Tuesday, May 21Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Ini Kata Keluarga Korban Penculikan Aktivis 98 Terkait Pilpres 2019

Ini Kata Keluarga Korban Penculikan Aktivis 98 Terkait Pilpres 2019

Sejumlah keluarga korban aktivis yang diculik pada 1997-1998 menyuarakan untuk tidak memilih calon presiden yang diduga melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) pada pemilu mendatang. Hal ini digaungkan karena adanya kekhawatiran tertutupnya peluang pengungkapan penculikan yang menimpa keluarga mereka jika capres pelanggar HAM terpilih.

Orang tua Petrus Bimo Anugrah, salah satu aktivis yang diculik, Utomo Raharjo, mengungkapkan dirinya sudah mantap untuk menolak capres pelanggar HAM.

“Untuk ke depan saya memakai kaus tulisannya Anda bisa baca sendiri, ‘Kalahkan Capres Pelanggar HAM’. Jadi lain kata, marilah kita memilih capres yang bukan pelanggar HAM ini. Harapan saya kepada pemerintah dalam pemilu yang akan datang kami keluarga korban dukung Jokowi untuk periode kedua. Pasti kata Raharjo bertempat di Hotel Grand Cemara, Jakarta Pusat, hari Rabu (13/3).

“Tidak ada pertanyaan seandainya. Tidak ada andai nomor dua menang. Tidak ada. Jokowi pasti menang. Keluarga korban telah menunggu 21 tahun kami tak pernah berhenti dan tidak pernah ciut nyali cari kebenaran di negeri ini,” tambahnya. Sikap dari Raharjo ini juga digaungkan oleh keluarga korban lainnya. Penculikan pada tahun-tahun tersebut sangat begitu membekas dan meninggalkan luka bagi keluarga hingga saat ini.

Menurut salah satu korban penculikan yang selamat, Mugiyanto, yang juga merupakan dewan penasehat Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI), pada tahun 1997-1998, ada sekitar 23 orang yang diduga diculik oleh rezim Orde Baru. Sembilan di antaranya dibebaskan, salah satunya adalah dirinya. Sedangkan untuk korban lainnya, satu ditemukan meninggal dunia, dan 13 lainnya masih belum jelas keberadaannya.

“Capres nomor urut 02 adalah orang yang secara langsung terkait dengan peristiwa yang kami alami. Waktu itu Prabowo Danjen Kopassus diberhentikan tidak hormat karena penculikan dan sekarang jadi capres,” katanya.

“Kami tidak ingin, tidak punya bayangan bahwa pelaku penculikan yang belum pertanggungjawabkan tindakannya secara hukum dipilih jadi Presiden. Kami tidak ingin,” tambahnya.

Keluarga korban lainnya bahkan bercerita bagaimana anaknya disiksa dan diculik pada tahun-tahun tersebut. Marufah, Ibunda dari korban penculikan yang selamat, Faizol Reza, menceritakan apa yang dialami oleh anaknya usai dibebaskan dari penyekapan.

“Sekujur tubuhnya banyak luka-luka. Dia enggak cerita sampai sekarang. Bagaimana siksaan Prabowo seperti apa. Kopassus seperti apa. Cerita ke adik-adiknya, jadi adik-adik yang diceritain. Adiknya cerita ke saya,” katanya.

“Yang paling berat disiksa itu pertama ditidurkan di balok es, dia sama temannya Waluyo Jati. Ditidurkan di balok es dalam keadaan telanjang. Kedua digantung pakai tali tapi kepala di bawah,” tambahnya.

Ia pun kembali menegaskan seruan serupa yang mengajak tak memilih capres pelanggar HAM dalam pemilu mendatang. “Saya katakan jangan pilih Prabowo. Pilihlah orang yang punya latar belakang moral yang bagus serta perhatian kepada rakyat Indonesia,” katanya.