Wednesday, July 17Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Ini Dia Lima Startup Teratas di Tanah Air versi Startup Ranking

Bukalapak. (Foto: Dok Net)

Menurut data situs Startup Ranking per tanggal 22 Juni 2019, platform jual beli online Bukalapak berada di urutan pertama perusahaan rintisan (startup) di Indonesia.

Adapun setelah Bukalapak secara berurutan yang menduduki posisi kedua hingga sepuluh Startup antara lain Blibli, Traveloka, Zalora Indonesia, Zenius Education, Blanja.com, Alodokter, Ruangguru, Dokter Sehat, dan Elevenia.

Khusus untuk pembaca Ulasan Dunia, di bawah ini akan diulas secara lengkap Startup yang menempati peringkat lima besar. Siapa saja mereka?

Bukalapak

Startup Ranking mencatat trafik bulanan Bukalapak per data bulan ini sebanyak 131,7 juta kunjungan.  Sekarang, Bukalapak menjadi salah satu startup bertitel unicorn, yang mempunyai valuasi di atas 10 miliar dolar AS di Tanah Air.

Bukalapak menyatakan titel decacorn, tingkatan valuasi startup di atas unicorn, bukan tujuan utama mereka dalam menjalankan bisnis melainkan memberbedayakan pedagang dan usaha kecil (UKM). Hal itu diketahui pada awal 2019.

“Tujuan utama Bukalapak terdekat yaitu bagaimana Bukalapak bisa terus berkembang dan bisa memajukan UKM di Indonesia,” ujar Presiden Bukalapak, Fajrin Rasyid, belum lama ini.

Sekedar informasi, Bukalapak hingga akhir 2018 memiliki sekitar 40 juta pelapak, toko atau indvidu yang berdagang. Sementara jumlah pengguna mencapai 50 juta orang.

Bahkan, Bukalapak hingga saat ini belum mengakuisisi perusahaan mana pun. Awal tahun ini mereka menyatakan memang belum ada rencana untuk membeli perusahaan untuk mengembangkan diri.

Walaupun belum mengakuisisi startup mana pun, Bukalapak terus mengembangkan layanan. Yang terbaru mereka membuka BukaGlobal agar UKM Indonesia bisa terhubung dengan pasar di beberapa negara, salah satunya Malaysia.

Bukalapak, seperti platform jual beli pada umumnya, dapat diakses melalui situs dan aplikasi untuk perangkat mobile. Sebelumnya sejak tahun 2018, Bukalapak menggandeng Dana untuk layanan pembayaran dengan dompet digital.

Blibli dan Traveloka

Peringkat kedua, platform belanja Blibli.com menghadirkan industri jasa perdagangan daring (e-commerce) Indonesia sejak 2011 sebagai salah satu e-commerce yang mesupport produk-produk buatan lokal.

Blibli memiliki kategori ‘Galeri Indonesia’ untuk menampilkan produk-produk asli Nusantara berupa produk artisan, baik kerajinan tangan maupun makanan, sejak 2015.

Dukungan Blibli terhadap pelaku usaha lokal juga ditunjukkan dengan konsistensi mereka mengadakan kompetisi untuk pebisnis kreatif “The Big Start” yang masuk musim keempat pada 2019.

“The Big Start Season 4” membuka kesempatan untuk pelaku usaha di bidang kriya, kuliner, fesyen, kecantikan dan kesehatan. Para pelaku usaha yang terlibat dalam ajang itu berusia 18-35 tahun.

Blibli memberikan syarat mereka sudah memproduksi barang di Indonesia minimal dua tahun. Sejak 2018, Blibli memiliki gerai fisik Blibli Instore dengan memadukan pengalaman belanja online serta offline, yaitu barang dapat langsung dibawa.

Sepanjang 2018, Blibli Instore sudah terpasang di 3.000 gerai mitra di berbagai kota di Indonesia. Bahkan per Juni 2019, Blibli menempati posisi kedua perusahaan rintisan di Indonesia, dengan jumlah kunjungan  per bulan mencapai 57,3 juta kali. Pada 2017, Blibli juga mengakuisisi biro perjalanan daring Tiket.com.

Berikutnya Biro perjalanan dalam jaringan (online) Traveloka hingga saat ini merupakan perusahaan rintisan di bidang perjalanan wisata yang sukses menembus status unicorn di Indonesia.

Indonesia, hingga tahun 2019, memiliki empat perusahaan rintisan yang mendapatkan status unicorn itu karena memiliki valuasi di atas 10 miliar dolar as, yaitu Go-Jek, Traveloka, Bukalapak, dan Tokopedia.

