Tuesday, March 19Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Inilah Alasan Mengapa Orang Batak Suka Sekali Makan Daging Anjing

Inilah Alasan Mengapa Orang Batak Suka Sekali Makan Daging Anjing

“Makan Daging Anjing Dengan ditemani Sayur Kol” itulah sebuah petikan lirik dari lagu “Sayur Kol” yang dilahirkan tahun 2017 sudah tak asing bagi penikmat musik di Sumatera Utara. Lagu ini lalu dipopulerkan oleh Band Punxgoaran, sebuah band punk asal Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Lagu ini semakin populer dan viral saja setelah dinyanyikan oleh seorang bocah. Lagu ini bahkan sudah ditonton lebih dari 2,4 juta orang di kanal YouTube.

Kalimat dalam lagu ini sebenarnya sangat sederhana sekali. Tentang seorang pemuda yang ceritanya sedang berjalan-jalan ke Siborong-borong, Tapanuli Utara. Di tengah jalan lalu dia terjebak hujan deras dan berteduh. Saat berteduh itu, dia berkenalan dan kemudian martarombo (mengenal kekerabatan atau silsilah) dengan seorang namboru (tante) boru Panjaitan. Si namboru itu lalu mengajak si pemuda ke rumahnya. Di rumah namboru itulah, mereka menyantap daging anjing dan sayur kol.

Bagi sebagian masyarakat, makan daging anjing memang terdengar menjijikan. Beberapa komunitas penyayang satwa pun selalu menyerukan dan juga berkampanye untuk stop makan daging anjing. Masalahnya, di beberapa daerah makan daging anjing memang merupakan hal yang biasa dan bahkan juga sudah menjadi tradisi, seperti di Manado, Bali, dan tentu saja pada suku Batak.

Mengutip dari laman salah satu sumber, E.H. Tambunan menulis dalam “Sekelumit Mengenai Masyarakat Batak Toba dan juga Kebudayaannya” orang Batak memang punya tradisi kuat makan daging. Dalam setiap upacara adat maupun upacara agama yang lain di kalangan penganut agama leluhur, daging selalu saja menjadi hidangan atau sesajian. Hewan yang disembelih juga beragam. Mulai dari yang halal seperti kerbau, ayam, dan juga kambing hingga non-halal seperti babi atau anjing.

Berbeda dengan babi yang memang jelas hewan ternak, bagi orang Batak anjing dipelihara sebagai penjaga rumah atau pun juga penjaga ternak. Tapi, ketika ada di meja makan, keduanya sama saja yaitu bisa menjadi santapan.

Kenapa anjing bisa ikut disantap? Jan Johannes van de Velde, asisten residen Belanda di Tapanuli punya jawaban atas pertanyaan ini.

Masih mengutip dari Historia.id, pada tanggal 3 Maret 1940, van de Velde mendampingi residen ke dataran tinggi Habinsaran, sebelah selatan Kota Balige. Tujuan dari van de Velde dan juga rombongannya saat itu hendak meninjau beberapa huta(perkampungan) terpencil. Perjalanan dinas ini pun memberikan van de Velde pengalaman kuliner dan kultural yang berkesan.

“Pada suatu kesempatan yang ada, kami dijamu dengan segelas tuak enak, semacam anggur terbuat dari nira pohon enau, yang mana minuman ini cukup digemari oleh orang-orang Batak dan seminggu sekali bisa dibeli di pasar besar, di Porsea. Apalagi kalau bisa ditemani sepotong daging anjing, maka mereka lebih menikmati tuak itu,” kenang van de Velde dalam korespondensinya yang telah dibukukan dalam “Surat-surat dari Sumatra 1928-1949”.

Van de Velde pada saat itu merasa enggan menyantap daging anjing karena merasa jijik. Tapi di lain kesempatan dia akhirnya mencicipi juga. Pada tanggal 17 November 1940, van de Velde kedatangan tamu dari Yale University, Profesor Karl Peltzer untuk meneliti gejala erosi di Balige. Sebagai jamuan, seorang koki lokal ternyata menyajikan sepinggan daging anjing goreng dan rebus dengan cara khas Batak. “Kami mencicipi kedua masakan itu dan rasanya cukup lumayan,” kata van de Velde. Namun van de Velde juga menyaksikan keadaan miris yang harus dialami oleh anjing-anjing santapan. Mereka kerap diperlakukan secara kasar dan sangat kurang berharga.

