Wednesday, June 3Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Candu Hypebeast Yang Mulai Bertebaran Di Kalangan Remaja Kota

Candu Hypebeast Yang Mulai Bertebaran Di Kalangan Remaja Kota

“Gue pakai barang mahal karena gue memang mampu, bukan karena harus. That’s the difference. Jadi kalau ada orang tanya, ‘Kenapa gue mesti beli brand-brand seperti itu?’ Karena gue memang mampu, Bos! Dan gue memang suka.” Itulah berbusana untuk Vellen Roeslan, pemuda 28 tahun penggila streetwear―pakaian jalanan dengan merek yang berkelas. Ia seorang hypebeast. Untuknya, berbusana itu tak bisa asal-asalan, gaya butuh biaya yang besar.

Tren hypebeast telah masuk ke Indonesia. Beragam merek mahal nan terkenal seperti Supreme asal Amerika Serikat, A Bathing Ape (BAPE) asal Jepang, Off-White asal Italia, dan yang lain-lain, tengah digandrungi oleh anak-anak muda.  Vellen termasuk perintis hypebeast di jalanan Jakarta. Ia mulai menyimpan keinginan berpakaian ala hypebeast sejak SD, saat matanya rutin menonton MTV. Penampilan seorang rapper asal Amerika Serikat menyihirnya untuk berpakaian yang sama.

“Gue suka. Terus ketika suka, otomatis gue melihat cara mereka berdandan dan memakai barang. That’s why gue selalu bilang, gue sudah pakai celana Phat Farm, Man! Itu adalah celana super gombrong, Man. Itu celana yang kalau lu pakai sudah kayak sarung,” tuturnya dengan nada khas anak hypebeast ketika berbincang dengan kumparan di rumahnya, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Kamis (15/11).

Keinginan berpakaian ala rapper diwujudkan Vellen dengan mudah. Keluarganya mapan. Orang tua Vellen adalah pengelola bisnis kosmetik besar yang ada di Indonesia. Ia sedari kecil sudah memakai sepatu merek Supra yang pada 2000-an awal memang menjadi streetwear mewah. Tapi tak semua keinginan Vellen sekejap terkabul. Sepatu Adidas dengan jenis Stan Smith dan juga Superstar yang ia idamkan, tidak pernah mampir ke kakinya. Padahal ujarnya Barang itu menurut gue original, tidak bisa dilewatkan.”

Tak hanya sepatu, apparel atau busana seperti baju, rantai, hingga penutup kepala ala do-rag ia kenakan ketika berkumpul di klub Bliss―perkumpulan penggila rapper di Menara Jamsostek, Jakarta. Namun Bliss kemudian bubar, dan Vellen bosan karena tak punya rekan sehobi saat menginjak usia 17 tahun.

Hasrat Vellen untuk memakai streetwear kembali mengemuka pada 2015. Sang adik yang mengenalkannya pada hypebeast melalui sneakers atau pun sepatu kets Nike dengan seri Air Jordan. Namun ia tak dapat membeli sepatu itu karena uangnya terlanjur dikuras untuk pesta. “Jadi duit gue kebanyakan buat party, buat minum. Ya, namanya dulu masih muda. Saat itu adik gue yang mulai (bergaya hypebeast) terlebih dahulu. Tapi sekarang gue lebih gila dari adik gue,” ceritanya.

Koleksi adik lantas menjadi bekal Vellen. Ia telah membeli sepatu-sepatu adiknya, seperti Nike Air Jordan Infrared dan juga Nike Air Jordan 7.  Nafsu belanja sneakers Vellen terus berkembang. Ia pun sampai belanja ke luar negeri, dan juga cakrawala soal produsen sneakers dan barang hypebeast-nya telah berkembang.

Vellen telah mempelajari rantai produsen hypebeast, seperti kolaborasi antara Nike dan juga Virgil Abloh serta Yeezy. Ia pun sempat menjadi reseller barang-barang hypebeast pada 2015. “Terus semua beramai-ramai menjadi reseller. Pada awalnya mereka hanya berpikir, gue itu personal cari barang ke Amerika Serikat. Gue ambil barang Rp 4 juta di AS, gue jual Rp 7 juta, cuan (untung), kan,” kata Vellen.

