Monday, August 19Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Ini Dia Peringkat Indonesia Dalam Bisnis Prostitusi Di Dunia

Ini Dia Peringkat Indonesia Dalam Bisnis Prostitusi Di Dunia

Bisnis remang-remang, seperti prostitusi, merupakan ladang subur perputaran uang di berbagai negara. Bahkan bisa mencapai miliaran dolar AS per tahun. Mengutip data global black market atau ‘pasar hitam’ global, Havocscope, perputaran uang dari bisnis prostitusi bisa mencapai USD 186 miliar atau sekitar Rp 2.641 triliun (kurs Rp 14.200) per tahun.

Angka yang dilansir Havocscope -lembaga yang berfokus pada penyediaan data ‘pasar hitam’- itu, bahkan lebih besar dari belanja negara dalam APBN Republik Indonesia, yang sebesar Rp 2.461 triliun di sepanjang 2019. Jika putaran uang bisnis prostitusi global mencapai ribuan triliun rupiah, lantas, bagaimana dengan di Indonesia?

Dilansir dari kumparan yang menelusurinya, langsung dari hilir dengan memotret data penghasilan para Pekerja Seks Komersial (PSK). Tentunya tak akan disebut ‘pasar hitam’ jika data sektor bisnis ini, tersedia bebas dan mudah diakses.

Penelusuran kali ini dimulai dari bisnis hiburan berlabel ‘Spa dan Karaoke’. Tempatnya di sebuah bangunan di kawasan elite Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Lokasinya ada di pemukiman rumah-rumah mewah, milik sejumlah pejabat, pengusaha, dan sosok terkemuka lainnya.

Begitu masuk ke bangunan itu, seorang perempuan muda menyambut di meja resepsionis. Paket karaoke kelas VIP selama 4 jam pun dipesan. Tarifnya Rp 3 juta. Dalam paket ini sudah termasuk dua perempuan pemandu lagu atau Ladies Companion (LC). Dua LC tersebut dipilih dari 15 wanita yang disodorkan pihak pengelola.

Indonesia di Ranking 12

Uang yang didapat Lucy dan Yeny itu, bahkan lebih besar dari data yang dilansir Havocscope. Lembaga itu menyebut penghasilan rata-rata PSK di Indonesia, sebesar USD 784 – USD 1.120 atau sekitar Rp 11 juta – Rp 16 juta per bulan. Angka itu, belum termasuk prostitusi online, yang biasa ditawarkan melalui media sosial.

Havocscope mengungkapkan, di antara 24 negara yang mereka riset, total nilai transaksi prostitusi di Indonesia berada di peringkat ke-12. Transaksi prostitusi di Indonesia diklaim Havocscope mencapai USD 2,25 miliar atau sekitar Rp 32 triliun per tahun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Taiwan yang mencapai USD 1,84 miliar.

Penulis buku ‘Jakarta Undercover’ Moammar Emka, punya angka yang berbeda dengan data Havocscope. Dia menaksir, omzet bisnis prostitusi bisa tembus Rp 24 triliun per tahun. Angka itu, menurutnya, hanya untuk kelas menengah ke atas saja. Artinya, jika ditotal keseluruhan, bisa jadi angka-angka yang disebut Havocscope dan Moammar, hanyalah sebuah puncak gunung es dari sebuah bisnis beromzet raksasa.

Mengacu ke data Havocscope, omzet yang dicatatkan Indonesia bahkan masih lebih besar dibandingkan Belanda, negara yang melegalkan prostitusi. Belanda justru berada di urutan ke-17, dengan pendapatan dari sektor prostitusi sebesar USD 800 juta per tahun.

Urutan teratas bisnis prostitusi di dunia, diduduki China dengan nilai sebesar USD 73 miliar, Spanyol USD 26,5 miliar, dan Jepang USD 24 miliar. Jerman yang juga melegalkan bisnis prostitusi memiliki pendapatan ‘hanya’ sebesar USD 18 juta, dan Amerika Serikat (AS) sebesar USD 14,6 miliar.