Sunday, May 31Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Korban Kekerasan Seksual Bisa Berbuat Apa Di Indonesia

Korban Kekerasan Seksual Bisa Berbuat Apa Di Indonesia

“Berapa kali sidang aku pingsan-pingsan diintimidasi sama pengacara pelaku dan pelaku. Jaksa dan juga hakim semuanya tidak ada yang support aku,” ujar korban membuka percakapan. Kasus pelecehan seksual yang telah menimpa salah satu wanita berusia 33 tahun ini dilakukan oleh petugas TransJakarta pada tahun 2014 silam. Pelecehan seksual itu dilakukan oleh 4 petugas laki-laki di Halte Harmoni. Keempatnya pun sudah dipecat usai kejadian.

Korban pun berbagi cerita bagaimana dia berjuang mendapat keadilan hukum atas peristiwa yang menimpanya itu.  Pagi itu, hari Senin, 20 Januari 2014, korban berangkat bekerja seperti biasanya. Dia menumpang bus TransJakarta dari Halte RS Islami, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Kondisi halte saat itu padat hingga membuatnya yang memiliki penyakit asma menjadi sulit bernafas hingga tidak sadarkan diri.

Penumpang dan petugas di dalam bus lalu membantu korban dan menurunkannya di Halte Harmoni. Empat petugas yang sedang berjaga di halte kemudian membawanya ke ruang generator untuk beristirahat. Namun di ruang itu, korban justru mendapat pelecehan seksual oleh empat petugas yang membantunya. Dalam kondisi lemas, ia pun tak bisa melawan.

“Dua jam lebih aku telah disekap di ruangan genset itu. Aku pun pada saat itu tidak bisa minta tolong. Aku baru melapor keesokan harinya,” ujar korban saat berbincang di kantor kumparan, hari Senin (26/11). Atas laporannya, keempat petugas itu ditangkap polisi dan diadili. Selama proses persidangan, banyak hal terjadi pada korban. Dia merasa tidak dihargai sebagai korban, seolah-olah dia adalah penjahat.

Korban pun akhirnya dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan yang terkesan mengintimidasi hingga membuatnya beberapa kali pingsan dalam persidangan karena kondisi fisik yang terus menurun dan beban psikologis yang ia tanggung usai pelecehan itu. “Berapa kali sidang aku pingsan-pingsan diintimidasi sama pengacara pelaku, pelaku. Jaksa dan juga hakim semuanya tidak ada yang support aku,” terangnya dengan mata berkaca-kaca.

Intimidasi juga diterimanya di luar persidangan. Misalnya dia beberapa kali menerima pesan singkat dari salah satu keluarga korban dengan tuduhan memberikan keterangan palsu hingga dituduh PSK. “Berapa kali sidang aku pingsan-pingsan diintimidasi sama pengacara pelaku dan pelaku. Jaksa dan juga hakim semuanya tidak ada yang support aku,” ujar korban membuka percakapan.

Intimidasi juga diterimanya di luar persidangan. Misalnya dia beberapa kali menerima pesan singkat dari salah satu keluarga korban dengan tuduhan memberikan keterangan palsu hingga dituduh PSK. “Aku dikatain perempuan nggak benar, maaf, aku dikatain pelacur dibilang tukang bohong mengada-ada dan murahan,” ucap korban.

Persidangan itu berakhir dengan vonis untuk para pelaku. Mereka dijatuhi hukuman satu tahun enam bulan penjara.  Meski begitu, ia tetap merasa kecewa karena menurutnya hukuman yang diberikan tidak sebanding dengan penderitaan yang dia alami.  “Pertama kali yang saya rasakan itu ya kecewa. Aku tidak mendapatkan apa yang aku harapkan, aku tidak mendapatkan keadilan, aku tidak mendapatkan dukungan mungkin (keadilan) dari hukumnya saya tidak dapat,” ujar perempuan berusia 33 tahun ini.

Korban merasa keadilan semakin jauh dari harapan. Dia merasa diperlakukan dengan sangat tidak adil dan dirugikan padahal sejatinya ia berstatus sebagai korban. Apalagi peristiwa tersebut juga membuat psikologisnya terganggu. Ia mengaku kesulitan mengontrol emosinya dan berimbas pada lingkungan kerjanya. Misalnya saja di kantornya saat ini, atasannya tahu bahwa dia adalah korban kasus pelecehan, lalu kantor memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya.

“Kalau dibilang dikucilkan merasa terintimidasi iya. Di lingkungan kerjanya, per November kemarin aku di-cut alias tidak diperpanjang kontraknya karena bos aku tahu aku seorang survivor” terangnya. Mencoba bangkit bukanlah perkara yang mudah. Namun dukungan keluarga membuat korban bisa bertahan dan berjuang melewati beban tersebut. Keluarga membuatnya lebih kuat meskipun ia merasa pesimistis penyelesaian hukum bagi perempuan korban pelecehan seksual tidak akan sesuai harapan.

Wajah-wajah pelaku hingga kini masih jelas di ingatan korban. Empat tersangka tersebut itu kini hidup bebas dan bertemu keluarga mereka sementara ia justru harus menanggung beban moral yang kapan pun baginya tidak akan pernah bisa ia lupakan. Meski begitu, ia tetap terus berusaha bangkit. Dia juga berpesan kepada para perempuan yang senasib dengannya agar tidak mudah untuk menyerah.

“Kita harus hadapi harus kuat, kita korban saat itu mereka yang harus mendapatkan hukuman sosial bukan kita. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri,” katanya. Kasus kejahatan seksual seperti yang menimpa dirinya, bisa mencapai jumlah ribuan dalam setiap tahunnya. Berdasarkan data catatan tahunan Komnas Perempuan ada 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2017. Dari data tersebut 26 persen diantaranya terjadi di ranah publik atau sekitar 3.528 kasus.  Tiga jenis kekerasan yang paling banyak pada kekerasan seksual di ranah publik adalah pencabulan (911 kasus), pelecehan seksual (708 kasus), dan perkosaan (669 kasus).