Sunday, September 27Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Komentar Sang Adik Saat Prabowo Dituding Haus Kekuasaan

Komentar Sang Adik Saat Prabowo Dituding Haus Kekuasaan

Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo dan Sandi, Hashim Djojohadikusumo menyambangi redaksi Tribun di Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Kamis(18/10). Ditemani oleh wakil direktur Budi Purnomo Karjodiharjo, Hashim memaparkan tentang pencalonan kakaknya, Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden Republik Indonesia.

Menurut Hashim, kembali majunya Prabowo dalam Pemilu Presiden 2019, bukanlah karena Prabowo haus kekuasaan. Hashim berkata, jika Prabowo memang haus kekuasaan maka Gerindra sudah ada di pemerintah sejak 9 tahun yang lalu di era SBY. “Prabowo dituduh tetap ngotot, haus akan kekuasaan, haus akan jabatan, itu hanya persepsi saja. Kalau haus jabatan, maka Prabowo sudah di pemerintahan sejak 14 tahun yang lalu, kalau haus akan jabatan maka sudah di pemerintahan sejak 9 tahun yang lalu. Kalau haus jabatan itu pastilah sudah masuk ke dalam pemerintahan Jokowi. Kalau haus Jabatan itu pastilah pula sudah mau jadi calon wakil Presiden Jokowi,” ujar Hashim.

Untuk diketahui, Pilpres 2019 merupakan Pemilu ketiga bagi Prabowo. Pada Pemilu di tahun 2009 yang lalu, Prabowo menjadi Cawapres dari Megawati Soekarnoputri, namun saat itu Prabowo kalah dari pasangan SBY-Boediono. Lima tahun kemudian Prabowo kembali menjadi Capres berpasangan dengan Hatta Rajasa namun Prabowo kembali kalah, kali ini dari pasangan Jokowi-JK. Menurut Hashim, majunya kembali Pak Prabowo bukanlah karena bersikeras mengejar kekuasaan.

Melainkan karena peduli dengan kondisi bangsa Indonesia. Hashim mengatakan empat keluarganya gugur pada massa perjuangan kemerdekaan dulu. “Kami merasa terpanggil untuk menyelamatkan Indonesia. Keluarga kami gugur untuk Republik. Paman kami gugur dibunuh dalam suatu pertempuran. Mereka gugur bukanlah hanya untuk jabatan, namun untuk satu cita cita Indonesia,” ujarnya.

Masih menurut Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra itu ia dan juga Prabowo terjun ke dalam dunia politik karena merasa sangat sedih dengan kondisi bangsa yang sekarang ini, ia dan Prabowo menganggap Indonesia dipandang sebagai negara kecil. Saat ia tinggal di luar negeri beberapa waktu, tidak sedikit para tenaga kerja Indonesia yang dihina dan dipandang sebelah mata.

“Kami punya prinsip. Ini buka soal jabatan. Bukan soal jadi menteri atau Wapres. Ini bukan soal saya dan keluarga saya. Tapi kita prihatin dengan keadaan bangsa kita. Tujuan kami untuk menegakkan Pancasila,” pungkasnya. Hashim Djojohadikusumo pun mengatakan bahwa dalam dua tahun belakangan, kubu Prabowo sering sekali dianggap sebagai anti Pancasila, dan akan mendirikan negara dalam bentuk khilafah.

Menurut Hashim tudingan tersebut tidak berdasar dan fitnah. “Kami tak pernah ingin membuat Khilafah, ini tudingan yang konyol, dangkal, serta hoaks. Selama dua tahun kami telah menjadi korban hoaks soal khilafah,” kata Hashim. Bagaimana mungkin pihaknya mau membentuk Khilafah. Menurut Hashim tim pemenangan Prabowo Sandi terdiri dari berbagai latar belakang, termasuk dalam keyakinan agama.

