Sunday, September 27Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Haram Bagi Media Jepang Beritakan Hal Ini Setelah Terjadi Bencana

Haram Bagi Media Jepang Beritakan Hal Ini Setelah Terjadi Bencana

Sebuah pameo satir yang dikenal dalam dunia jurnalistik yaitu “Bad News is A Good News” terbukti kebenarannya saat ini. Ungkapan yang kira-kira artinya adalah “kabar/peristiwa buruk adalah berita baik (laris manis)”, ini tentunya merupakan dilema terutama bagi para pemburu berita. Liputan media jurnalistik, baik media cetak ataupun media televisi dalam meliput bencana seperti gempa dan tsunami di Palu sekarang ini, bisa dibilang bagai pisau bermata dua.

Disat sisi liputan media sangatlah berjasa dalam memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat dunia, mengenai apa yang terjadi dan bagaimana kondisi terkini dari lokasi bencana. Efeknya tentu adalah bagi media televisi, ratingnya akan naik dan bagi media cetak akan naik oplahnya. Selain itu liputan yang telah menyebar luas ini akan menyedot perhatian yang berperan besar dalam menggerakan simpati dari berbagai lapisan masyarakat dari berbagai penjuru dunia yang kemudian akan berlomba-lomba dalam memberikan bantuan dan simpatinya untuk para korban bencana.

Namun nyatanya di sisi lain, liputan media yang terlalu berlebihan, terkadang akan pula menimbulkan suasana mencekam, menambah teror ketakutan juga memperlarut kesedihan di seantero negeri yang terkena bencana. Apalagi ditengah bejubelnya media jurnalistik, yang seolah berlomba untuk memberikan berita terkini dan menarik perhatian penonton ataupun pembaca berita, demi meningkatkan rating penonton atau poplah pembaca.

Lalu, hal-hal yang dinilai bombastis dan dramatis akan diekspos sedemikian rupa yang lebih banyak memperlihatkan kesengsaraan para korban dengan tangisan dan cerita dramatis yang lalu diputar dan dibahas berulang-ulang. Maka dalam hal ini, kita bisa belajar dari para awak media Jepang dalam meliput bencana alam di negerinya.

Seperti halnya Indonesia, Jepang juga langganan dari gempa bumi dan tsunami, bahkan lebih sering frekuensinya. Saat ada gempa 8,9 SR pada 11 Maret 2010 yang lalu, sangat jarang kita melihat media Jepang mengeksploitasi korban dan juga keluarganya. Tak ada tayangan ataupun gambar mayat bergelimpangan. Tak ada foto close up yang menayangkan tangisan korban atau histeria kejadian. Yang mereka tayangkan di televisi hanyalah pergerakan gelombang tsunami yang dipantau dari liputan udara.

Setelah itu tak berlarut-larut dalam kesedihan, media Jepang pada keesokan harinya justru menampilkan warga yang bergotong royong untuk bangkit dari keterpurukan. Mereka menampilkan keberhasilan para tim regu penyelamat, kisah-kisah yang menginspirasi dan solusi untuk pemulihan sehingga tidak menimbulkan trauma berkepanjangan. Bagi mereka, memulihkan luka dan menimbulkan semangat untuk bangkit lebih penting ketimbang mengorek-ngorek kesedihan dan luka para korban.