Wednesday, June 19Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Ini Dia Perbedaan Antara Geosentris Dan Heliosentris

Ini Dia Perbedaan Antara Geosentris Dan Heliosentris

Pada era modern, perkembangan ilmu astronomi sudah maju. Seiring dengan banyaknya penemuan-penemuan terbaru membuat ilmu astronomi semakin  dinamis. Teori-teori mengenai jagad raya, khususnya tata surya selalu terus saja diuji kevaliditasannya. Salah satunya adalah teori Geosentris yang dipopulerkan oleh seorang ilmuwan Yunani bernama Ptolemy. Teori ini cukup banyak yang mempercayainya namun ada juga yang menepisnya.

Dulu, Para ahli astronomi mengira Bumi adalah pusat tata surya, bahkan beberapa diantaranya mengira bumi adalah pusat alam semesta. Semua benda langit seperti matahari, bulan, bintang dan juga planet bergerak mengitari Bumi. Pandangan ini dikenal dengan teori Geosentris.

Geosentrisme atau disebut teori Geosentrik, model Geosentrik (bahasa Inggris: geocentric model atau geocentrism, Ptolemaic system) merupakan istilah astronomi yang menggambarkan alam semesta dengan Bumi sebagai pusatnya dan pusat pergerakan semua benda-benda langit. Dikemukakan oleh seorang astronom asal Yunani-Mesir bernama Claudius Ptolemeus pada pertengahan abad ke-2 SM.

Lewat bukunya yang berjudul Almagest, atas dasar pandangan Pytagoras dan juga Aristoteles. Ptolemy berpendapat bahwa Bumi adalah pusat alam semesta berdasarkan pengamatan sederhana yaitu setengah jumlah bintang-bintang terletak di atas horizon dan setengahnya di bawah horizon pada waktu manapun (bintang-bintang pada bulatan orbitnya), dan anggapan bahwa bintang–bintang semuanya terletak pada suatu jarak tertentu dari pusat semesta.

Jika Bumi terletak cukup jauh dari pusat semesta, maka pembagian bintang-bintang yang tampak dan tidak tampak, tidaklah sama. Dalam astronomi bola, geosentrik adalah cara memandang atau mendefinisikan posisi benda-benda langit dengan Bumi sebagai pusatnya. Karena jarak objek-objek langit begitu besar jika dibandingkan dengan ukuran Bumi. Maka, posisinya pada bola langit seringkali harus didefinisikan. Tidak lagi bergantung pada posisi pengamat di permukaan Bumi, tetapi Bumi lah yang menjadi pusatnya. Kebanyakan tata koordinat langit merupakan tata koordinat yang geosentrik. Hal ini dilakukan untuk kemudahan semata.

Pemahaman manusia akan alam semesta semakin bertambah seiring dengan perkembangan pemikiran manusia dan kemajuan ilmu dan teknologi. Dahulu yang mengira posisi Bumi kita begitu istimewa, sebagai pusat alam semesta, dan sebagai pusat perputaran seluruh benda-benda langit.

Setelah bertahan selama lebih dari 1500 tahun, pendapat ini ternyata keliru. Pada tahun 1543, seorang astronom Polandia bernama Nicolaus Copernicus, lewat bukunya yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium. Telah berpendapat bahwa semua planet – termasuk Bumi – bergerak mengitari matahari. Teori ini dikenal dengan teori Heliosentris.

Teori yang semakin kuat pada awal abad ke-16, astronom Austria bernama Johannes Keppler menemukan hukum peredaran planet atau yang dikenal dengan Hukum Keppler. Keppler telah mendasarkan teorinya pada hasil pengamatan gerak planet Mars sehingga teorinya benar-benar merupakan hasil analisis data empiris.

Penemuan astronom Italia bernama Galileo Galilei  pada tahun 1610,  tentang adanya empat satelit Jupiter dapat disebut turut mendukung konsep Heliosentris. Pada masa-masa kejayaan Islam, para cendekiawan Muslim mulanya mengadopsi dan juga menggunakan konsep Geosentris-nya Ptolemy. Disinilah para cendekiawan Muslim tersebut menemukan ketidakcocokan teori Geosentris terhadap fakta empiris yang telah ada. Salah satu ilmuwan yang memberikan kritik terhadapnya adalah Ibnu al-Haytam. Kemudian berkembanglah berbagai perhitungan astronomis yang telah didasarkan pada konsep Heliosentris.

Geosentris

Pandangan geosentris telah memandang bahwa bumi adalah pusat dari alam semesta atau tata surya. Pandangan ini berkembang pada sekitar 600 tahun sebelum masehi. Geosentris diyakini oleh beberapa filsuf seperti Amaximandaros, Aristoteles, Hipparchus dan puncaknya yaitu Ptolomeus yang membuat peta benda langit dalam buku Almagest. Ia berpandangan bahwa bumi adalah diam dan benda langit yang lain bergerak mengitari bumi. Itu berdasarkan pengamatan matahari yang terbit dari timur dan tenggelam di barat. Paham tersebut disetujui oleh beberapa kalangan pada masa itu.

Heliosentris

Pandangan heliosentris justru memandang bahwa matahari adalah pusat peredaran benda langit. Teori ini juga telah dipopulerkan oleh Nicolas Copernicus, seorang astronom asal Polandia. Heliosentris itu meyakini bahwa matahari adalah pusat tata surya dan benda langit lain berputar mengelilingi matahari. Pengakuan pandangan ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Galileo Galilei tentang mekanika gerak planet dan yang terakhir Johannes Keppler menghasilkan 3 hukum kepler yang berkaitan dengan peredaran planet di tata surya.