“Kami semenjak satu tahun yang lalu, serta dua tahun ini sering sekali dianggap anti Pancasila, dan mau bentuk khilafah. Saya secara terbuka saja, saya ini Kristen Protestan dan saya sering sekali ke gereja. Pak Budi (wakil direktur BPN) katolik, dan ada yang Hindu,” katanya. Hashim menduga tudingan anti-Pancasila dan khilafah, dilontarkan dari kubu lawan di Pemilu Presiden 2019.

Selain itu ia beranggapan bahwa pihak lawan menggunakan isu itu sebagai ‘peluru’ serangan karena menganggap Pancasila itu hanyalah sila pertama saja. Menurutnya mereka lupa bahwa ada lima butir dalam Pancasila. Hashim mengatakan mereka yang jauh dari Pancasila adalah mereka yang tidak menerapkan 5 butir dalam pancasila tersebut. Salah satunya yakni butir kelima yang berbunyi ‘Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia’.

“Menurut kami menurut saya. Yang sering terlupakan sila ke lima. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Keadilan sosial itu karena kita memang tidak merasa adil situasi saat ini. Kalau kita bicara sila kelima orang bengong. Menurut Prabowo Subianto, jika sila kelima tidak ditegakkan, maka sila ketiga pun akan terancam,” ujarnya.

Selain menyinggung soal perpolitikan, Hashim juga berbicara mengenai kondisi gizi. Ia bercerita mengenai kepedulian kakaknya, Prabowo Subianto pada masalah stunting di Indonesia. Pada saat ia masih tinggal di London, Inggris 2006 silam, Prabowo memanggilnya untuk berdiskusi. Ternyata topik yang didiskusikan adalah masalah stunting. Hashim sempat heran, kakaknya memberi perhatian khusus pada masalah tersebut.

“Saya kaget, Prabowo, Jenderal yang sudah saya kenal dari kecil, kini peduli pada masalah stunting,” kata Hashim. Stunting adalah masalah kurang gizi yang sangat kronis yang kemungkinan disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, dan mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak seperti tinggi badan anak yang lebih rendah atau pendek (kerdil) jika dibandingkan dari standar usianya.

Hashim mengatakan pada saat itu ia sama sekali tidak tahu mengenai masalah stunting. Ia baru paham saat Prabowo menceritakan keprihatinannya mengenai banyaknya anak penderita stunting di Indonesia. “Dia (Prabowo) jelaskan, dia prihatin, waktu itu menjabat ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI). Dia lihat banyak anak anak Indonesia pendek-pendek, rambutnya warna pirang, bukan karena pemain bola asing, tapi karena kurang gizi,” katanya.

Pada saat itu kata Hashim jumlah anak penderita stunting di Indonesia berdasarkan data Bank Dunia mencapai 30 persen. 10 tahun kemudian jumlahnya bertambah menjadi 38 persen. Para anak stunting tersebut menurut Hashim berasal dari keluarga yang kurang mampu. “Anak anak ini datang dari keluarga miskin, orang tuanya tidak mampu memberikan makanan yang layak, seimbang. Mereka tidak mampu memberikan susu, sayuran, telor dan ikan,” katanya.

Setelah dipelajari menurut Hashim salah satu masalahnya adalah kurangnya asupan susu. Oleh karena itu Prabowo melihat program koperasi susu yang pernah dibuat di India pada 1950 oleh Dr Verghese Kuriyen. Prabowo mengadaptasi program koperasi susu tersebut untuk menanggulangi masalah stunting.

Keseriusan terhadap penanganan masalah stunting, karena 10 sampai 15 tahun lagi para anak stunting tersebut akan memasuki usia produktif. Sehingga menurutnya percuma bila pemerintah saat ini menggalakan Industri 4.0 tetapi masalah stunting tidak diselesaikan. “Percuma kita punya program industri atau ekonomi apapun, karena anak anak yang nanti masuk usia produktif, tidak bisa belajar karena tidak adanya asupan gizi,” katanya. Hashim menyayangkan pemerintah saat ini tidak menempatkan masalah stunting sebagai prioritas. Padahal menurutnya hal tersebut menyangkut masa depan Indonesia.