Sunday, November 18Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Hati-hati! Ternyata Terlalu Stress Bisa Menyusutkan Volume Otak

Hati-hati! Ternyata Terlalu Stress Bisa Menyusutkan Volume Otak

Mungkin kita semua sudah tahu bahwa stress bisa berdampak buruk untuk kesehatan tubuh dan mental kita. Namun, sebuah studi terbaru yang disebarkan di jurnal Neurology menyebutkan, stress juga berbahaya untuk otak kita.

Dari hasil studi tersebut, orang-orang yang berumur setengah baya dengan kadar hormon kortisol yang cenderung tinggi, mempunyai volume dan fungsi kognitif otak lebih rendah.

Hormon kortisol sendiri mempunyai peran cukup besar dalam beberapa proses kerja tubuh manusia, di antaranya seperti metabolisme, imun, serta pembentukan memori. Akan tetapi, ekstra kortisol yang dikeluarkan karena respon terhadap stres ternyata bisa memunculkan beberapa perubahan, di antaranya adalah penurunan kognitif yang akan terjadi di kemudian hari.

“Perubahan tersebut dapat meningkatkan risiko demensia dan cedera otak vaskular, dua atau tiga dekade kemudian,” ujar Dr. Sudha Seshadri, seorang profesor bidang ilmu penyakit saraf di UT Health San Antonio.

Studi tersebut melibatkan sebanyak 2.200 orang dewasa yang berusia rata-rata 48 tahun, dan berpartisipasi dalam Framingham Heart Study. Di awal penelitian, masing-masing dari orang-orang tersebut wajib mengikuti berbagai tes memori serta kemampuan berpikir, untuk dilanjutkan kembali dalam rentang waktu delapan tahun kemudian.

Tak hanya itu, mereka pun juga menyertakan sampe darah sebagai bahan yang digunakan para penelliti untuk mengetahui kadar kortisol di dalamnya, dan juga pemindaian MRI guna mengetahui ukuran volume otak.

Usai menganalisa hasil serta mengumpulkan beberapa informasi berkaitan dengan demografi dan kesehatan, ternyata ditemukan hubungan antara meningkatnya hormon kortisol dengan penyusutan ukuran volume otak. Tak hanya itu, terdapat juga rendahnya skor untuk tes memori serta kognisi. Walaupun demikian, tak ada partisipan di studi ini yang menujukkan adanya gejala demensia.

“Kenyataan bahwa tingkat kortisol yang tinggi berkaitan dengan perubahan fungsi otak sangat mengkhawatirkan. Namun, sekaligus menjadi kesempatan untuk mencegahnya. Kita harus mengatasi stres agar kortisol berkurang,” tambah Seshadri.

Dari hasil studi tersebut, Seshadri menyarankan kita untuk lebih rileks dan berupaya melakukan berbagai aktifitas yang dapat mengurangi stress. Dan, tentunya diimbangi dengan kehidupan sosial yang sehat.

Related Post

Nightmare Before Married, Apakah Pernikahan Perlu ... Nightmare before married adalah istilah yang menjadi satu malam panjang sebelum melepas masa lajang, ini bukan hanya membuat wanita merasa tersiksa na...
Pernikahan Adat Atau Nasional, Ini Pertimbangan Da... Pernikahan adat memang banyak digunakan di beberapa daerah, namun kini banyak anak muda yang lebih memilih menggunakan pernikahan nasional. Dimana leb...
Susah Bangun Sahur? Ikuti Tips Mudah Bangun Sahur ... Jika setiap hari Anda mengalami kesulitan untuk bangun di pagi hari, maka akan lebih sulit bangun untuk sahur di bulan Ramadan. Dimana sahur dilakuk...
Pasangan Berbohong, Kenali Tanda-Tandanya Secara L... Pasangan berbohong, ini tentu hal yang sangat tidak Anda inginkan. Apalagi jika sudah menjalani hubungan cukup lama, bahkan akan mengarah ke jenjang y...