Belanja sneakers Vellen pun terus berkembang hingga akhirnya ia berkenalan dengan hypebeast yang mencakup semua streetwear. Saat itu, berbagai merek streetwear terkenal yang identik dengan hypebeast seperti Off White dan bahkan Stone Island asal Italia, Anti Social Social Club (ASSC) asal AS (yang kini berkolaborasi dengan BAPE), Palace asal Inggris, pun mulai merebak.

Vellen telah membeli hoodie pertama setelah melihat video klip di YouTube. Hoodie dengan merek BAPE yang ia tonton dapat ditutup dengan ritsleting hingga sampai kepala itu ia beli dengan harga Rp 2-3 juta. Tetapi ketika barang itu ia pamerkan di Instagram, caci maki ia dapat. Itu tak melunturkan niat Vellen menjadi hypebeast. Kini, ia telah memiliki 60-an koleksi sneakers dan juga beberapa apparel. Tentu saja harga dari barang-barang itu tidak murah, pun saat ia menyempatkan diri berbelanja ke Hong Kong sesekali atau dua kali setahun hanya demi belanja.

“Karena Hong Kong itu menurut gue surga belanja. Tempatnya bagus, harganya juga oke,” kata dia. Rutinitas Vellen dalam berbelanja barang-barang hypebeast terus tumbuh karena ia memang memiliki rekan. Pada tahun 2017, ia pun membuat acara bagi sesama hypebeast, yakni Urban Sneaker Society (USS) bentukan dari YouTuber Jeffry Jouw yang akrab disapa dengan Je Jouw.

Je Jouw sendiri seorang perintis hypebeast di Indonesia. Ia mulai mengenal dunia itu sejak studi di Amerika Serikat. Sekitar tahun 2011 hingga 2012, Je Jouw telah melihat antrean raffle (undian) untuk membeli barang di AS. Setelah ia mencari tahu, antrean itu ternyata untuk memperebutkan barang hypebeast terkenal.  Dia pun ikut kena sihir hypebeast, dan juga melanjutkan kegemarannya itu setelah pulang ke tanah air.

Soal belanja, Je Jouw juga sama gilanya dengan Vellen. Ia bahkan sempat membeli hoodie Supreme x LV seharga Rp 45 juta. Ia juga memiliki koleksi sneakers sebanyak 30-an. “Apalagi dulu gue belum married. Sekarang sudah married, punya anak, sudah mikir. Kalo dulu mah nggak mikir. Gila banget, dalam sehari ia bisa beli 4-5 sepatu,” kata Je Jouw saat berbincang dengan kumparan di Kemang, Jakarta Selatan, hari Rabu (21/11).

Setelah menikah, Je Jouw memang membatasi nafsu belanja atas kawalan sang istri, Yenni Kristiani, yang menjatah anggaran maksimal Rp 10 juta sekali belanja.  Menurut Je Jouw, salah satu sebab orang memilih produk mahal adalah soal kenyamanan. Namun, menurut penjelasannya, kualitas produk-produk dalam negeri saat ini sudah mulai menyaingi produk hypebeast dari luar negeri. Oleh sebab itu ia tengah mendorong orang untuk belanja produk lokal.

Tidak melulu kekayaan yang akan membuat orang suka membeli barang hypebeast. Pekerja media, Arman Dhani, juga menggandrungi sneakers karena dendam pada masa kecil. Ia berasal dari keluarga pas-pasan dan waktu itu tak mampu membeli sepatu bagus. Ketika sudah bekerja, Dhani akhirnya bisa membeli sneakers walau harus memangkas gajinya sendiri.

“Itu balas dendam. Kayak, bagaimana sih perasaan lu kalau dulu lu pengin punya sesuatu tapi nggak mampu. Sekarang ia bekerja, menabung, terus bisa mendapatkan hal yang dari hasil kerja lu sendiri. Itu bangganya luar biasa,” ucap Dhani di Pasar Santa, Jakarta Selatan. Pengamat fesyen yaitu Syahmedi Dean pun mengatakan hypebeast memang merambat cepat dalam dua tahun belakangan. Harga busana yang cukup identik dengan hypebeast pun meroket karena produsen high-end merambah ke streetwear. Padahal dulu saat streetwear diproduksi masal, tak ada klasifikasi level atas maupun bawah untuk busana jenis itu.