Tuesday, May 21Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Lika-Liku Klub Sepakbola Marjinal Di Ibu Kota

Lika-Liku Klub Sepakbola Marjinal Di Ibu Kota

28 September 1893, Batavia berkenalan dengan sepak bola. Persija memang menjadi yang terbesar di Jakarta hingga sekarang. Namun, Persija tidak sendirian. Jakarta bukan menjadi milik Persija seorang. Ada sekitar 21 klub yang tersebar di seluruh Jakarta. Namun, ke-21 klub itu memang masih berkutat di kompetisi Liga 3.

Misalnya, ada Persitara. Ada juga Persija Jakarta Selatan (PSJS). Di Jakarta Barat ada Persija Barat. Ada juga Persijatim, tapi sudah dijual. Sekarang klub yang mewakili Jakarta Timur itu bernama Jakarta Timur FC. Tinggal Pulau Seribu yang belum ada perserikatannya,” jelas Aldi kepada kumparanBOLA.

Namun, Persija memang menjadi klubnya Jakarta. Persija telah membuktikan diri sebagai salah satu yang terbaik dengan deretan prestasi. Mungkin mereka tertarik untuk mengikuti perkembangan dunia bola. Akhirnya, mereka berpikir karena yang paling ramai sekarang mewakili DKI adalah Persija, ya, tahunya Persija saja,” lanjut Aldi.

Sepak bola memang perkara ajaib. Di balik kucuran keringat, tekel keras, dan lesakan gol ada perlawanan memperjuangkan kedaulatan. Syukurlah karena VIJ tak sendirian. Masih ada kawan-kawan Bandoengsche Indonesia Voetbal Bond (BIVB), Madioensche Voetbal Bond (MVB), Soerabajasche Indonesia Voetbal Bond (SIVB), Indonesia Voetbal Bond Magelang (IVBM), Persatuan Sepak Bola Mataram (PSM), dan Vortenlandsche Voetbal Bond Solo (VVBS) yang berjuang sama.

Saat kemerdekaan sudah direngkuh, sepak bola tetap bergulir. Persija tetap ada di sana. Tapi, Macan Kemayoran tak selamanya garang. Ambil contoh saat sepak bola Indonesia baru berkenalan dengan Liga Indonesia (LI), hasil peleburan Galatama dan Perserikatan pada 1994. Dua tahun berikutnya, Persija tak membaik. Permasalahan finansial mengguncang Persija.

Juru selamat itu bernama Sutiyoso, sang Gubernur Jakarta. Menjabat sebagai gubernur sejak 1997, Sutiyoso paham betul bahwa sepak bola mesti ditopang dengan kekuatan finansial untuk sanggup merengkuh gelar juara.

Terlebih, Sutiyoso gila bola, begitu memuja Persija. Persija bangkit. Namun, klub-klub Jakarta lainnya tetap terseok. Jurang pemisah itu semakin jelas terlihat, terutama saat wacana kebijakan Jakarta Satu muncul. Hasilnya, adalah kucuran APBD, bahkan saat Sutiyoso sudah tak menjadi penguasa Jakarta. Ambil contoh apa yang terjadi pada Persitara. Namun, kenyataan berkata lain.

Bicara jurang pemisah, tak cuma tentang sokongan finansial, tapi juga infrastruktur penting semacam stadion. Hanya membutuhkan waktu dua menit dengan mesin pencari internet untuk menemukan semegah apa stadion ini. Silakan datang sendiri ke Stadion Tugu, Stadion Cendrawasih, dan Stadion Gagak Hitam untuk melihat rumah mereka.

Termarjinalkan telah menjadi istilah yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi pada klub-klub di Jakarta selain Persija. Keberadaan PSJS yang lahir pada 1975, serta Persija Barat dan Persitara yang lahir pada 1979 (meski masih dengan nama Persijatimut), diabaikan hampir sepanjang usianya.

Sialnya, tak cuma onak, aral, dan kekalahan yang muncul di setiap sisinya. Namun, lapangan sepak bola adalah karibnya kejutan. Walau marjinal, mereka–ketiga klub itu–tak mati. Kali ini, itulah kejutannya.