Wednesday, November 20Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Ini Yang Menjadi Penyumbang Oksigen Terbesar Di Bumi

Ini Yang Menjadi Penyumbang Oksigen Terbesar Di Bumi

Selama ini yang kita tahu adalah pohon sebagai penyumbang oksigen terpenting bagi bumi beserta seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya. Namun tahukah kamu? Ternyata peran pohon sebagai penyumbang oksigen bagi bumi bukan menjadi yang terbesar, karena pohon hanya menjadi salah satu bagian saja sebagai penyumbang oksigen bagi bumi sebesar 20%.

Peran pohon memang berguna sebagai mitigasi (mengurangi) zat karbondioksida yang ada di dalam kandungan udara di bumi. Tapi, penyumbang oksigen terbesar di bumi justru bukanlah pohon seperti yang selama ini kita ketahui. Karena penyumbang oksigen terbesar bagi bumi adalah plankton, khususnya fitoplankton. Mengapa bisa demikian?

Plankton didefinisikan sebagai makhluk organisme yang mudah hanyut terhadap apapun yang hidup dalam zona pelagik, atau bagian atas samudera, laut, dan badan air tawar. Secara luas peran plankton juga dianggap sebagai salah satu organisme terpenting bagi kelangksungan kehidupan seluruh makhluk bumi, hal ini dikarenakan plankton berperan sebagai bekal makanan bagi kehidupan akuatik.

Bagi kebanyakan makhluk laut lainnya, plankton merupakan makanan utama bagi mereka. Plankton sendiri terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut yang telah mati. Meski ukuran tubuh plaknton kecil, makhluk sati ini juga termasuk sejenis benda hidup, selain itu plankton tidak mempunyai kekuatan untuk melawan arus, baik itu arus air pasang atau arus air angin yang dapat dengan mudah menghanyutkannya ke penjuru lautan.

Plankton biasa hidup di sekitar pesisir pantai,  di tempat ini plaknton mendapat bekal makanan berupa garam mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Bekal makanan ini penting bagi plankton, karena memungkinkannya dapat terus hidup. Mengingat plankton menjadi makanan ikan, tidak mengherankan jika makhluk laut seperti ikan banyak terdapat di pesisir pantai. Itulah sebabnya mengapa kegiatan menangkap ikan aktif dijalankan di kawasan tersebut.

Selain berasal dari sisa-sisa hewan yang telah mati, plankton juga tercipta dari tumbuhan. Jika dilihat dengan menggunakan mikroskop, unsur tumbuhan alga dapat dilihat pada plankton. Beberapa makhluk laut yang memakan plankton adalah seperti batu karang, kerang, dan makhluk seperti ikan paus.

Plankton merupakan organisme yang mampu menyumbang 80% kebutuhan oksigen bagi makhluk yang ada di bumi ini. Dengan kemampuannya untuk berespisari menghasilkan gelembung-gelembung oksigen yang terdapat di dalam laut. Oksigen tersebut pun dapat terlepas ke udara dan menjadi gas yang bisa kita nikmati sekarang sebagai sumber pernapasan dalam hidup sehari-hari.

Baru baru ini penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Amerika Serikat menemukan sebuah fakta terbaru, ternyata plankton secara tidak langsung dapat membuat awan seperti yang biasa kita lihat di langit, peran awan sendiri dapat menahan sebagian sinar matahari yang merugikan bagi kelangsungan hidup seluruh makhluk bumi. Sehingga dengan adanya plankton,  bisa membantu memperlambat proses pemanasan udara di bumi.

Dua peneliti yaitu Dierdre Toole dari Institusi Oceanografi Woods Hole (WHOI) serta David Siegel dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB). Setelah berhasil melakukan penelitian yang dibiayai oleh NASA tersebut mengungkapkan sebuah fakta terbaru. Yaitu ketika matahari menyinari lautan, ternyata lapisan atas laut (sekitar 25 meter dari permukaan laut) dapat memanas dan menjadi penyebab terjadinya perbedaan suhu. Dimana suhu yang cukup tinggi dengan lapisan laut yang ada di bawahnya. Lapisan atas dan bawah laut tersebut terpisah dan tidak saling tercampur.

Plankton biasa hidup di lapisan atas air laut, tapi nutrisi yang diperlukan oleh makhluk satu ini terdapat lebih banyak di lapisan bawah laut. Hal ini dapat membuat plankton mengalami malnutrisi atau kekurangan gizi. Akibat kondisi malnutrisi pada plankton ditambah dengan suhu air yang panas, membuat plankton mengalami stress. Hal ini membuat plaknton menjadi lebih rentan terhadap sinar ultraviolet yang dapat merusaknya.

Karena plankton menjadi rentan terhadap sinar ultraviolet akibat stress, pada akhirnya membuat plankton mencoba melindungi diri dengan menghasilkan zat dimethylsulfoniopropionate (DMSP) yang berfungsi untuk menguatkan dinding sel mereka. Perlu diketahui jika zat DMSP ini terurai ke air akan berubah menjadi zat dimethylsulfide (DMS). DMS kemudian akan terlepas dengan sendirinya dari permukaan laut ke udara.

Di atmosfer, DMS akan bereaksi dengan oksigen sehingga akan membentuk sejenis komponen sulfur di udara. Komponen sulfur DMS itu kemudian saling melekat dan membentuk partikel kecil seperti debu dan tersebar di udara di bumi. Partikel-partikel kecil tersebut kemudian memudahkan uap air dari laut untuk berkondensasi untuk kemudian membentuk awan.

Jadi, secara tidak langsung, plankton membantu menciptakan awan yang ada di langit. Awan yang terbentuk di langit pun menyebabkan semakin sedikit sinar ultraviolet yang mencapai permukaan laut. Sehingga plankton pun bisa terbebas dari gangguan sinar ultraviolet yang menggangu dan menjadi pemicu stress bagi dirinya.

Para ilmuan sebenarnya telah beberapa tahun dipelajari di laboratorium, namun proses alamiahnya baru kali ini dapat dipelajari oleh para ilmuwan. Awan yang muncul karena disebabkan oleh plankton ini, dipercaya dapat memperlambat proses pemanasan di permukaan bumi, serta memiliki efek besar tehadap iklim yang ada di bumi. Namun, untuk membuktikan hal tersebut, masih harus dilakukan penelitian lebih lanjut yang lebih seksama. Penelitian yang dilakukan di Laut Sargasso, tepatnya di lepas pantai Bermuda ini juga menemukan secara mengejutkan, diketahui bahwa partikel DMS ini dapat terurai dengan sendirinya di udara setelah tiga sampai lima hari. Padahal, karbondioksida di udara dapat bertahan hingga berpuluh-puluh tahun lamanya.