Friday, September 25Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Inilah Alasan Mengapa Pidato Soeharto Tak Gunakan Kalimat Ini Saat Lengser

Inilah Alasan Mengapa Pidato Soeharto Tak Gunakan Kalimat Ini Saat Lengser

Masih soal Presiden RI ke-2, Soeharto. Soeharto sangat berhati-hati dalam mencari kata yang tepat untuk menyusun pidato pengunduran dirinya sebagai presiden. Di tanggal 21 Mei 1998, Soeharto mengumumkan diri mundur sebagai  presiden setelah 32 tahun menjabat. Pidato pengunduran diri Presiden ke-2 RI ini dibacakan di Istana Merdeka pada pukul 09.00 WIB. Dalam pidatonya ia mengakui bahwa langkah ini diambil setelah melihat “perkembangan situasi nasional” di saat itu.

Saya memutuskan untuk berhenti dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak pernyataan ini dibacakan yang dilansir dari buku Detik-detik yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006) karya BJ Habibie.

Jika diperhatikan, Soeharto menggunakan kata ‘berhenti’ dalam pidato tersebut. Ternyata, ada cerita dibalik dipilihnya kata itu oleh Soeharto Dalam tulisan yang diunggah website pribadinya, Mbak Tutut menceritakan momen saat Soeharto menyusun pidato pengunduran dirinya:  Pada malam itu, dari ruang duduk keluarga, setelah bapak (Soeharto,red) memberi tahu kami tentang keputusan beliau untuk tidak meneruskan jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia, dan setelah memberi nasehat pada kami, bapak berdiri menuju ruang kantorannya yang tidak jauh dari ruang duduk, sambil memanggil saya (Mbak Tutut,red).

Kemudian bapak memerintahkan saya untuk mengambil buku UUD 45 di lemari buku bapak. “Untuk apa Buku UUD 45 ini,” Saya bertanya sambil menyerahkan buku tersebut. “Bapak mau mencari kata berhenti menjadi Presiden, bapak tidak mau kata mengundurkan diri,” bapak menjawab sambil mulai membuka dan membacanya. Lalu sebenarnya apakah bedanya mengundurkan diri dibandingkan dengan berhenti,” penasaran saya bertanya.

“Beda, kalau mengundurkan diri, bapak belum selesai tugasnya sudah mundur, berarti bapak tidak bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan ke bapak. Kalau berhenti, masih dalam jabatan dan masih siap menyelesaikan tugasnya, tapi karena dipaksa untuk tidak melanjutkan jabatannya, jadi berhenti, bukan kemauan bapak sendiri.” “Lalu apa hubungannya dengan buku UUD 45 pak,” saya bertanya masih penasaran.

“Bapak akan mencari apakah kata-kata berhenti itu ada di UUD 45 dalam kaitannya dengan Kepresidenan. Bapak ingin semua didukung oleh undang-undang.” Bapak menjelaskan dengan sabar dengan tetap membaca buku UUD 45, tiba tiba beliau berkata : “Nah ini ada kata kata berhenti. Coba kamu baca BAB III, Pasal 8.” Saya baca bagian tersebut, dan disitu tertulis dengan jelas kata yang bapak kehendaki.

BAB III : KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA. Pasal 8 berisi, Jika Presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis waktunya. “Iya betul ternyata ada kata berhenti,” Saya pun mengiyakan pendapat bapak. Lalu bapak memerintah saya untuk mengambil kertas dan bolpoint. Bapak meminta saya untuk menulis yang bapak katakan.

Saya tidak berani untuk lagi menanyakan karena bapak kelihatan serius. Saya tulis apa yang bapak katakan. Berdebar jantung saya, dan bergetar tangan ini menulisnya, ternyata bapak membuat pidato berhentinya bapak dari jabatan Presiden R I. Sambil menulis, tak henti-henti saya berdoa : “Yaa ALLAH, lindungi bapakku, kasihi bapakku, cintailah bapakku, berilah selalu petunjuk MU, yang terbaik kiranya ENGKAU berikan pada bapakku, aamiin.”

Akhirnya selesai bapak berucap. Setelah ada pembetulan beberapa kalimat, bapak membaca nya dan mengatakan : “Wis cukup.” Lalu bapak kantongin kertasnya. Dan sebagian besar yang bapak ucapkan, sesuai dengan pidato berhentinya beliau. “Bapak, kami bangga pada bapak, disaat masyarakat menghujat bapak dengan sangat kejamnya, bapak tetap mempertahankan semua tindakan bapak berdasarkan undang-undang yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan perlakuan apapun yang bapak terima, bapak tetap mencintai bangsa, Negara dan masyarakat Indonesia sampai akhir hayat bapak.”

Dengan pidato pengunduran diri maka Soeharto menyerahkan kekuasaan kepresidenan kepada Wakil Presiden BJ Habibie, sesuai dengan yang ada pada Pasal 8 UUD ’45, maka Wakil Presiden Republik Indonesia Prof H BJ Habibie yang akan menjadi Presiden menggantikan Soeharto sampai berakhirnya masa waktu jabatan. Gerakan reformasi adalah penyebab utama jatuhnya Soeharto dari kekuasaannya.