Sunday, May 31Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Grace Natalie Dipolisikan Karena Dinilai Lebih Parah Dari Ahok

Grace Natalie Dipolisikan Karena Dinilai Lebih Parah Dari Ahok

Pidato dari Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yaitu Grace Natalie di ICE BSD, Tangerang, pada tanggal 11 November 2018 lalu akhirnya berujung pada laporan ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri. Dia dipolisikan oleh Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) karena diduga telah melakukan penistaan agama. Adapun di dalam pidatonya, Grace menyatakan bahwa PSI tak akan pernah mendukung peraturan daerah (Perda) yang berlandaskan pada agama. Seperti Perda Syariah dan juga Perda Injil demi mencegah terjadinya ketidakadilan, diskriminasi, dan juga seluruh tindakan intoleransi yang ada di Indonesia.

Pernyataan Grace tersebut dinilai menista agama karena bertentangan dengan sejumlah ayat yang tertuang di dalam kitab suci Alquran. Diantaranya surat An Nisa ayat 135, surat Al Maidah ayat 8, Surat Al Kafirun. “Statement itu sudah termasuk dalam unsur ungkapan rasa permusuhan, dan juga masuk ujaran kebencian kepada agama,” kata Sekretaris Jenderal PPMI Zulkhair di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta, pada hari Jumat (16/11).

Bahkan kata kuasa hukum Zulkhair, Eggi Sudjana, pernyataan Grace lebih parah dari pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Setidaknya ada tiga poin pernyataan Grace mengarah kepada penistaan agama. Yakni, menyatakan bahwa Perda menimbulkan ketidakadilan, diskriminasi, serta intoleransi. Sementara, Ahok hanya meminta masyarakat tidak mau dibohongi oleh Surat Al Maidah ayat 51.

“Menurut hemat saya ini, secara ilmu hukum hak itu lebih parah daripada Ahok. Ahok itu hanya mengatakan jangan mau dibohongi oleh Al Maidah ayat 51. Satu saja poin dia itu, nah kalau yang ini tiga poin,” tegas Eggi yang ternyata juga calon legislatif dari Partai Amanat Nasional (PAN) itu. Pernyataan Grace pun memang bertentangan dengan Surat An Nisa ayat 135. Di surat tersebut pun, Allah menekankan agar manusia tidak hanya mengikuti hawa nafsu, menyimpang dari kebenaran, dan berlaku tidak adil.

Juga bertentangan dengan surat Al Maidah ayat 8 yang menyatakan agar kebencian pada suatu kaum tidak membuat berlaku tidak adil. Terakhir, surat Al Kafirun yang menuangkan poin tentang toleransi. “Itu adalah toleransi yang paling top, kok dibilang kita ini intoleran,” kata Eggi. Lebih jauh, Eggi juga menanyakan alasan mengapa Grace hanya menyebut injil saja dan tidak berani menyebut Alquran dalam pernyataannya saat itu. Bahkan, dia mengingatkan Grace bahwa injil merupakan salah satu kitab suci yang diturunkan Allah setelah kitab Zabur dan Taurat.

Diketahui, laporan PPMI tersebut diterima Bareskrim dengan nomor: LP/B/1502/XI/2018/BARESKRIM tertanggal 16 November 2018. Grace dilaporkan berkenaan dengan dugaan pelanggaran Pasal 156A KUHP, Pasal 27 ayat (3) juncto Pasal 28 ayat (2) juncto Pasal 14 juncto Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.