Monday, September 28Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

China Siap Luncurkan Bulan Buatan Yang Delapan Kali Lebih Terang Dari Aslinya

China Siap Luncurkan Bulan Buatan Yang Delapan Kali Lebih Terang Dari Aslinya

Apa pun sepertinya bisa dibuat replikanya di Cina. Bagaimana dengan bulan made in China? Bukan hanya sekadar selorohan, di tahun 2020 sepertinya Negeri Tirai Bambu akan memiliki bulan buatan alias moon made in China. How? Dikutip dari portal berita luar negeri kemarin, kota Chengdu berencana untuk meluncurkan satelit iluminasi yang mampu menerangi kota layaknya bulan. Proyek yang direncanakan pada tahun 2020 itu disebut akan memiliki efek cahaya yang delapan kali lebih terang daripada bulan. Demikian laporan People’s Daily mengenai rencana yang terinspirasi seniman Perancis tentang “cermin yang menerangi Bumi”.

Kepala Chengdu Aerospace Science and Technology Microelectronics System Research Institute Co Ltd yaitu Wu Chunfend mengungkapkan adanya rencana ini pada even yang diadakan belum lama ini. Menurut dirinya bulan buatan ini akan mampu melengkapi bulan asli dan akan sangat mungkin menggantikan lampu penerangan jalan konvensional yang telah ada.

Secara teknis bulan buatan dipercaya akan mampu menerangi area dengan lebar mencapai 10 – 80 km. Meski terdengar tak masuk akal, Wu mengatakan pihaknya telah mengembangkan teknologi yang diperlukan dan kini teknologi dimaksud semakin siap diimplementasikan. Meski optimistis keberhasilan proyek ini masih harus dibuktikan.

Menanggapi bulan buatan yang ada di Chengdu ini komentar pun bermunculan, termasuk dari mereka yang cukup skeptis. Ada juga yang khawatir jika bulan artifisial ini akan mengganggu observasi astronomi dan juga hewan. Namun Direktur The Institute of Optics, School of Aerospace Harbin Institute of Technology yaitu Kang Weimin menyebutkan jika cahaya dari bulan made in China ini tidak akan terlalu terang, melainkan hanya setara “cahaya senja”.

Dan ternyata apa yang dilakukan di Chengdu ini bukan percobaan pertama. Faktanya sejumlah upaya menghasilkan cahaya buatan dari langit selama ini berakhir dengan kegagalan. Tahun lalu saja misalnya tim Rusia telah meluncurkan apa yang diyakini sebagai “objek paling bercahaya” setelah bulan sebenarnya. Sumber cahaya yang dimaksud satelit Mayak itu diluncurkan dari Baikonur pada tanggal 14 Juli 2017 menggunakan roket Soyuz 2.1a. Menyusul adanya misi ini maka protes datang dari kalangan astronom yang juga menekankan pentingnya mempertahankan gelap saat di malam hari.

Beberapa minggu setelah dilakukan peluncuran, para ilmuwan serta astronom amatir kemudian akan melacaknya. Namun tak lama rilis resmi menyebut proyek ini berakhir tak seperti yang diharapkan. Banyak peneliti meyakini bulan terbentuk setelah Bumi bertabrakan dengan planet berukuran setara Mars miliaran tahun lalu. Hipotesis giant impact (dampak raksasa) menyebut bulan merupakan serpihan dari tabrakan sekitar 4,5 miliar tahun lalu.Tabrakan ini dikenal juga dengan Theia, dinamai seperti ibu Selene, dewi bulan dalam mitos Yunani.

Namun sampai sekarang tidak ada yang tahu secara pasti, menyusul temuan para astronot Apollo yang membawa sampel dari bulan. Hasilnya sampel tadi memiliki kesamaan komposisi dengan Bumi. Beragam teori pun muncul mengenai alasan mengapa bulan dan Bumi memiliki elemen yang mirip. Bisa jadi tabrakan akan memicu bercampurnya serpihan termasuk serpihan dari Bumi yang kemudian terkondensasi pada permukaan Bulan atau efek Theia yang secara kebetulan memiliki elemen kimiawi yang memang sama. Kemungkinan ketiga bulan sepenuhnya terbentuk dari material Bumi.

China pun sedang berusaha menciptakan ‘bulan buatan’ yang mampu menggantikan fungsi lampu jalanan di kota Chengdu. Wu menuturkan jika pengujian telah dimulai sejak beberapa tahun lalu sehingga dimungkinkan akan diluncurkan pada tahun 2020. Belum jelas apakah rencana tersebut sudah disetujui pemerintah setempat atau pusat.

Pada tahun1990-an, sempat ada kabar serupa di mana tim astronom dan insinyur Rusia berhasil meluncurkan satelit ke ruang angkasa. Satelit tersebut ditujukan untuk membelokkan sinar matahari kembali ke bumi guna menerangi belahan bumi yang berada pada waktu malam hari. Pada tahun 1999, sempat ada percobaan Znamya 2.5 yang malah mengkhawatirkan lantaran dilaporkan dapat menyebabkan polusi cahaya. Polusi cahaya tersebut dapat mengganggu kehidupan hewan malam dan pengamatan astronomi.