Monday, October 26Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Fadli Zon Bikin Ulah Lagi Dengan Berkata Ini Pada Yusril Ihza Mahendra

Fadli Zon Bikin Ulah Lagi Dengan Berkata Ini Pada Yusril Ihza Mahendra

Fadli Zon kembali berulah lewa omongannya dengan memberikan peringatakan kepada Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) yaitu Yusril Ihza Mahendra. Dilansir TribunWow.com, hal tersebut tampak dari laman Twitter @fadlizon yang diunggah pada Sabtu (10/11/2018). Fadli Zon mengingatkan agar Yusril Ihza Mahendra tidak melupakan sejarah.

Wakil Ketua DPR RI itu menyebutkan apabila dirinya dan Prabowo Subianto turut memberikan andil dalam berdirinya Partai Bulan Bintang. “Saya ingatkan @Yusrilihza_Mhd , saya ikut lahirkan PBB dan @prabowo ikut membantu partai ini bisa hadir pada waktu itu (1998). Yang telah ikut mengajak Anda ke partai baru pada waktu itu adalah saya dan almarhum Farid Prawiranegara, putra dari Pak Sjafroeddin Prawiranegara.

Jangan lupa sejarah. Lalu kami keluar,” kata Fadli Zon. Postingan Fadli itu pun rupanya mendapat tanggapan dari mantan staf khusus Menteri ESDM yaitu Muhammad Said Didu. Said Didu mengatakan jika adiknya juga turut berperan dalam melahirkan Partai Bulan Bintang. “Adik saya pun juga ikut melahirkan PBB kala itu,” kata Said Didu.

Diketahui, sebelumnya Yusril Ihza Mahendra memberikan sejumlah kritikan kepada Prabowo Subianto. Hal itu ia lakukan setelah memutuskan untuk bergabung menjadi kuasa hukum pasangan calon capres-cawapres nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin. Yusril Ihza Mahendra sempat mempertanyakan format koalisi Adil dan Makmur milik paslon Prabowo-Sandiaga Uno.

“Jika partai-partai hanya diajak untuk berkoalisi mendukung paslon Prabowo-Sandi tanpa adanya format yang jelas, sementara pada detik yang sama pun rakyat memilih presiden dan wapres serta memilih caleg pada semua tingkatannya, maka pembagian peta dapil akan menjadi sangat penting sebagaimana yang dapat dicontoh sebagai perbandingan dari Pemilu di Malaysia yang lalu,” ujar Yusril dilansir dari Tribunnews.com.

Ia menyebutkan tidak adanya sinkronisasi dalam koalisi Prabowo dalam Pilpres dan Pemilu Legislatif 2019. “Dalam koalisi di sini, pada satu pihak anggota koalisi disuruh all out kampanyekan paslon Prabowo-Sandi, namun dalam pileg di suatu dapil sesama anggota koalisi harus saling bertempur untuk memperoleh kemenangan untuk partainya,” ucapnya.

Dirinya juga menambahkan bahwa Koalisi Adil Makmur rentan terhadap kemungkinan tidak masuk dalam ambang batas parlemen (parlementary threshold) kecuali Partai Gerindra, apabila Prabowo-Sandi menang dalam Pilpres. “Nanti yang mungkin terjadi adalah Prabowo Sandi menang Pilpres, namun dalam Pileg yang sangat diuntungkan adalah partai Gerindra, yang kemungkinan besar akan menjadi partai nomor 1 atau pun nomor 2. Partai-partai anggota koalisi yang lain bisa babak belur. Ini yang saya katakan dalam Pileg di Dapil, PBB bisa saja ‘digergaji’ oleh Gerindra,” ujarnya.

Yusril mengaku bahwa dirinya sempat mengusulkan pada Prabowo untuk merespon draf koalisi yang dirumuskan oleh sejumlah tokoh dan ulama. Namun draf tersebut dianggapnya tidak pernah direspon oleh Prabowo. “Saya sengaja menulis ini menanggapi apa yang ditulis oleh Saudara Habiburrokhman, supaya masyarakat tahu latar belakang mengapa saya pribadi berpendapat koalisi yang ingin dibangun dibawah pimpinan Partai Gerindra itu tidak jelas format dan arahnya,” pungkas Yusril.

Tanggapan Yusril ini pun kemudian dibantah oleh Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak. Dahnil mengatakan bahwa selama ini Prabowo Subianto telah menyetujui dan menandatangi pakta integritas yang diajukan ulama. “Ijtima Ulama mendaulat Pak Prabowo sebagai calon presiden dan beliau menandatangani dan setuju semua draft yang diajukan, termasuk untuk melindungi semua warga negara Indonesia untuk hidup saling merawat toleransi,” terangnya dilansir dari Tribunnews.com, Kamis (8/11/2018).

Ia pun mengatakan bahwa selama ini Prabowo selalu merespon usulan dari Ijtima Ulama. Sebaliknya ia justru mempertanyakan bagian mana yang menurut Yusril tidak direspon oleh Prabowo. “Jadi bagian mana yang tidak direspon? Apakah bagian permintaan Pak Yusril? Atau bagian mana?,” tanya Dahnil.