Wednesday, November 20Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Indonesia Tercatat Menjadi Negara Penangkap Hiu Terbanyak

Indonesia Tercatat Menjadi Negara Penangkap Hiu Terbanyak

Baru-baru ini, organisasi nirlaba The Wildlife Trade Monitoring Network (TRAFFIC) telah melakukan studi dan merilis data terkait negara-negara yang melakukan penangkapan hiu terbanyak di dunia. Dalam data tersebut, setidaknya ada 20 negara yang tercatat paling banyak melakukan tangkapan hiu dan pari, yang secara kolektif mencakup sekitar 80 persen tangkapan di dunia.

Indonesia, Spanyol, India, Meksiko, dan AS menempati urutan teratas dalam daftar penangkapan hiu pada tahun 2007 hingga 2017, dengan total tangkapan mencapai 333.952 ton per tahunnya. Indonesia menjadi negara penangkap hiu terbanyak di dunia dengan jumlah tangkapan rata-rata mencapai 110.737 ton per tahun.

Kebiasaan mengonsumsi sirip hiu di Asia Timur, yang telah diolah menjadi sup untuk disajikan dalam acara-acara penting, adalah faktor utama terjadinya perdagangan hiu. Secara total, berdasarkan data yang diperoleh dari tahun 2000 hingga 2016, rata-rata produksi sirip hiu di dunia mencapai 16.177 ton per tahun, dengan total pendapatan sekitar Rp 4,1 triliun per tahun.

Empat importir sirip hiu terbesar di dunia menyumbang 90 persen dari rata-rata impor sirip hiu global di setiap tahunnya. Hong Kong merupakan negara terbesar yang mengimpor sirip hiu dengan rata-rata 9.069 ton per tahun. Lalu diikuti oleh Malaysia 2.556 ton per tahun, China 1.868 ton per tahun dan Singapura 1.587 ton per tahun.

Sedangkan importir utama daging hiu dan pari diraih oleh Brasil, Spanyol, Uruguay serta Italia. Keempat negara tersebut menyumbang 57 persen dari rata-rata impor daging hiu, selama dekade terakhir.

Jika penangkapan secara berlebihan ini terus berlanjut, maka populasi hiu bisa sangat terancam. Ini tak lain karena pertumbuhan hiu yang lambat. Sebab, proses kematangan hiu relatif lambat dan kemampuan reproduksi mereka juga rendah.

Persebaran dan sifat migrasi mereka yang luas juga menimbulkan kesulitan yang lebih besar ketika manusia mencoba untuk merancang dan menerapkan langkah-langkah efektif untuk mencegah eksploitasi berlebihan.

Hal ini terbukti dengan adanya penurunan populasi berbagai spesies hiu di dunia. Saat ini, sekitar 17 persen dari hiu dan pari telah masuk dalam Red List IUCN. Dimana artinya sebagai hewan yang rentan dan terancam punah. Hanya 23 persen dari spesies hiu dan pari yang masuk dalam kategori Least Concern atau berisiko rendah.

“Kami telah melihat kontrol perdagangan yang lebih besar melalui CITES selama dekade terakhir sebagai respons terhadap penurunan hiu dan pari yang ditangkap secara berlebihan untuk perdagangan,” kata Glenn Sant, Penasihat Senior TRAFFIC untuk Perdagangan Perikanan dan Ketelusuran, seperti dikutip dari The Maritime Executive.

“Kami juga ingin melihat importir besar meneliti kelestarian spesies hiu dan pari yang mereka impor menggunakan alat-alat seperti M-Risk, yang dikembangkan oleh TRAFFIC. Para importir besar perlu bertanggung jawab atas jejak kelestarian mereka sebagai akibat mengimpor spesies yang berisiko tinggi terhadap eksploitasi yang berlebihan.”