Wednesday, August 21Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Jejak Tionghoa Muslim Di Indonesia Dari Waktu Ke Waktu

Jejak Tionghoa Muslim Di Indonesia Dari Waktu Ke Waktu

Ali Karim Oei menunjuk sebuah foto hitam putih yang tampak menguning di ruang kerja Kantor Yayasan Karim Oei, Jakarta Pusat. “Ini bapak saya. Lihat di sampingnya siapa?” tanya pria 63 itu kepada kumparan sambil tersenyum simpul.

Ada tiga orang dalam potret lawas itu. Seseorang yang tampak duduk adalah Karim Oei, ayah Ali. Sementara, dua pria lain mengapitnya sambil berdiri. Mereka adalah Presiden RI pertama Soekarno dan ulama Buya Hamka. Ketiganya kompak mengenakan setelan kemeja berdasi lengkap dengan jas. “Ini foto langka, Presiden berdiri, China (Karim Oei) duduk. Ini ada di Museum Bengkulu,” ucap Pria yang kini menjadi Ketua Yayasan Karim Oei ini.

Foto yang ia tunjukan diambil sekitar zaman pergerakan. Saat itu, ayah Ali yang merupakan keturunan Tionghoa turut serta bersama masyarakat pribumi berjuang melawan Pemerintah Kolonial Belanda di Bengkulu.

Persinggungan dengan masyarakat pribumi yang mayoritas muslim menggugah hati Karim untuk lebih mengenal Islam. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menjadi mualaf pada 1930 dan bergabung dengan salah satu ormas Islam Muhammadiyah.

“Pas masuk Islam bapak saya diangkat jadi pemimpin,” Ali mengenang. Dalam buku karya Yunus Yahya, dikatakan bahwa Karim Oei menjadi konsul Muhammadiyah wilayah Bengkulu dari tahun 1937-1942.

Karim kemudian membentuk Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) di Jakarta pada 1961. Dia menghimpun para muslim Tionghoa di Indonesia untuk memperkenalkan Islam kepada sesama masyarakat keturunan.

Sebelum era Karim Oei, sebetulnya jejak muslim Tionghoa yang menyebarkan Islam di Nusantara sudah ada sejak lama. Mereka membentuk komunitas-komunitas di berbagai daerah, seperti Palembang dan pesisir utara Pulau Jawa.

Sejarawan ahli Tionghoa Universitas Airlangga, Shinta Rahayu, menyebut pada tahun 1800-an misalnya ketika Belanda menemukan sumber sejarah di Klenteng Talang Cirebon yang menginformasikan orang-orang China dulunya turut menyebarkan Islam di Indonesia. Namun, saat itu sumber tersebut dirahasiakan oleh Belanda.

“Langsung disegel, sumber-sumber itu tidak boleh diketahui oleh masyarakat luas supaya orang-orang China tidak bersatu dengan masyarakat pribumi yang mayoritas beragama Islam,” tutur Shinta kepada kumparan, Selasa (28/5). Dalam catatan sejarah, komunitas muslim Tionghoa di pesisir Jawa sudah ada sejak abad ke-11. Keberadaan mereka, menurut Shinta, tak lepas dari ekspansi kerajaan China.

Kala itu di era pemerintahan Dinasti Yuan (Mongolia), ada dua utusan Mongolia yang dikirim ke Kerajaan Singasari. Mereka meminta supaya Singasari yang kala itu dipimpin Raja Kertanegara tunduk kepada Dinasti Yuan.

Namun permintaan tersebut ditolak. Raja Kertanegara malah melukai telinga para utusan sebagai tanda penolakan. Utusan tersebut lalu pulang ke China. Kemudian Kerajaan China mengirim pasukan tartar untuk menyerang Singasari. Namun ketika mereka tiba, kondisi Singasari sudah hancur akibat diserang Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Jayakatwang.

Saat itu, Kertanegara terbunuh dan Jayakatwang mendirikan Kerajaan Kediri di wilayah Singasari. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Raden Wijaya (Majapahit) yang ingin menguasai Kediri. Dia mengatakan kepada pasukan Tartar bahwa Kertanegara menjadi Raja Kediri.

Tentara Tartar lalu menyerang dan berhasil menaklukan Kediri. Kemenangan itu kemudian dirayakan dengan pesta mabuk-mabukan. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk menyerang tentara Tartar.

“Tentara Tartar itu kocar-kacir kan, sebagian bisa pulang ke China, sebagian tidak bisa pulang. Nah sebagian yang tidak bisa pulang itu menetap di Jawa dan di antaranya itu ada yang beragama Islam. Kalau pada masa Dinasti Yuan itu memang banyak tentara China yang beragama Islam,” Shinta menjelaskan.

Banyaknya tentara China beragama Islam tak lepas dari penyebaran agama itu sejak abad ke-7. Saat itu kota-kota pelabuhan di China yang menjadi pusat perdagangan banyak dikunjungi oleh pedagang Arab, Persia, dan Gujarat yang sudah beragama Islam. Beberapa ada yang menikah dengan perempuan setempat. Dengan demikian, banyak keturunan mereka yang kemudian beragama Islam.