Thursday, April 18Ulasandunia | Kumpulan Cerita Seputar Informasi Dunia

Buka Layanan Plus-plus, Panti Pijat di Surabaya Digerebek polisi

panti pijat plus-plus

Ditutupnya Dolly yang merupakan lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara, ternyata tidak membuat prostitusi brenar-benar lenyap dari Kota Surabaya. Dengan sembunyi-sembunyi dan menggunakan berbagai kedok, masih banyak oknum-oknum yang menjalankan bisnis prostitusi, salah satu diantaranya adalah sebuah panti pijat plus-plus berkedok panti pijat tradisional yang menempati sebuah ruko di Surabaya.

Di ruko yang beralamat di Barata Jaya 59 Blok B-16, Kecamatan Gubeng ini, pihak pengelola menyediakan layanan pijat tradisional dengan tarif mulai dari Rp.100.000 hingga Rp.500.000. Tarif termurah hanya diberikan kepada pengunjung yang ingin mendapatkan layanan pijat biasa, sedang tarif yang lebih mahal untuk mereka yang ingin menikmati layanan pijat plus-plus.

Uniknya, para terapis sebanyak 14 orang yang ada di panti pijat tersebut, dipajang dengan ditempatkan di sebuah ruang berkaca, sehingga tidak ubahnya seperti sebuah tempat prostitusi.

Baca juga: Perkosa Gadis di Depan Pacarnya, Hanya Karena Terganggu Saat Bermain Game

Praktek illegal yang dilakukan oleh panti pijat tradisional ini, akhirnya digrebeg polisi pada 17/09/2018. Sebanyak 14 terapis dan seorang mucikari yang berusia 59 tahun  diamankan oleh pihak yang berwajib, setelah mendapatkan sejumlah barang bukti dan saksi yang cukup.

“Dalam penggerebegan yang kami lakukan, ditemukan sejumlah barang bukti, diantaranya adalah puluhan kondom, termasuk etalase atau ruang berkaca yang digunakan untuk memajang para terapis. Selain itu, kami juga memiliki sejumlah saksi yang mengatakan bahwa panti pijat ini juga digunakan untuk praktek prostitusi,” ungkap AKP Ruth Yeni, Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, Polrestabes Surabaya.

Dalam penggerebegan tersebut, selain 14 terapis juga diamankan dan saat ini telah mendekam di tahanan seorang perempuan berusia 59 tahun yang diduga sebagai pemilik lokasi sekaligus mucikari.

Menurut Ruth Yeni, tersangka yang menjalankan prostitusi illegal berkedok panti pijat tradisional tersebut dijerat dengan pasal 296 KUHP dan 506 KUHP serta pasal 2 UU RI nomor 21 tahun 2017 tentang tindak pidana perdagangan orang.

One Comment

Comments are closed.