.

Mereka hidup dan juga tinggal di rumah-rumah yang dihiasi dengan tanduk kerbau, serta taring babi hutan yang menandakan status sosial pemiliknya. Setiap rumah biasanya juga beratap alang-alang, dengan tambahan susunan batu gunung. Pada area halaman tengah kampung, terdapat ngadhu atau bhaga, yaitu simbol hubungan kekerabatan antara leluhur dan generasi saat ini hingga selamanya.

Ngadhu sendiri merupakan bentuk representasi nenek moyang laki-laki dari satu suku, disimbolkan dalam bentuk sebuah tiang kayu yang diukir menjadi motif sawa, beratap alang-alang dan ijuk dengan dua tangan memegang parang serta tombak. Sedangkan bhaga representasi dari nenek moyang perempuan dari satu suku

Yang membedakan antara suku yang satu dengan yang lain adalah adanya tingkatan sebanyak sembilan buah. Setiap satu suku berada dalam satu tingkat ketinggian.  Untuk rumah kepala suku yang memimpin kampung ini memiliki ciri khas, yaitu di bagian atas rumahnya terdapat boneka orang-orangan yang disebut Sakabolo.

Jika ingin berkunjung ke sana, pintu masuk kampung berada di utara, sedangkan bagian selatan merupakan puncak dan tepi tebing yang terjal. Mayoritas warga suku Bena ini bekerja sebagai peladang, dengan kebun-kebun yang tumbuh di sekeliling kampung. Dalam berkomunikasi mereka menggunakan bahasa Nga’dha dan mayoritas masyarakatnya beragama Katholik. Namun tetap pula menjalankan kepercayaan leluhur, termasuk adat dan tradisinya.

Kini, Kampung Bena sudah dihuni 326 jiwa yang terdiri dari 120 keluarga. Sebenarnya ikatan adat ini juga lebih banyak lagi karena ada yang merupakan keturunan warga Bena, namun tinggal di luar kampung. Masyarakat di sini menganut sistem kekerabatan dengan mengikuti garis keturunan dari pihak ibu. Jika lelaki Bena menikah dengan wanita dari suku lain, maka ia menjadi bagian dari istrinya.

Wanita Bena diwajibkan untuk bisa ahli dalam menenun, dengan motif kuda dan gajah yang menjadi ciri khasnya. Warga Bena juga masih dan memang harus mempercayai jika di puncak Gunung Inerie bersemayam Dewa Zeta yang melindungi mereka semua selama ini. Gunung ini memiliki tinggi 2.245 mdl yang merupakan gunung dengan hutan lebat di sebelah baratnya saja. Sedangkan pada bagian selatan berupa perkebunan. Bagi warga Bena, Gunung Inerie dianggap sebagai hak mama (ibu) dan Gunung Surulak dianggap pula sebagai hak papa (ayah).