Wednesday, June 3Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Cesc Fabregas, Pemain Yang Menjadi Korban Revolusi Sepakbola

Cesc Fabregas, Pemain Yang Menjadi Korban Revolusi Sepakbola

Dalam dunia sepakbola, tak butuh waktu lama untuk mengubah persepsi tentang sesuatu. Kita bisa melihat apa yang terjadi pada lini tengah Chelsea, misalnya. Pada awal musim, area itu terlihat seperti perpaduan yang dipaksakan antara pemain-pemain yang luar biasa dan pemain-pemain setengah jadi: kedatangan Jorginho memberikan dampak yang baik, tetapi hal itu mengubah posisi pemain terbaik tim sebelumnya, N’Golo Kante. Ross Barkley, pemain yang memiliki prospek cemerlang lima tahun lalu, jarang sekali terlihat di lapangan sejak bergabung dengan klub Januari lalu, sementara pemain muda penuh prospek mereka, Ruben Loftus-Cheek akan semakin sulit bersaing dengan kedatangan Mateo Kovacic, perekrutan yang bisa dibilang mewah tapi sebenarnya tidak perlu.

Singkatnya, ketika berbicara tentang gelandang – dan terutama gelandang-gelandang kreatif – Chelsea tidak akan kehabisan pilihan saat ini. Dan anehnya, kita bahkan belum menyebutkan pemain dengan status kreativitas tertinggi di tim ini. Dia dimainkan dalam peran Jorginho di lini tengah tetapi tidak memiliki naluri cepat untuk memberi dan mengambil kembali bola untuk rekan satu timnya, posisi yang sangat penting dalam sistem Sarri.

Tentu saja ini aneh, apalagi jika kita ingat kembali bahwa ia adalah seorang pemain yang sudah lama disebut-sebut sebagai pewaris takhta Xavi. Ada beberapa kekurangan dalam permainan Fabregas selama bertahun-tahun, tetapi ketidak mampuan bermain sepak bola cepat belum pernah menjadi salah satu alasan tersebut. Mungkin ini bisa dimaklumi untuk pemain yang musim ini kebanyakan bermain di pertandingan musim pada kompetisi lapis kedua.

Tetapi mungkin itu juga sesuatu yang lain; ada hubungannya dengan arah di mana sepakbola tingkat elit sedang menuju; bagaimana tren taktis menciptakan lebih banyak game kelas berat yang dimainkan pada tempo yang jauh lebih cepat. Bagaimanapun juga, Fabregas adalah pemain yang selalu lebih suka melakukan hal-hal dengan kecepatan yang lebih lamban – terutama karena ia tidak memiliki kecepatan untuk melakukannya.

Lihatlah pada klub-klub lain di liga dan Anda akan melihat perubahan model untuk gelandang elit: terampil, tangguh, dan dengan kaki yang selalu berputar. Contohnya gelandang-gelandang pada tim-tim yang berada di puncak klasemen: Fernandinho, Kevin De Bruyne, dan Lucas Torreira telah memantapkan diri mereka sebagai bagian integral dari timnya dengan menggabungkan permainan kepemilikan yang apik dengan kemampuan untuk berlari.

Di Spurs, Harry Winks dengan cepat membuat dirinya sebagai pelari dan passer kepercayaan Mauricio Pochettino – deskripsi yang cukup cocok untuk ketujuh opsi lini tengah di tim Jurgen Klopp. Lebih jauh ke bawah, Idrissa Gueye, Ruben Neves dan Lewis Cook juga bisa menjadi contoh lain untuk gaya bermain tersebut. Gaya bermain ini juga lah yang dimiliki oleh para pesaing Fabregas dalam starting XI Chelsea.

Zaman telah berubah. Kurang dari dua dekade sejak ‘sibuk’ mulai terkenal setelah digunakan Jaap Stam sebagai penghibur, dan hampir tepat 15 tahun sejak Fabregas remaja membuat debutnya yang sangat digembar-gemborkan untuk Arsenal ketika disebut-sebut sebagai gelandang masa depan: pemain yang memiliki sentuhan dan teknik melampaui darah, keringat dan air mata.

