Tuesday, June 18Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Janji Jokowi Perihal Buyback Indosat Yang Sulit Terealisasi

Janji Jokowi Perihal Buyback Indosat Yang Sulit Terealisasi

Guru Besar @univ_indonesia Rhenald Kasali mengimbau @jokowi tidak penuhi janji buyback Indosat karena berpotensi melanggar persaingan usaha. Selain itu pula kondisi ekonomi global saat ini sedang melambat. “Kalau pemerintah ambil alih lagi Indosat maka pemerintah akan disemprot KPPU, karena akan memegang posisi super monopoli. Ini berbahaya bagi perekonomian dan kepercayaan dunia usaha,” ujarnya.

Sementara itu, analis pasar modal menilai buyback ISAT sangat tepat. Alasannya, dalam lima tahun ini saham Indosat berada pada level terendah. Joko Widodo (Jokowi) saat masa kampanye pemilihan presiden di tahun 2014, melempar janji untuk bisa melakukan pembelian kembali (buyback) saham PT Indosat Tbk (ISAT). Saham milik negara di perusahaan telekomunikasi itu, dijual pemerintah ke Sengapore Technologies Telemedia (STT) pada 2002 silam.

Dalam suatu sesi debat Pilpres 2014, Jokowi juga ingin agar satelit di Indonesia dioperasikan dan dikendalikan langsung oleh perusahaan telekomunikasi yang mayoritas dimiliki negara. Bila telah berhasil dilakukan buyback, kata Jokowi saat itu, Indonesia dapat mengoperasikan pesawat tanpa awak dengan satelit sendiri dan bukan satelit yang dipinjam dari negara lain.

“Ke depan nanti, kuncinya satu, kita buyback, ambil alih kembali saham Indosat,” ujar Jokowi dalam debat capres putaran ketiga di Hotel Holiday Inn, Kemayoran, Jakarta Pusat, hari Minggu (22/6/2014). Saham mayoritas ISAT dijual saat era Presiden Megawati Soekarnoputri dan juga Menteri BUMN masih dijabat oleh Laksamana Sukardi.

Jokowi juga mengatakan, dalam perjanjian jual beli saat pemerintahan Megawati Soekarnoputri pada 2002, terdapat klausul bahwa saham dapat dibeli kembali oleh Pemerintah Indonesia. Setelah dilantik menjadi presiden, sayangnya realisasi buyback Indosat belum terwujud hingga hari ini. Namun, analis pasar modal menilai saat ini adalah momen yang paling tepat untuk melakukan aksi buyback ISAT. Alasannya yaitu saham Indosat berada pada level terendahnya dalam 5 tahun. Saham ISAT ditutup pada angka Rp 1.985 pada hari Jumat (30/11).

Analis dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) yaitu Reza Priyambada menilai secara teori, sekarang adalah momen yang sangat tepat untuk buyback.  “Memang akan seperti itu, harga rendah time to buy,” kata Reza kepada kumparan, hari Minggu (2/12). Namun, Reza juga menekankan bila buyback saham ISAT juga harus mempertimbangkan faktor lain. Dari sisi makroekonomi, kondisi saat ini sedang terjadi perlambatan ekonomi, begitu pula di industri telekomunikasi. Perusahaan telekomunikasi di bursa sedang mengalami penurunan kinerja keuangan, dan bahkan mayoritas merugi.

“Tapi realitanya enggak seperti itu. Banyak sekali faktor, terutama masalah sentimen, baik dari internal maupun secara sektoral. Belum lagi masalah makroekonomi,” tambahnya. Kevin Wijaya, analis saham dari BNI Sekuritas, memiliki pandangan serupa dengan Reza. Melihat harga saat ini, buyback memungkinkan untuk dilakukan. Namun, bila mempertimbangkan faktor lain, buyback belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Kondisi fundamental ISAT dalam posisi kurang sehat, yakni masih memiliki kinerja keuangan negatif.

Pertimbangan lain, pemilik saham mayoritas dipandang tak ingin melepas ISAT dalam posisi rugi dan harga saham masih terlalu rendah. “Karena menurut saya, belum dalam waktu dekat, estimasi saya, tampaknya Ooredoo belum bersedia untuk melepas,” sebutnya. Bila pemerintah ingin melanjutkan rencana buyback, ia menyarankan agar mempertimbangkan aspek pertumbuhan industri ke depan. Bila diamati lagi, industri telekomunikasi di Indonesia sedang mengalami tren penurunan kinerja keuangan.

“Kalau mau buyback maka juga harus lihat potensi ke depan dan juga harus dilihat kompetisi. Kalau mau buyback, berarti juga mau dapat capital gain ke depan. Indosat saat ini masih sedang sulit dalam berkompetisi dibandingkan perusahaan lain,” tutupnya.

Saham Terendah dalam 5 Tahun

Pada penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (30/11), saham Indosat ditutup pada angka Rp 1.985 atau turun 45 poin (2,22 persen). Harga saham Indosat pun pada penutupan Jumat kemarin, merupakan posisi terendah dalam rentang waktu 5 tahun terakhir. Harga saham emiten berkode ISAT ini juga pernah berada posisi tertingginya di Rp 7.500.

PT Indosat Tbk (ISAT) juga mengalami kerugian sebesar Rp 1,53 triliun selama periode Januari-September 2018. Mengutip laporan keuangan perusahaan pada kuartal III-2018, kinerja Indosat menurun sangat drastis dibandingkan periode yang sama di tahun 2017 yang untung Rp 1,09 triliun. Kerugian ISAT hingga kuartal III ini didorong oleh turunnya pendapatan, yakni dari Rp 22,565 triliun di 2017 menjadi Rp 16,76 triliun di 2018. Pada kuartal III-2018, pendapatan Indosat banyak disumbang oleh sektor selular sebesar Rp 13,17 triliun, MIDI (Multimedia, Komunikasi Data, Internet) sebesar Rp 3,02 triliun dan telekomunikasi tetap sebesar Rp 568,58 miliar.

Saat ini, komposisi kepemilikan saham di ISAT adalah Ooredoo Asia Pte. Ltd sebesar 65 persen, Pemerintah Indonesia sebesar 14,29 persen dan Publik 20,71 persen.