Tuesday, May 21Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Lika Liku Perjalanan FPI Dari Waktu Ke Waktu

Lika Liku Perjalanan FPI Dari Waktu Ke Waktu

Rencana perpanjangan status FPI sebagai ormas menuai pro-kontra. Berdasarkan rekam jejaknya, ormas yang berdiri sejak 1998 ini kerap melakukan aksi yang ditentang sebagian masyarakat. Namun, mereka tak segan bertandang ke berbagai lokasi bencana untuk membantu masyarakat yang menjadi korban.

Sebetulnya, polemik apa yang menyertai perkara legalitas FPI? Dan bagaimana latar belakang berdirinya ormas ini? Surat Keterangan Terdaftar (SKT) organisasi masyarakat Front Pembela Islam atau FPI akan berakhir pada Juni 2019.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyatakan hingga kini FPI belum mengurus perpanjangan SKT tersebut. Menurut Tjahjo di DPR, pada hari Selasa tanggal 7 Mei 2019, FPI belum memperpanjang SKT. Sementara itu, muncul petisi daring (online) yang berjudul ‘Stop Ijin FPI’ pada Ahad lalu. Petisi itu dibuat oleh seseorang bernama Ira Bisyir, ditujukan ke Menteri Dalam Negeri yang berisi ajakan kepada orang-orang untuk menolak perpajangan izin FPI yang akan segera berakhir.

“Mengingat akan berakhirnya ijin organisasi FPI di Indonesia itu, mari kita bersama-sama menolak perpanjangan ijin mereka. Karena organisasi tersebut merupakan kelompok Radikal, pendukung kekerasan dan juga pendukung HTI,” demikian tulis pembuat petisi.

Peran Sentral Habib Rizieq

Front Pembela Islam bukanlah organisasi kemarin sore. FPI diketahui sudah berkiprah selama 18 tahun di negara ini. Seperti terpacak pada situs resminya fpi.or.id, FPI dideklarasikan secara terbuka di Pondok Pesantren Al-Umm, Tangerang, pada 25 Robi’uts Tsani 1419 Hijriyyah atau tanggal 17 Agustus 1998.

FPI didirikan oleh sejumlah ulama, haba’ib, serta aktivis muslim dipelopori seorang tokoh keturunan Hadrami bernama Rizieq Shihab. Meskipun secara formal memang baru terbentuk pada 17 Agustus 1998, tetapi FPI sebelumnya telah merintis kemunculannya di publik lewat pengajian, tabligh akbar, audiensi dengan unsur-unsur pemerintahan, serta silaturahmi dengan tokoh-tokoh agama terkemuka.

Reformasi 1998 dan Pam Swakarsa

FPI merupakan salah satu organisasi muslim yang hadir dengan memanfaatkan ruang gerak politik yang lebih luas setelah keruntuhan rezim Orde Baru Soeharto. Secara umum, setelah Reformasi 1998, Indonesia diwarnai maraknya perkembangan berbagai partai, lembaga swadaya masyarakat, organisasi massa, dan lain sebagainya. FPI adalah salah satu kelompok yang turut menunggangi gelombang demokratisasi ini.

Di sisi lain, riset yang dilakukan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dalam buku Premanisme Politik (2000) mengungkapkan pembentukan FPI tak dapat dilepaskan dari tiga peristiwa: Kerusuhan Ketapang, Sidang Istimewa MPR, dan pembentukan organ paramiliter Pengamanan (Pam) Swakarsa. Ketiga peristiwa ini merupakan lanjutan gelombang demonstrasi Reformasi 1998 yang bergulir sejak Mei 1998.

Kedekatan dengan Berbagai Tokoh Politik

FPI kerapkali dituding sebagai kelompok yang telah mendapatkan perlindungan politik dari beberapa tokoh terkemuka atau bahkan dari aparat keamanan. Kecurigaan ini seringkali muncul karena FPI seakan-akan kebal dari hukum atas aksi-aksi main hakim sendiri yang pernah mereka lakukan.

Terkait hal ini, Taufik Adnan Amal dan Samsu Rizal Panggabean dalam Politik Syari’at Islam: Dari Indonesia ke Nigeria (2004) mencatat FPI dinilai dekat dengan orang-orang di sekitar Soeharto, khususnya Prabowo Subianto yang merupakan menantunya sekaligus seorang perwira tinggi militer pada tahun 1998. Setelah Prabowo diberhentikan dari TNI terkait penculikan aktivis, FPI mengalihkan dukungannya kepada Jenderal Wiranto.