“Kita tidak perlu mengasihani anjing-anjing di sini, di huta-huta, mereka sering sekali ditendangi, dipukul, diusir, lagipula, jumlahnya memang terlalu banyak. Di Pasar Balige pun, bisa dibeli anjing yang memang sudah disembelih, bahkan juga yang sudah dimasak, dan sering dimakan langsung di tempat, dengan ditemani segelas dua tuak,” demikian tutur van de Velde.

Mengisi Daya Tondi (Roh)

Kebiasaan orang Batak makan daging anjing juga terbawa hingga ke perantauan. Firman Lubis dalam memoarnya Jakarta 1950-an sering mendengar identifikasi yang telah ditujukan kepada orang Batak di Jakarta. Biasanya dilontarkan sebagai sentimen kesukuan atau pun ejekan. “Batak tukang makan orang atau tukang makan anjing – saya sendiri juga sering terkaget-kaget waktu ada yang melontarkan ejekan ini kepada saya karena kedua orang tua saya memang cukup Islami dan saya juga agak takut dengan anjing” kenang Firman Lubis, mengutip Historia.

Rumah-rumah makan Batak ataupun juga lapo tuak yang menyajikan daging anjing lazimnya melabelkan kode B1 dalam daftar menu. B1 itu diambil dari bahasa Batak, biang yang artinya anjing untuk membedakannya dari daging babi yang diberi kode dengan B2. Dibandingkan babi, daging anjing ternyata memiliki tekstur keras dan tidak berlemak.

Jika menarik lebih jauh akar sejarah dan juga budayanya, makan daging anjing lebih dari sekedar penganan pendamping saat minum tuak. Tradisi menyantap anjing ternyata punya kaitan dengan kepercayaan animisme Batak kuno. Mengonsumsi daging anjing diyakini bisa memberikan kekuatan kepada tondi (roh) manusia.

Sebelum masuknya pengaruh agama Samawi, suku Batak Toba percaya bahwa tondi adalah tenaga yang mampu menghidupkan segala sesuatu yang ada di bumi. Keberadaan seseorang di dunia juga bergantung kepada persediaan dan kebesaran tondi-nya. Beberapa hewan seperti anjing, babi hutan dan juga harimau mempunyai persediaan tondi yang jauh lebih besar ketimbang hewan lain.

“Anjing mampu berlari cepat karena tondi-nya memang lebih kuat,” tulis Bisuk Siahaan dalam Batak Toba: Kehidupan Di Balik Tembok Bambu. “Memakan daging anjing juga akan menambah persediaan tondi secara besar-besaran.” Kepercayaan mengenai mustajabnya daging anjing menghinggap pula pada diri orang Batak tempo dulu yang gemar berperang. Menurut teolog Rudolf Pasaribu dalam “Agama Suku dan Bataknologi”, kebiasaan memakan daging anjing dalam tradisi kuno punya maksud agar mereka berani dan juga gesit dalam peperangan. Dalam tubuh anjing juga dipercayai mengandung semacam zat yang merangsang keberanian.

Related Post

Lima Misteri Ini Tidak Mampu Dijelaskan Oleh Sains... Terdapat banyak fenomena yang pernah terjadi di dunia ini dan belum bisa dijelaskan secara sains. Walau sejumlah peneliti telah memiliki teori ten...
Fenomena Sinkhole muncul di Sukabumi, Pertanda Apa... Belakangan ini banyak musibah atau bencana yang sedang terjadi di Indonesia bahkan seluruh dunia. Ada yang berupa bencana alam sampai kecelakaan yan...
Teh Pisang Dapat Hentikan Insomnia Dan Bisa Tidur ... Teh pisang, ini minuman yang cukup aneh dan bisa jadi Anda baru mendengarnya sekarang. Normalnya pisang memang akan jadi camilan tepat bersama teh, na...
Bikin Netizen Terharu Perlakukan Pramugari Ini Ter... China sedang berjaya di Asian Games dengan menduduki peringkat pertama dengan torehan 55 medali emas, 40 medali perak dan 21 medali perunggu. Namun ...