Merunut situs Startup Ranking, Traveloka berada pada peringkat ketiga startup teratas di Indonesia.Mereka mendapatkan pendanaan dari Expedia pada 2017. Kemudian pada akhir 2018, Traveloka dikabarkan akan mendapatkan pendanaan sekitar 400 juta dolar AS yang akan digunakan untuk ekspansi bisnis.

Perusahaan yang didirikan Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert Zhang tersebut semakin gencar berekspansi ke luar negeri. Bahkan pada awal 2019, Traveloka resmi masuk ke Australia baik melalui aplikasi maupun website.

Mereka juga membuka kantor baru yang difokuskan untuk penelitian dan pembangunan di Bangalore, India. Walaupun telah memiliki banyak fitur, Traveloka terus berinovasi untuk mengembangkan layanan yang mereka miliki, baik lewat aplikasi maupun website.

Fitur terbaru, Traveloka merilis Xperience berupa solusi menyeluruh untuk pengguna yang merencanakan bepergian. Traveloka menawarkan layanan Easy Acces untuk konsumen yang membeli tiket tempat wisata melalui platform tersebut.

Gerbang elektronik hasil kerja sama Traveloka dengan pengelola tempat wisata memiliki kemampuan untuk membaca kode QR yang ada di tiket, termasuk tiket elektronik. Hingga kuartal II 2019, Traveloka telah bekerja sama dengan 20 pengelola tempat wisata untuk menyediakan gerbang elektronik ini, salah satunya taman wisata Jatim Park.

Zenius dan Blanja

Peringkat keempat, Zenius bermain dalam bidang teknologi pendidikan (education tehchology) atau lebih populer disebut “edutech”. Zenius menyediakan kanal belajar dalam jaringan (online) untuk siswa sekolah dasar hingga menengah atas.

Layaknya les mata pelajaran, siswa harus menjadi anggota berbayar agar bisa mengakses materi pelajaran dari Zenius. Zenius menawarkan keanggotan mulai harga Rp165.000 (selama sebulan) hingga Rp440.000 (setahun).

Anggota Zenius akan mendapatkan akses ke soal latihan dalam format PDF hingga video berisi materi pelajaran. Zenius berdiri sejak 2007 di bawah PT Zenius Education. Pada Mei 2019, Zenius bekerjasama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk membantu pendidikan di daerah tertinggal.

Zenius memasang teknologi online to offline (O2O) sehingga anak-anak tetap dapat mengakses materi pelajaran tambahan di platform Zenius meskipun tidak memiliki sambungan Internet.

Sementara itu Blanja.com yang menduduki peringkat kelima, saat ini menjadi satu-satunya situs dagang elektronik yang berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Sebagai marketplace hasil kerja sama (joint venture) antara Telkom dengan eBay, Blanja.com memberikan kemudahan kepada konsumen untuk berbelanja di situs dagang internasional asal Amerika Serikat tersebut.

Ketika berbelanja, konsumen tidak perlu memikirkan kerumitan soal biaya ekstra yang harus dibayarkan. Harga total yang tertera setelah membeli produk dari eBay lewat Blanja.com sudah termasuk pajak, bea cukai serta ongkos kirim.

Selain memberi akses untuk berbelanja barang-barang dari luar negeri, Blanja.com juga memberi dukungan kepada pedagang dalam negeri lewat kategori Asli Indonesia, yang menampilkan produk-produk dari penjual lokal.

Kategori Asli Indonesia saat ini terdiri dari sub-kategori kuliner, fesyen dan kerajinan, yang diisi antara lain oleh usaha kecil menengah binaan pemerintah.

Pengunjung Blanja juga bisa membeli aneka produk yang dijual BUMN, seperti beras, minyak goreng, dan gula dari Bulog. Terdapat juga aneka coklat yang dijual oleh Sarinah, dan kopi serta teh dari Perkebunan Nusantara.

Blanja saat ini berada di urutan keenam perusahaan rintisan di Indonesia, dengan jumlah kunjungan (traffic) mencapai 1,7 juta per bulan.

Sekedar informasi, terkait perkembangan startup di Tanah Air, hingga 2019 Indonesia telah memiliki empat perusahaan rintisan yang berstatus Unicorn dengan valuasi di atas 10 miliar dolar AS, antara lain GO-JEK, Traveloka, Bukalapak, dan Tokopedia.