Sunday, March 24Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Inilah Kesalahan Kita Dalam Memahami Kekerasan Seksual

Inilah Kesalahan Kita Dalam Memahami Kekerasan Seksual

Jika diperhatikan, memang kebanyakan kasus kekerasan seksual lebih sering dialami oleh perempuan ketimbang laki-laki. Mengutip data Komnas Perempuan, rata-rata ada sekitar 35 perempuan yang telah menjadi korban pelecehan seksual setiap hari di Indonesia. Namun, bukan berarti pria juga mustahil mengalaminya.

Banyak mitos kekerasan seksual yang merajalela di kalangan masyarakat kita perlu diluruskan karena sangat merugikan korbannya. Hal inilah yang biasanya membuat korban merasa malu dan cenderung menyalahkan diri sendiri. Akibatnya, korban justru mengalami trauma mendalam, depresi, hingga berkeinginan untuk bunuh diri. Maka dari itu, mari akhiri beragam mitos kekerasan seksual berikut ini dengan mengetahui fakta yang sebenarnya

  1. Korban selalu berpakaian minim atau pun seksi

Pakaian yang dikenakan korban pada umumnya selalu dijadikan alasan untuk melumrahkan kejadian pelecehan seksual. “Ya pantas saja dia diperkosa, bajunya saja seksi banget begitu!” Pernah dengar, tentu saja, komentar nyinyir yang seperti ini? Tidak jarang pula komentar memojokkan tentang pakaian korban justru dipergunakan oleh aparat penegak hukum saat memproses kasus kekerasan seksual.

Orang-orang masih saja berpikir bahwa pakaian seksi sama dengan undangan seks gratis, “Pakaiannya, terbuka, jadi ya mengundang nafsu saja!”. Argumen ini justru malah makin menegaskan asumsi kolot bahwa perempuanlah yang harusnya disalahkan untuk “nasib” mereka sendiri. Padahal, segala bentuk dari pelecehan dan kekerasan seksual terjadi atas kebejatan pelaku itu sendiri. Pakaian bukanlah satu-satunya faktor penentu. Tindakan tersebut adalah jelas kesalahan si pelaku. Memakai pakaian yang nyaman atau pun tertutup tidak serta-merta menjamin bahwa kita bisa lebih aman dari tindak kekerasan seksual.

  1. Pria tidak akan mungkin jadi korban

Kekerasan seksual memang lebih banyak terjadi pada kaum perempuan dan dilakukan oleh pria. Itu kenapa kita mungkin biasanya menganggap bahwa tidak mungkin kedua peran ini ditukar. Namun kenyataannya ada juga pria-pria di luaran sana yang jadi korbannya. Anggapan bahwa pria tidak mungkin dan tidak akan bisa menjadi korban kekerasan seksual itu keliru.

Mitos ini bisa saja membuat mereka yang benar-benar pernah mengalaminya enggan mencari bantuan karena takut dikira lemah hingga akhirnya menjadi trauma secara permanen. Perlu diluruskan lagi bahwa pria dan juga wanita sama-sama bisa menjadi pelaku atau korban. Wanita mungkin saja jadi pelaku kekerasan seksual yang menargetkan para pria, atau terjadi antar pria. Faktor yang juga mendorong seseorang untuk berbuat kejahatan tidaklah didasari oleh gender alias jenis kelamin.

  1. Pemerkosaan tidak mungkin terjadi dalam hubungan perkawinan

Berhubungan intim antara suami dengan istri merupakan hal yang wajar. Akibatnya banyak sekali orang menganggap bahwa kalau sudah menikah, seks tentu dilakukan atas dasar suka sama suka. Tapi tunggu dulu, mitos kekerasan seksual yang satu ini sangat perlu diluruskan. Meskipun masih cukup asing di telinga, pemerkosaan dalam perkawinan mungkin saja bisa terjadi.

Berhubungan intim karena paksaan atau juga ancaman, meskipun dengan pasangan sendiri, sama saja dengan tindak perkosaan. Pada dasarnya, seks harus disetujui oleh suami dan juga istri. Tidak seorang pun berhak memaksa atau pun mengancam untuk berhubungan seks jika ada salah satu ada yang menolaknya. Ingat, suami atau pun istri bukanlah objek pemuasan seksual yang bisa kamu kuasai kapan pun.

  1. Korban tidak akan melawan karena memang mau

Masyarakat sering menganggap bahwa sikap korban yang tidak melawan menunjukkan bahwa korban cenderung menikmati dan mau berhubungan intim dengan pelaku pemerkosaan. Ya, pelaku dan juga korban dianggap melakukannya atas dasar suka sama suka. Padahal, ini termasuk salah satu mitos kekerasan seksual yang sangat harus kita buang jauh-jauh.

Setiap orang umumnya memiliki respon yang berbeda-beda saat menerima kekerasan seksual itu. Ada yang berani melawan, namun ada juga yang memilih diam karena takut disakiti oleh pelaku. Sikap korban yang tidak coba melawan bukan berarti mereka menginginkannya. Ini justru menandakan bahwa korban diliputi oleh rasa takut. Apalagi kalau korban ternyata diancam dengan senjata.

Maka tidak heran pula kalau kebanyakan korban pemerkosaan tidak akan melawan dan lebih memilih untuk diam. Kondisi ini juga disebut dengan inhibisi tonik, yaitu respon fisiologis tubuh yang membuat seseorang bisa mengalami kelumpuhan fisik sementara sehingga tidak bisa bergerak atau melawan saat merasa takut atau pun terancam. Hal ini jugalah yang membuat para korban kekerasan seksual rentan mengalami trauma PTSD dan bahkan depresi berat dalam beberapa bulan mendatang.

  1. Pelakunya pasti adalah orang asing

Banyak orang yang menganggap bahwa pelaku pemerkosaan atau kekerasan seksual sudah pasti dilakukan oleh orang asing alias orang yang tidak dikenal sama sekali. Karena itulah, banyak sekali kasus kekerasan seksual yang terjadi di jalan yang sepi dan juga biasanya saat malam hari. Lagi-lagi, siapa pun bisa saja melakukan tindakan kekerasan seksual ini.

Begitu juga dengan kerabat terdekat yang pasti tidak pernah kita duga sebelumnya. Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin mengungkapkan bahwa lebih dari 60 persen kasus kekerasan seksual ternyata justru terjadi di lingkungan rumah dengan pelaku ayah, paman, kakak, atau bahkan suami korban sendiri.

Related Post

Ini Baru Cara Orangkaya Berangkat Kerja Di Era Mil... Curt von Badinski adalah seorang teknisi mesin dan juga pendiri perusahaan teknologi San Fransisco. Yang setidaknya membutuhkan enam jam untuk pul...
Ini Lima Langkah Mudah Untuk Lapor Polisi Jika Ter... Untuk yang melihat video tewasnya suporter Persija di tangan suporter Persib Bandung pasti ada yang geregetan karena disana banyak orang dan polisi ...
Inilah Fakta-fakta Tersembunyi Pembangunan Stadion... Pemerintah provinsi DKI Jakarta secara resmi memulai pembangunan Jakarta International Stadium di Sunter, Jakarta Utara, Kamis (14/03/19). Stadion...
Wanita Lajang Di Aceh Ini Cabuli Anak-anak Dibawah... Seorang wanita lajang berinisial NU (31) di Aceh Utara ditetapkan sebagai tersangka setelah mencabuli anak dibawah umur. Ada sebanyak lima bocah y...