Tuesday, June 2Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Driver Grab Yang Kecewa Pindah Haluan Ke Gojek

Driver Grab Yang Kecewa Pindah Haluan Ke Gojek

Ratusan pengemudi Grab memadati kantor Gojek di Jalan Kemang Timur Nomor 21, Jakarta Selatan. Salah seorang pengemudi Yoyo (37) mengatakan bahwa tujuan mereka ke kantor Gojek untuk mendaftar sebagai pengemudi Gojek dengan membuka akun baru. “Capek mbak, kita demo beberapa kali tidak pernah didengarkan sama Grab. Nah, kebetulan kemarin Gojek menawarkan boleh buka 2 akun, jadi ya kita mau coba pakai Gojek juga,” ungkapnya kepada Tirto di depan Kantor Gojek, Jumat (16/11/2018).

Yoyo bercerita bahwa kebijakan yang dilakukan Grab tidak menguntungkan bagi para driver, khususnya tentang skema insentif yang diterima setiap harinya. “Dari yang tadinya seimbang antara keuntungan Grab dengan mitra kerja, namun lama kelamaan lebih banyak menguntungkan kantor,” ujarnya. Hal serupa juga dilakukan oleh Muhammad Ridwan (21), ia menyampaikan bahwa perbedaan pendapatan dari para pengemudi Grab jauh berbeda dengan para pengemudi Gojek.

“Perbedaan insentif beda, sama harga jauh. Pengemudi Gojek penghasilannya bisa mencapai 300 ribu, sedangkan pengemudi] Grab hanya 150,” tuturnya. Selain itu pula, Ridwan mengeluhkan bahwa Grab sering mengubah aturan insentif dan nilai potongan secara sepihak. Pengemudi Grab lainnya yaitu Armen (27) juga merasakan bahwa tarif yang ditetapkan oleh Grab sekarang ini sudah tidak lagi ramah bagi para pengemudi.

“Paling kelihatan itu kalau Grab Food, tarif jauh dekat cuma Rp4.000, kalau Go Food kan tetap sesuai kilometer,” tuturnya. Ketiga driver grab tersebut mengaku selama ini Grab menetapkan aturan pemotongan saldo 20% setiap mengangkut penumpang. Selain pada pemotongan saldo, mereka pun juga memberikan potongan 20% terhadap jaminan argo yang telah ditetapkan. Kebijakan tersebut dianggap telah merugikan karena pihak Grab sendiri memberlakukan kesetaraan potongan dalam perjalanan dengan jarak jauh maupun dekat.

“Kalau Gojek itu jika kita saldonya habis maka masih bisa narik, jadi saldo masih bisa minus. Berbeda sama Grab, saldonya kurang dari Rp10.000 maka kita sudah tidak bisa menerima orderan,” ungkap Armen. Semoga permasalahan transportasi online bisa cepat menemukan titik terang karena sejatinya transportasi model ini sangat menguntungkan para pengguna dan juga para driver. Namun sayangnya peraturannya belum jelas dari dinas yang terkait terhadap transportasi online ini.