Saturday, August 15Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Kota Jakarta Jadi Tempat Pengemis Kaya Raya Beraksi

Kota Jakarta Jadi Tempat Pengemis Kaya Raya Beraksi

Penampilan para pengemis kerap mengundang rasa iba. Raut mukanya yang memelas berbalut pakaian lusuh dan kusam membuat banyak orang mengulurkan tangan untuk memberi uang hingga makanan.

Tapi jangan terkecoh, nyatanya tak semua pengemis benar-benar tak punya. Beberapa di antaranya justru memilih menjadi pengemis sebagai profesi. Menurut Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos DKI, Yayat Duhayat, sebagian besar memang tak mampu.

“80 persen yang tidak mampu. Kategori pengemis itu memang tidak mampu karena tinggal di Jakarta di daerah kumuh, pekerjaannya enggak jelas tahu-tahu minta-minta,” katanya kepada kumparan, Senin (25/3).

Namun, lanjut Yayat, 20 persen sisanya malah tegolong mampu. Faktanya, Dinas Sosial DKI beberapa kali menjaring beberapa pengemis yang ketahuan punya uang dalam jumlah besar untuk ukuran pengemis.

Pada November 2017, misalnya, petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat mendapati seorang pengemis bernama Sri (43) yang punya uang Rp 23 juta dan perhiasan berupa emas. Ada pula, Leonard (57), pengemis di Kawasan Slipi, Jakarta Barat, yang terjaring razia dengan uang Rp 28 juta di tangan, April 2018.

kumparan mencari tahu seberapa besar penghasilan para pengemis yang beroperasi di Jakarta melalui survei kecil-kecilan. Kami blusukan ke beberapa titik rawan pengemis. Tetapi, ternyata tak mudah menemukan pengemis di jalanan utama DKI.

Bisa jadi hal ini tak lepas dari upaya Pemrov DKI untuk mencegah kemunculan para pengemis. “Kami menempatkan petugas P3S (Pelayanan, Pengawasan, dan Pengendalian Sosial) di sejumlah titik rawan yang saat ini berjumlah 284 titik,” ujar Yayat.

Langkah itu cukup manjur. Dua hari keliling di beberapa wilayah Jakarta, pengemis cuma tampak di tiga lokasi. Di kawasan Vihara Dharma Bakti, Jakarta Barat, kumparan bertemu pengemis jalanan bernama Edi, Senin (25/3). Dia menunggu orang yang selesai beribadah. Dengan tangkas tangannya menjulur ke setiap orang yang keluar vihara.

Malam itu, kata Edi, uang yang diperolehnya tak seberapa. Pria berusia 70 tahun ini tinggal tak jauh dari Vihara. Kalau mau repot sedikit, dia bisa saja mendapat uang lebih banyak. Edi hapal daerah mana tempat mengemis yang bisa menghasilkan uang banyak.

Ia lantas menunjuk ke arah Muara Baru, Jakarta Utara. Di lokasi yang berjarak lima kilometer dari Vihara Dharma Bakti itu, Edi biasa mendapat Rp 300 ribu dengan mengemis seharian. Maklum saja, Muara Baru merupakan kawasan dengan banyak perumahan elite.

Lalu, beranjak ke wilayah Jakarta Selatan, persisnya tak jauh dari Stasiun Tebet, ada pengemis bernama Cecep yang berjalan menggunakan tongkat. Ia beralasan kakinya cedera sehingga mengakibatkan ruas sendinya tak bisa ditekuk sejak lima tahun lalu. Meski saat kami berpisah, dari kejauhan Cecep tampak tak terlalu kesulitan berjalan tanpa tongkat.

Setahun terakhir Cecep mengemis di Jakarta Selatan. Sehari penghasilannya dari meminta-minta tak menentu. Paling apes, dia cuma bisa mendapat Rp 70 ribu. Jika mujur, Cecep mengantongi Rp 200-300 ribu. Peruntungannya akan berubah saat Bulan Ramadan tiba, uang Rp 500 ribu pun bisa dibawa pulang.

Pengemis lain, Arsinah, juga mengaku mendapat minimal Rp 70 ribu tiap hari. Dia biasa menyusuri jalan dari Pasar Minggu ke Cawang sambil membawa tiga anaknya. Lain waktu, perempuan paruh baya ini memilih rute lain yakni dari Pasar Minggu ke arah Pasar Rebo, jakarta Timur. Di awal pertemuan, ia mengelak dianggap pengemis dan mengaku sebagai pemulung. “Kalau jual rongsokan biasanya bisa cuma dapat Rp 50 ribu,” ujar Arsinah, Selasa (26/7).

Anak-anak yang dibawa Arsinah terbukti mampu memancing empati. Kurang dari 15 menit saja kami berbincang, mereka bisa mengantongi Rp 40 ribu, plus dua nasi bungkus, dari derma orang yang lewat. Tiap hari Arsinah keluar memulung sambil mengemis dari pukul 12.00 hingga 17.00. Total ia berada di jalan selama lima jam tiap hari.

kumparan berusaha mencari pengemis lain untuk mengetahui rentang penghasilannya setiap hari untuk menaksir rata-rata penghasilan mereka. Tetapi, lagi-lagi, sulitnya menemukan pengemis di jalanan Jakarta menjadi kendala.

Setidaknya ada gambaran dari tiga pengemis yang kami temui. Tiap harinya pendapatan mereka berkisar antara Rp 70 ribu hingga Rp 300 ribu. Jumlah itu kurang lebih tak jauh berbeda dengan penghasilan pedagang asongan seperti Wahyu, yang berjualan kopi keliling di Kawasan Kota, Jakarta Barat.

Bila dagangannya sepi, ia bisa mendapat Rp 100 ribu per hari, saat sedang ramai pemasukannya mencapai Rp 250 ribu. Rehan, pedagang kopi keliling di Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, juga berpenghasilan sekitar itu.

Dengan asumsi penghasilan pengemis yang kami temui antara Rp 70-300 ribu, rata-ratanya pengemis di Jakarta mungkin memperoleh sekitar Rp 150-185 ribu per hari. Bila diakumulasikan tiap bulan, penghasilan mereka bisa saja setara atau bahkan melebihi upah minimum DKI, yang kini di angka Rp 3,9 juta.