Wednesday, July 17Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Kekerasan Pada Anak Dan Efeknya Pada Otak Anak

Kekerasan Pada Anak Dan Efeknya Pada Otak Anak

Para ilmuwan telah berhasil menemukan bahwa anak-anak korban kekerasan mengalami perubahan struktur saraf di area otak anterior cingulate cortex. Bagian ini memegang peran penting dalam mengatur emosi dan suasana hati.

Perubahan yang telah ditemukan berdasarkan studi yang dilakukan dengan bantuan Douglas-Bell Canada Brain Bank ini termasuk signifikan. Ditemukan pula secara spesifik pada otak orang-orang yang mengalami penganiayaan berat pada masa kanak-kanak.

Ada banyak masalah hidup yang bisa dibilang berhubungan, bahkan merupakan efek dari tindak kekerasan yang parah pada masa kecil. Termasuk di dalamnya yaitu peningkatan risiko berbagai macam gangguan kejiwaan. Misalnya seperti depresi, serta tingginya tingkat impulsivitas, agresivitas, kecemasan, penyalahgunaan zat terlarang dan bunuh diri.

Untuk dapat berfungsi optimal dan demi kelancaran pengorganisasian otak, sinyal listrik yang digunakan oleh sel saraf atau neuron mungkin perlu melalui perjalanan jarak jauh untuk berkomunikasi dengan sel-sel di wilayah lain.

Akson yang lebih panjang dari jenis ini umumnya ditutupi oleh lapisan lemak yang disebut mielin. Selubung mielin ini melindungi akson dan membantu mereka untuk menghantarkan sinyal listrik dengan lebih efisien.

Mielin pun berkembang secara progresif selama masa kanak-kanak, dalam proses yang dikenal sebagai mielinasi. Proses ini kemudian berlanjut hingga masanya seseorang beranjak dewasa. Studi-studi sebelumnya telah menunjukkan abnormalitas signifikan pada white matter dalam otak orang-orang yang jadi korban tindak kekerasan pada masa kecilnya.

Namun, karena pengamatan ini dilakukan dengan melihat otak orang yang hidup menggunakan MRI, peneliti tidak bisa mendapatkan gambaran jelas tentang sel dan molekul white matter yang terdampak.

Dalam riset yang dipublikasikan dalam American Journal of Psychiatry ini, para peneliti McGill University di Kanada membandingkan sampel otak post-mortem dari tiga kelompok orang dewasa yang berbeda.

Pelaku bunuh diri karena depresi yang memiliki riwayat penganiayaan berat pada masa kecil (27 individu); orang depresi yang bunuh diri namun tidak memiliki riwayat kekerasan masa kanak-kanak (25 individu); dan orang-orang yang tidak memiliki penyakit kejiwaan atau riwayat penganiayaan anak (26 orang).

Para periset juga menemukan bahwa ketebalan lapisan mielin dari sejumlah besar serat saraf berkurang hanya pada otak orang-orang yang telah menjadi korban tindak kekerasan masa kanak-kanak.

“Perubahan-perubahan ini benar-benar berhubungan dengan maraknya depresi, yang merupakan konsekuensi dari tindak kekerasan terhadap anak,” kata Dr. Naguib Mechawar, salah satu penulis utama studi tersebut. Mechawar melakukan penelitian tersebut dengan tiga rekan dari McGill Group for Suicide Studies di Douglas Mental Health University Institute.

Menurut Mechawar, mereka juga telah menemukan hubungan antara penganiayaan pada masa kecil dengan hal lainnya. Misalnya dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan, maupun kecenderungan bunuh diri. Namun, riset ini mencari jawaban yang lebih detail.

“Dengan keakuratan yang menunjukkan dengan spesifik sel-sel yang terpengaruh dan apa konsekuensi mikroskopis anatomi, riset inilah yang pertama kali mengungkap hal tersebut,” jelas Mechawar. Mereka juga menemukan perubahan molekuler mendasar yang secara selektif memengaruhi sel-sel yang bertanggung jawab untuk menggenerasi dan memelihara mielin.

Akhirnya, mereka menemukan peningkatan diameter beberapa akson terbesar di antara kelompok ini. Dari situ akhirnya timbul spekulasi bahwa secara bersama-sama, perubahan ini dapat mengubah kopel fungsional antara korteks cingulate dan struktur subkortikal.

Seperti amigdala dan nucleus accumbens–area otak yang terhubung dengan pengaturan emosional, penghargaan dan kepuasan–dan berkontribusi pada pemrosesan emosional yang berubah pada orang-orang yang telah menjadi korban kekerasan selama masa kecil. Para peneliti menyimpulkan bahwa kelamnya masa-masa awal kehidupan mungkin akan mengganggu berbagai fungsi saraf pada bagian otak korteks anterior cingulate.

Sementara mereka belum menemukan jawaban pada bagian otak mana dan kapan tepatnya dalam masa perkembangan, juga bagaimana, pada tingkat molekuler efek-efek ini cukup untuk memengaruhi pengaturan emosi dan keterikatan, peneliti berencana untuk mengeksplorasinya dalam penelitian lebih lanjut.