Sunday, June 16Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Kapolda Jateng Digugat Oleh Polisi Gay Yang Dipecat

Kapolda Jateng Digugat Oleh Polisi Gay Yang Dipecat

Seorang mantan anggota polisi berinisial TT menggugat Polda Jawa Tengah lantaran diberhentikan secara tidak hormat. TT disebut dipecat karena orientasi seksualnya. Kabid Humas Polda Jateng Kombes Agus Triatmaja mengatakan, pemecatan TT dilakukan lantaran perbuatan tercela dan indisipliner.

“Yang bersangkutan di PTDH karena terbukti melakukan perbuatan tercela, didukung dengan yang bersangkutan tidak masuk kantor meninggalkan tugas tanpa izin ke Singapura,” ujar Agus dalam keterangannya, Jumat (17/5). TT disangkakan melanggar pasal 7 ayat (1) huruf b dan Pasal 11 huruf c Perkap 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polisi. Tidak hanya itu, TT juga disebut telah melakukan perbuatan tercela terhadap seorang dokter.

“Yang bersangkutan melakukan banding namun ditolak karena setelah diputuskan PTDH masih melakukan perbuatan tercela (LGBT) dengan korban dua orang yaitu dokter dan orang tua angkatnya,” ucapnya.

TT diketahui terakhir kali bertugas sebagai anggota Subdit Wisata Direktorat Pengamanan Objek Vital Polda Jawa Tengah dengan pangkat brigadir. TT menggugat Polda Jateng, dalam hal ini Kapolda. Gugatan dilayangkan ke PTUN Semarang pada 26 Maret 2019, dan prosesnya masih berjalan.

Kuasa Hukum TT dari LBH Masyarakat, Ma’ruf Bajammal mengatakan, pemberhentian kliennya melanggar prinsip non-diskriminasi. Dari sisi HAM lanjut Maruf, orientasi seksual apapun harus diperlakukan secara sama.

“Terhadap anggotanya saja seperti itu, (bagaimana) kalau ada masyarakat yang dianggap menyimpang (orientasi seksnya) apakah (nantinya juga) tidak dapat pelayanan atau keadilan. Itu tadi, prinsip non diskriminasi,” ucapnya.

Selain berjuang atas HAM, Ma’ruf menyebut, pemecatan kliennya juga dinilainya sama sekali tak melihat rekam jejak karir TT selama 10 tahun. Menurutnya, sebelum ditangkap, TT tak pernah terlibat masalah. “Sebelumnya juga tidak (terlibat) masalah,” katanya lagi.

Meskipun begitu Maruf juga menjelaskan sebelumnya TT pernah ditangkap oleh jajaran Polres Kudus atas dugaan pemerasan. Penangkapan ini pun berujung pada terduga korban mengatakan tak ada pemerasan. “Tanggal 14 Februari 2017 klien saya dibawa tapi sempat tidak sepakat karena tidak didasari surat perintah penangkapan,” kata Maruf.

Maruf juga mengatakan bahwa TT saat itu tetap dibawa ke Mapolres Kudus untuk menunggu personel Polda Jawa Tengah. Karena TT memang merupakan anggota Dit Pamobvit Polda Jateng berpangkat Brigadir. “Terduga korbannya mengatakan tidak ada pemerasan,” ujarnya.

Kembali terkait pada hal pemberhentian TT secara tidak hormat. Kabid Humas Polda Jateng yaitu Kombes Pol Agus Triatmaja mengatakan data Propam Polda Jateng menyebut TT dijerat pasal 7 ayat(1) huruf b dan pasal 11 huruf c Perkap 14 tahun 2011. “Perilaku pelanggar dinyatakan sebagai perbuatan tercela,” kata Agus.

Meskipun demikian tidak disebutkan apa yang dimaksud dengan perbuatan tercela. “Penyidik hanya menyampaikan bahwa perbuatan tercela yang sudah menjadi pertimbangan putusan PTDH,” imbuhnya.