Untuk waktu yang lama itulah gaya bermain yang dimilikinya. Di suatu negara yang pernah berpegang pada gelandang yang serba bisa, Fabregas – pemain yang biasa mondar-mandir di lapangan dan sebagian besar berusaha menghindari pertempuran – dengan cepat membuktikan dirinya sebagai salah satu pilihan utama dalam posisi di tim dengan pemikirannya yang cepat dan passing yang tajam.

Di liga di mana kontak fisik diawasi lebih ketat, teknisi sepakbola menuai hasilnya. Dalam beberapa tahun dari debut Fabregas di Arsenal, Roy Keane dan Patrick Vieira mengakhiri karirnya dari sepakbola Inggris, Steven Gerrard digeser keluar oleh manajer yang berniat mengontrol lini tengah dan, di bawah pelatih lain yang berpikiran serupa, Claude Makelele yang kurang dikenal menjadi gelandang paling berpengaruh di liga.

Pemain-pemain terkemuka Eropa sepanjang setengah dekade berikutnya termasuk Deco, Xavi, Andres Iniesta, Xabi Alonso, Paul Scholes, Andrea Pirlo – dan Fabregas sendiri. Langkahnya yang lama untuk pindah ke Barcelona, ia datang saat Xavi mulai menuju masa pensiun, seharusnya menjadi penobatannya. Fabregas kembali ke klub masa kecilnya, di bawah pelatih yang terobsesi dengan perasaan gelisah yang dengan cepat menghentikan kebusukan rejim lama dan akan tahu persis bagaimana cara terbaik untuk menyebarkan passing halusnya.

Tujuh tahun kemudian, dan situasinya sekarang seperti ini: Fabregas yang berusia 31 tahun mendekam di bangku cadangan Chelsea, bukan pula pilihan utama di bangku cadangan oleh salah satu pelatih paling progresif di dunia – adalah bukti bagaimana sepakbola dapat berevolusi dengan kecepatan dan kejam.

Munculnya istilah gegenpressing sebagai pendekatan taktis yang paling unggul sekarang ini, yang merupakan respons terhadap MO ball-hogging di akhir-akhir noughties milik Spanyol dan Barcelona – dengan semua atletisme eksplosif yang ditimbulkannya, tak baik bagi Fabregas. Ia juga tidak dibantu dengan kenyataan bahwa manajernya adalah salah satu pendukung utama gaya itu, dan seseorang yang telah mendorong gaya ini menjadi lebih energik.

Agak kejam, kita sekarang berada di tahap di mana ketegasan otot Barkley atau kerja keras Kante yang tak kenal lelah lebih baik daripada permainan halus ala Cesc, terlepas dari fakta bahwa tak satu pun dari para pemain itu – dalam istilah yang murni teknis – tak bisa menggantikan tempat pemain Spanyol itu.

Tentu saja itu terasa lebih lama dari empat tahun yang lalu saat dia dibawa kembali ke Inggris oleh Jose Mourinho dan dipasang sebagai detak jantung tim dan menyerbu gelar liga dengan semacam keangkuhan yang biasanya membawa era baru. Sebaliknya, musim yang berkilauan itu berdiri sebagai puncak terakhir dalam karier seorang gelandang yang masa jayanya berlalu dengan cepat: ia agak dikesampingkan dalam sistem intensitas tinggi Antonio Conte; pendahulu untuk rezim saat ini.

Tak satu pun alasan ini mengatakan bahwa karier Fabregas di tingkat atas – atau bahkan di Chelsea – sudah berakhir, tapi, ini menjadi tanda-tanda bisa jadi tanda-tanda akhir perjalanannya. Dan bagi kita yang suka menonton sepakbola dimainkan dengan kecerdasan dan gebrakan baru, pemandangan yang memperlihatkan ia hanya jadi penghias bangku cadangan merupakan hal yang menyedihkan.